Parcel dari Allah

•July 29, 2013 • Leave a Comment

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu
apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (Q.S. Al-Qadr [97]:1-5).
Malam kemuliaan yang dimaksud adalah lailatulkadar yang merupakan ”parsel/bingkisan” dari Allah
untuk hamba-Nya yang lulus menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Bingkisan itu berupa paket usia
yang mampu menembus dimensi waktu. Usia manusia dulu sampai kini akan bertemu di malam
lailatulkadar ini.
Allah telah memilih Ramadan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebut di dalam Alquran.
”Beberapa hari yang ditentukan itu (ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (Q.S. Al-Baqoroh [2]:185).
Kejadian-kejadian penting terjadi pada bulan Ramadan, yaitu diturunkannya kitab suci Alquran,
diturunkannya kitab-kitab suci sebelum Alqutan, terjadinya Perang Badr, terbukanya kota Mekah
(fathul Makkah ), pelaksanaan puasa dan pemindahan arah kiblat, dan bulan yang dipilih Allah untuk
turunnya keutamaan lailatulkadar.
Selama bulan Ramadan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yakni lailatulkadar, satu malam
yang lebih berharga dari seribu bulan. Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan? Umat
terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1.000 tahun bahkan
ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan umat dahulu ada yang belum mencapai usia balig (cukup
umur) hingga usia 80 tahun.
Sebuah riwayat menjelaskan ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun. Serentak
banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda.
Juga diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah
memerintahkan untuk melakukannya. Umat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti Nabi
Nuh AS yang berusia lebih dari 1.000 tahun, Luqman bin Ka’ab berumur 400 tahun, dan Ash-habul
Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.
Rasulullah SAW ketika merasakan bahwa usia umatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia
umat sebelumnya kemudian memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia umat
Islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk memperbanyak ketaatan kepada-
Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari doa Nabi SAW inilah lalu Allah SWT
menganugerahkan kepada Nabi dan umat Islam suatu malam yang disebut lailatulkadar yang nilai
kebaikannya setara dengan 1.000 bulan.
Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan roh dari terbenamnya
matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa. Semalam setara seribu
bulan, artinya 1 malam=1.000 bulan=30.000 malam=300.000 jam=18.000.000 menit=1.080.000.000
detik, atau 1 malam=83 tahun 4 bulan.
Allah menjelaskan para malaikat dan roh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar
semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar. Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi
cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi karena untuk
berpindah dimensi, dalam teori kuantum malaikat berarti melintasi cermin CP (C= charge conjugation ,
penolakan muatan, dan P= parity , keseimbangan) dan memperlambat kecepatannya (kecepatan
cahaya) mendekati kecepatan partikel.
Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh sehingga tidak
mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang lebih dingin daripada setan
yang tercipta dari netrino panas. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/detik.
Pada malam lailatulkadar, bermiliar malaikat turun ke bumi. Malaikat yang mampu menembus dimensi
manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal
sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Inilah rahasia
mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam lailatulkadar pada bulan
suci Ramadan ini.
Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertakarub kepada-Nya,
di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari
tidak bersinar sehingga manusia tidak akan mampu melihat apa pun kecuali dengan mata hati/
batinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba Allah yang khusyuk untuk mengoptimalkan potensi
rohaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain–mendekat kepada
Allah sedekat-dekatnya.
Semalam=1.000 Bulan
Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah lailatulkadar. Kita ambil
contoh, bila Fulan telah berusia 30 tahun ia telah menjalankan ibadah Ramadan semenjak usia 15
tahun, berarti ia telah menjumpai lailatulkadar 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniai
lailatulkadar oleh Allah 12 kali saja (yang tiga tahun selebihnya bolong-bolong), saat ini Fulan tadi
tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan lailatulkadar sebagai
berikut: U=Ui+(n x 83,4). Di mana U=usia Fulan yang mendapatkan lailatulkadar (tahun). Ui=usia
Fulan mula-mula (tahun). Sedangkan n=orde lailatulkadar (tanpa satuan). Bilangan 83,4=83 tahun
sisa empat bulan.
Jadi usia Fulan saat ini adalah: U=30+(12 x 83,4) tahun=30 tahun+(996 tahun+48 bulan)=30 tahun
+996 tahun+4 tahun=1.030 tahun. Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua
di planet Bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara Fulan telah 1.000 tahun lebih. Dan dengan
analogi demikian, usia hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun.
Dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan lailatulkadar, maka usia-U kita akan
semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun empat bulan.
Berapakah usia-U anda selepas Ramadan 1434 H ini? Jawabnya adalah mengetahui berapa orde
lailatulkadar, yakni dua faktor berikut. Pertama, istikamah menjalankan amalan Ramadan
secara imaniah-ihtisaabiah . Kedua , amalan selama Ramadan 1434 ini membekas dengan
meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca-Ramadan. Sabda Rasulullah: Sebaik-baik kamu
adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya (H.R. Tirmidzi). Semoga kita mendapat
parsel Lebaran lailatulkadar tahun ini. Amin…
~~~
Sumber: SoloPos, edisi Jum’at Legi 26 Juli 2013
(http://www.solopos.com/2013/07/26/gagasan-parsel-dari-allah-431053 )
Continue reading ‘Parcel dari Allah’

I ’tikaf Demi Raih Lailatul Qadar

•July 27, 2013 • Leave a Comment

Kita telah mengetahui bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan punya keistimewaan
dibanding malam-malam lainnya. Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
Allah Ta’ala berfirman,

ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ (1) ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﺍﻙَ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ (2) ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ (3) ﺗَﻨَﺰَّﻝُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ
ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺃَﻣْﺮٍ (4) ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻫِﻲَ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﻄْﻠَﻊِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-
malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).
Mujahid mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan, yaitu untuk amalan, puasa,
dan shalat malam yang dilakukan ketika itu lebih baik dari seribu bulan.
Mengenai i’tikaf yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits
‘Aisyah berikut ini, di mana beliau berkata,

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻌْﺘَﻜِﻒُ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮَ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮَ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻮَﻓَّﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ، ﺛُﻢَّ ﺍﻋْﺘَﻜَﻒَ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻪُ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan,
hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat. ” (HR.
Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).
Dari Abu Hurairah, ia berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳَﻌْﺘَﻜِﻒُ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻋَﺸْﺮَﺓَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻌَﺎﻡُ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻗُﺒِﺾَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻋْﺘَﻜَﻒَ ﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ
ﻳَﻮْﻣًﺎ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan i’tikaf di bulan Ramadhan selama sepuluh hari.
Namun di tahun beliau diwafatkan, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044).
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf
di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk meraih lailatul qadar. Beliau ingin mengasingkan diri dari
berbagai kesibukan dengan melakukan i’tikaf. Dengan menyendiri akan lebih berkonsentrasi dalam dzikir
dan do’a. Dan beliau pun benar-benar menjauh dari manusia kala itu.”
Imam Ahmad sampai berpendapat bahwa orang yang beri’tikaf tidak dianjurkan bergaul dengan orang-
orang sampai pun untuk tujuan mengajari ilmu atau membaca Al Qur’an. Imam Ahmad katakan bahwa
yang lebih baik adalah menyendiri dan mengasingkan diri dari orang banyak untuk bermunajat pada Allah,
serta berdzikir dan berdo’a. I’tikaf ini bermaksud menyendiri yang disyari’atkan dan hanya dilakukan di
masjid. I’tikaf di masjid dilakukan agar tidak ketinggalan shalat Jum’at dan jama’ah. Namun kalau
mengasingkan diri dengan tujuan supaya luput dari shalat Jum’at dan shalat jama’ah, maka jelas
terlarang.
Ibnu ‘Abbas pernah ditanya mengenai seseorang yang puasa di siang hari dan mendirikan shalat malam
lalu tidak menghadiri shalat Jum’at maupun shalat berjama’ah. Jawaban Ibnu ‘Abbas, “Ia di neraka.”
Menyendiri yang disyari’atkan adalah dilakukan di masjid, terkhusus di bulan Ramadhan, terkhusus lagi di
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan.
Demikian ringkasan dari penjelasan Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif , hal. 338.
Semoga kita dimudahkan untuk meraih malam seribu bulan, dan moga juga kita dimudahkan untuk
melakukan i’tikaf.
Referensi:
Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif , Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al
Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Disusun di malam hari, 17 Ramadhan 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang,
Gunungkidul, D. I. Yogyakarta
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Pondok Modern Darussalam Gontor

•July 28, 2012 • 4 Comments

Sejarah

Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di PonorogoJawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasy yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.

Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem watonan(massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memilikiTarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu’alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh-tokoh alumni pesantren dan tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang Pimpinan Pondok(Kyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH Imam Zarkasy)dan KH Syamsul Hadi Abdan,S.Ag. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri).

Pada saat peristiwa Madiun tahun 1948 saat Muso telah menguasai daerah Karesidenan Madiun (Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi) dan membunuhi banyak tokoh agama, dimana pada saat itu TNI sudah dilumpuhkan oleh PKI, Pesantren Gontor diliburkan dan santri serta ustadnya hijrah guna menghindar dari kejaran pasukan Muso. KH Ahmad Sahal(alm) selamat dalam persembunyian di sebuah Gua di pegunungan daerah Mlarak. Gua tersebut kini disebut dengan Gua Ahmad Sahal. Kegiatan Pendidikan Pesantren dilanjutkan kembali setelah kondisi normal.

Pandangan Modern KH Ahmad Sahal, sebagai Pendiri tertua dari Trimurti dan kedua adiknya yaitu KH Zainudin Fanani dan KH Imam Zarkasy diwujudkan pula dalam menyekolahkan putra-putrinya selain di sekolah agama (pesantren) juga di sekolah umum. Drs. H. Ali Syaifullah Sahal (alm) alumni Filsafat UGM dan sebuah Universitas di Australia, dosen di IKIP Malang; Dra. Hj. Rukayah Sahal dosen IKIP (UMJ) Jakarta dll.

Dan tentu menjadi bahan pemikiran anggota Badan Wakaf saat ini, untuk mewujudkan Pesantren Gontor menjadi semacam Universitas Al Azhar di Mesir, sebuah universitas yang memiliki berbagai bidang kajian (Agama serta Ilmu dan Teknologi) yang berbasiskan Islam.

Pada tahun 1994 didirikan pondok khusus putri untuk tingkat KMI dan pendidikan tinggi yang khusus menerima alumni KMI. Pondok khusus putri ini menempati tanah wakaf seluas 187 hektar. Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan MantinganKabupaten Ngawi,Jawa Timur. Kini, pondok khusus putri memiliki lima cabang, tiga cabang berlokasi di Ngawi, satu cabang di Sulawesi Tenggara dan satu di Kediri.

Hingga kini gontor telah memiliki 17 cabang yang terdiri dari 13 kampus di seluruh Indonesia dan santri/ santriwatinya mencapai 14.273 orang. Tidak seperti pesantren pada umumnya, para pengajarnya pun berdasi dan bercelana panjang pantalon.

 

Kulliyatul-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI)

Adalah jenjang pendidikan menengah di Pondok Gontor yang setara dengan SMP dan SMA. Masa belajar dapat diselesaikan dengan empat tahun dan/atau enam tahun

 

Jam belajar

Jam belajar di pondok gontor dimulai pada jam 04.30 saat salat subuh dan berakhir pada pukul 22:00.

Jam belajar ini terbagi menjadi dua bagian:

  • Pendidikan formal dimulai dari pukul 07:00 – 12:15
  • Pengasuhan dimulai pukul 13.00

 

Kurikulum dan Pelajaran

Kurikulum KMI yang bersifat akademis dibagi dalam beberapa bidang, yaitu:

  • Bahasa Arab
  • Dirasah Islamiyah
  • Ilmu keguruan dan psikologi pendidikan
  • Bahasa Inggris
  • Ilmu Pasti
  • Ilmu Pengetahuan Alam
  • Ilmu Pengetahuan Sosial
  • Keindonesiaan/ Kewarganegaraan.

KMI membagi pendidikan formalnya dalam perjenjangan yang sudah diterapkan sejak tahun 1936. KMI memiliki program reguler dan program intensif.

  • Program reguler untuk lulusan Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan masa belajar hingga enam tahun. Kelas I-III setingkat dengan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) jika mengacu pada kurikulum nasional dan kelas IV-VI setara dengan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (MA).
  • Program intensif KMI untuk lulusan SMP/MTs yang ditempuh dalam 4 tahun.
  • Bahasa Arab dan bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan, kecuali mata pelajaran tertentu yang harus disampaikan dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Arab dimaksudkan agar santri memiliki dasar kuat untuk belajar agama mengingat dasar-dasar hukum Islam ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Inggris merupakan alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan/umum.
  • Pengasuhan santri adalah bidang yang menangani kegiatan ekstrakurikuler dan kurikuler. Setiap siswa wajib untuk menjadi guru untuk kegiatan pengasuhan pada saat kelas V dan VI jika ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di ISID, mereka tidak akan dipungut biaya, tetapi wajib mengajar kelas I-VI di luar jam kuliah.mengajar kuliah dan membantu pondok itulah yang di lakukan sebagai bentuk pengabdian dan pengembangan diri.
  • Pelatihan tambahan bagi guru dengan materi yang sesuai dengan standar pendidikan nasional.
  • Keterampilan, kesenian, dan olahraga tidak masuk kedalam kurikulum tetapi menjadi aktivitas ekstrakurikuler.
  • Siswa diajarkan untuk bersosialisasi dengan membentuk masyarakat sendiri di dalam pondok, melalui organ organisasi. Mulai dari ketua asrama, ketua kelas, ketua kelompok, organisasi intra/ekstra, hingga ketua regu pramuka. Sedikitnya ada 1.500 jabatan ketua yang selalu berputar setiap pertengahan tahun atau setiap tahun.
  • dan terdapat banyak pondok alumninya.

 

Fasilitas

Kompleks pondok pada umumnya terdiri dari masjid besar, aula, gedung dua lantai, dan sekolah. Bangunan asrama melingkari bangunan sekolah.

Terdapat juga:

 

Biaya sekolah dan sumber dana

  • Biaya pendidikan bagi siswa di KMI sebesar Rp. 440.000 per bulan, terdiri dari Rp. 230.000 untuk uang makan dan Rp. 210.000 untuk biaya pendidikan.
  • Dosen dan pengasuh pondok tidak pernah digaji
  • Manajemen pesantren dilakukan secara swadana dan swakelola
  • Sumber pendanaan berasal dari santri dan pengembangannya dikelola dalam beberapa unit usaha untuk mendanai pendidikan, pengajaran, dan pengasuhan.
  • Seluruh pengelola adalah keluarga besar pondok yang terdiri dari para santri dan dosen.

 

Alumni

 

Lain-lain

  • Pada 10 April 2006, merayakan ulang tahunnya yang ke-80 pondok gontor mengadakan acara seperti ceramahjambore, danraimuna. Pengadaan acara ini menelan biaya tidak kurang dari Rp. 4 miliar dan turut mengundang Presiden Republik Indonesia, wakil presiden dan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.
  • Rencana pengembangan Institut Studi Islam Darussalam (ISID) menjadi universitas dan membukanya untuk umum.
  • Merencanakan menambah program pendidikan bahasa Mandarin mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Cina yang pesat.
  • Para santri/santriwati kelas I-IV dilarang menonton televisi. Saat mereka menginjak V dan VI mereka diizinkan untuk menonton televisi dengan jam terbatas. Hal ini dimaksudkan agar santri/santriwati hanya mendapatkan hal-hal positif, sampai mereka cukup dewasa untuk berpikir, setelah itu baru diberikan hal-hal yang negatif- itupun hanya sebatas pengetahuan.

 

PENDAFTARAN
KULLIYATU-L-MU’ALLIMIN/MU’ALLIMAT AL-ISLAMIYAH (KMI)
(20 Pebruari 2012)
A. Syarat-syarat Pendaftaran
1. Menyerahkan 3 lembar fotokopi STTB terakhir atau Surat Keterangan Lulus yang telah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.
2. Berbadan sehat dengan Surat Keterangan dokter dari Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) Pondok Modern Darussalam Gontor.
3. Menyerahkan pasfoto berukuran 4 x 6 dan 3 x 4 dengan jumlah masing-masing sebanyak 6 lembar (putra), pasfoto berjilbab 4 x 6 @ 2 lembar dan 3 x 4 @ 8 lembar (putri).
4. Memenuhi ketentuan-ketentuan atau iuran-iuran yang telah ditetapkan pada waktu pendaftaran.
5. Menyerahkan 3 lembar fotokopi akta kelahiran.
6. Menyerahkan 2 lembar fotokopi Kartu Keluarga (khusus putri).
7. Mendaftarkan diri sesuai dengan cara dan waktu yang telah ditentukan.
NB: Hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan saat mendaftar di Kantor KMI atau Panitia Ujian Masuk KMI.
B. Syarat-syarat Penerimaan
1. Berijazah Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajat, untuk masuk kelas biasa dengan masa belajar 6 tahun, dan berijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau yang sederajat untuk masuk kelas Intensif dengan masa belajar 4 tahun.
2. Mempunyai dasar agama, yakni:
• Dapat mengerjakan ibadah sehari-hari dengan baik.
• Dapat membaca al-Qur’an dengan baik.
• Dapat membaca dan menulis Arab dengan lancar.
3. Lulus dalam testing/ujian masuk dan psyco-test.
4. Sanggup bertempat tinggal di asrama yang telah disediakan.
C. Waktu dan Cara Pendaftaran
Pendaftaran masuk KMI ada dua gelombang:
1. Gelombang I dibuka sepanjang tahun dan ditutup sebelum ujian gelombang pertama diadakan (bulan Sya’ban). Bagi calon pelajar (capel) putra, tempat pendaftaran di kampus Pondok Modern Gontor 2 Ds. Madusari Kec. Siman Kab. Ponorogo. Telp. (0352) 483729 – 482670. Sedangkan bagi capel putri, tempat pendaftaran berada di kampus Pondok Modern Gontor Putri 2 Ds. Sambirejo Kec. Mantingan Kab. Ngawi. Telp. (0351) 673262 – 673263.
2. Gelombang II dimulai pada tanggal 2 Syawwal dan ditutup pada tanggal 10 Syawwal.
Gelombang I
1. Calon pelajar berasrama di kampus Gontor 2 (putra) dan Gontor Putri 2 (putri) untuk mengikuti pembekalan berupa pembelajaran materi-materi pelajaran yang akan diujikan pada Ujian Masuk KMI di bulan Sya’ban.
2. Calon pelajar yang lulus pada Ujian Masuk KMI gelombang I, pada waktu Pembukaan Tahun Ajaran Baru KMI (bulan Syawwal), dapat langsung mengikuti pendaftaran ulang di kampus-kampus yang telah ditentukan, sesuai dengan hasil pengumuman kelulusan calon pelajar yang bersangkutan.
Berikut ini adalah pembagian kampus Pondok Modern Darussalam Gontor dan cabang-cabangnya bagi calon pelajar yang lulus Ujian Masuk KMI gelombang I:
Kampus Putra
1. Pondok Modern Darussalam Gontor 1 di Ds. Gontor Kec. Mlarak Kab. Ponorogo, Jawa Timur
2. Pondok Modern Darussalam Gontor 2 di Ds. Madusari Kec. Siman Kab. Ponorogo, Jawa Timur
3. Pondok Modern Gontor 3 ‘Darul Ma’rifat’ di Ds. Sumbercangkring Kec. Gurah Kab. Kedri, Jawa Timur
4. Pondok Modern Gontor 5 ‘Darul Muttaqin’ di Ds. Kaligung Kec. Rogojampi Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
5. Pondok Modern Gontor 6 ‘Darul Qiyam’ di Ds. Mangunsari Kec. Sawangan Kab. Magelang, Jawa Tengah
Kampus Putri
1. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 di Ds. Sambirejo Kec. Mantingan Kab. Ngawi, Jawa Timur
2. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 di Ds. Sambirejo Kec. Mantingan Kab. Ngawi, Jawa Timur
3. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3 di Ds. Karangbanyu Kec. Widodaren Kab. Ngawi, Jawa Timur
4. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 5 di Ds. Bobosan Kec. Kandangan Kab. Kediri, Jawa Timur
• Bagi calon pelajar (putra/putri) yang tidak lulus pada Ujian Masuk KMI gelombang I masih diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti Ujian Masuk KMI gelombang II di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor 1 (putra) dan di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 (putri).
Gelombang II
1. Bagi calon pelajar putra, pendaftaran dimulai pada tanggal 2 Syawwal dan ditutup pada tanggal 10 Syawwal di Gedung Saudi 6 Lt. 1 kampus Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ds. Gontor Kec. Mlarak Kab. Ponorogo, Jawa Timur.
2. Bagi calon pelajar putri, pendaftaran dimulai pada tanggal 2 Syawwal dan ditutup pada tanggal 20 Syawwal di Kantor KMI kampus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 Ds. Sambirejo Kec. Mantingan Kab. Ngawi, Jawa Timur.
3. Pendaftaran dilaksanakan secara langsung, bukan secara tertulis/surat-menyurat atau melalui telepon.
D. Pelaksanaan Ujian Masuk KMI dan Materi Ujian
1. Ujian Masuk KMI meliputi ujian syafahi (ujian lisan) dan ujian tahriri (ujian tulis). Materi ujian lisan meliputi psyco-test, membaca Al-Qur’an, pelajaran Tajwid, praktek ibadah (ibadah qauliyah dan ibadah ‘amaliyah), dan pelajaran Imla’. Sedangkan materi ujian tulis mencakup Imla’ (menulis Arab dengan didikte) , Bahasa Indonesia, Berhitung Soal dan Angka (Matematika).
2. Ujian Masuk KMI gelombang I dilaksanakan pada bulan Sya’ban (waktu dan tanggal menyesuaikan situasi dan kondisi).
3. Ujian Masuk KMI gelombang II dilaksanakan pada bulan Syawwal. Untuk calon pelajar putra, ujian syafahi dilaksanakan pada tanggal 2 s.d. 10 Syawwal. Sedangkan untuk calon pelajar putri, ujian syafahi dilaksanakan pada tanggal 2 s.d. 20 Syawwal. Adapun ujian tahriri dilaksanakan pada tanggal 11 Syawwal untuk calon pelajar putra, sedangkan ujian tahriri untuk calon pelajar putri diadakan pada tanggal 21 Syawwal.
4. Tidak ada perbedaan antara materi ujian yang diujikan kepada calon pelajar lulusan SD (sederajat) dengan calon pelajar yang berasal dari lulusan SMP (sederajat).
Saat mengikuti ujian, calon pelajar diharuskan membawa stopmap folio yang berisi:
1. Formulir psyco-test yang telah diisi.
2. Dua lembar fotokopi STTB yang telah dilegalisir.
3. Surat Keterangan Dokter dari Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM).
4. Kartu Ujian dan kwitansi pembayaran.
5. Tiga lembar fotokopi Akta Kelahiran.
6. Pasfoto berukuran 4 x 6 dan 3 x 4 dengan masing-masing berjumlah sebanyak 6 lembar (putra).
7. Pasfoto berjilbab dengan ukuran 3 x4 sebanyak 8 lembar dan ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar (putri).
8. Fotokopi KTP orang tua dan Kartu Keluarga.
NB: Dalam pelaksanaan Ujian Masuk KMI tidak diadakan ujian ulangan/susulan.
E. Program Ujian Lanjutan
• Bagi calon pelajar yang telah lulus Ujian Masuk KMI diberi kesempatan untuk mengikuti Program Ujian Lanjutan, yaitu ujian akselerasi ke kelas yang lebih tinggi jika memenuhi syarat-syarat tertentu, di antaranya memiliki kemampuan dengan bekal keilmuan yang cukup untuk duduk di kelas yang lebih tinggi dari kelas 1 KMI.
F. Biaya Administrasi
I. Biaya Pendaftaran
1 Uang pangkal masuk KMI Rp. 1.600.000
2 Uang penambahan bangunan baru Rp. 500.000
3 Uang kepanitiaan bulan Syawwal Rp. 150.000
4 Uang kertas Rp. 200.000
5 Uang majalah Gontor Rp. 210.000
6 Uang kesehatan Rp. 200.000
7 Uang pembangunan kampus baru Pondok Modern Gontor 12 Rp. 500.000
8 Iuran uang sekolah & pondok (setiap bulan) Rp. 210.000
9 Iuran uang makan (setiap bulan) Rp. 230.000
Jumlah Rp. 3.800.000
II. Biaya Ekstrakurikuler (di Gontor 2)
1 Iuran Organisasi Pelajar Pondok Modern Rp 20.000
2 Iuran kesehatan asrama dan olahraga Rp 10.000
3 Iuran alat-alat asrama Rp 10.000
4 Iuran pangkal konsulat Rp 12.000
5 Iuran pangkal perpustakaan Rp 10.000
6 Iuran organisasi kepramukaan Rp 20.000
7 Iuran kegiatan kepramukaan Rp 16.000
8 Buku tulis latihan pidato Rp 12.000
9 Buku Tabsis dan Kartu Pembayaran SPP Rp 30.000
10 Kaos asrama Rp 60.000
Jumlah Rp 200.000
III. Biaya Perlengkapan (di Gontor 2)
1 Kasur Rp 115.000
2 Sewa lemari Rp 50.000
3 Gembok & gantungan kunci Rp 25.000
4 Kartu identitas santri Rp 3.000
5 Tas sandal Rp 7.000
Jumlah Rp 200.000

Total biaya pendaftaran: Rp. 4.200.000
Pembiayaan tiap bulan: Rp. 440.000

 

Bedah Surah Al-Nashr (pertolongan)

•July 28, 2012 • Leave a Comment

Surah ini turun menjelang akhir perjalanan hidup Nabi SAW. Surah ini mengisyaratkan, sebagaimana yang dipahami sahabat terdekat Nabi, bahwa saat-saat perpisahan dengan kekasih yang dicintai sudah dekat.

  1. (Apabila telah datang pertolongan Allah) kepada Nabi-Nya atas musuh-musuhnya (dan kemenangan) yakni kemenangan atas kota Mekah.
  2. (Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah) yaitu agama Islam (dengan berbondong-bondong) atau secara berkelompok, yang pada sebelumnya hanya secara satu persatu. Hal tersebut terjadi sesudah kemenangan atas kota Mekah, lalu orang-orang Arab dari semua kawasan datang kepada Nabi saw. dalam keadaan taat untuk masuk Islam.
  3. (Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu) artinya bertasbihlah seraya memuji-Nya (dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat) sesungguhnya Nabi saw. sesudah surah ini diturunkan, beliau selalu memperbanyak bacaan: Subhaanallaah Wa Bihamdihi, Astaghfirullaaha Wa Atuubu Ilaihi, yang artinya: “Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” Dengan turunnya surah ini dapat diketahui bahwa saat ajalnya telah dekat. Peristiwa penaklukan kota Mekah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun delapan Hijriah, dan beliau wafat pada bulan Rabiulawal, tahun sepuluh Hijriah.

Nabi Muhammad telah menunaikan misinya dengan baik, yaitu menghilangkan syirik, khurafat, dan takhyul yang dikaitkan dengan keyakinan religious. Ia berhasil menyebarkan risalah Allah dan meninggikan kalimat-Nya. Nabi merasakan kelelahan yang tidak pernah dialami seorangpun. Dia bertahajud hingga kedua telapak kakinya bengkak. Dia tidak merasakannya karena larut dalam munajat. Dia telah menyembah Tuhannya dengan ketundukan yang mutlak dan tulus; ia berjuang gagah berani demi umatnya hingga tubuhnya terluka; ia menjauhkan kesulitan untuk manusia. Satu-satunya yang ia khawatirkan adalah murka Allah. Kendati menghadapi tekanan, penindasan, dan hidup dalam kesengsaraan, Nabi SAW, tetap kukuh mempertahankan keyakinannya.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana seandainya beliau berumur lebih panjang sehingga dapat menikmati kemenangan yang beliau capai? Saya jawab, orang yang menikmati kemenangan hanyalah orang yang menikmati kemenangan hanyalah orang yang mencari kejayaan dunia. Jauh berbeda dengan para penguasa dunia, di akhir usianya Nabi SAW hidup dalam kekurangan. Di saat-saat terakhir hidup, ia masih berutang kepada seorang pedagang Yahudi yang meminta jaminan unuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Padahal, ketika itu Nabi SAW tengah berada di puncak kekuasaan dan kejayaannya. Semua kekuatan tunduk di hadapan pasukannya; perbatasan Romawi berada di depan mata, dan semua wilayah Yahudi telah tunduk dibaawah kuasanya. Seandainya Rasulullah meminta seorang pengikutnya yang kaya raya untuk membelikan bahan makanan yang dibutuhkannya, niscaya orang itu menilai titah itu sebagai kehormatan bagi dirinya.

Namun, Rasulullah tidak melakukan melakukannya. Dia berkata kepada pedagang Yahudi, “Aku orang  terpercaya di dunia dan akhirat. Ambillah jaminan yang kamu inginkan. Akhirnya, Nabi memberikan baju besinya. Ketika Nabi meninggal, baju itu masih tergadai pada pedagang Yahudi tersebut.

Apa yang diperoleh Muhammad dari dunia manusia?

Kemudian, wahyu dating menawarkan pilihan kepadanya: Tetap di dunia atau berjumpa Allah. Dia menjawab, “Tuhan Yang Maha Tinggi”

Muhammad berjumpa dengan Tuhannya dan hidup penuh kenikmatan di sisi-Nya. Ia meninggalkan dunia fana untuk bergabung bersama para rasul terdahulu dan para malaikat yang di dekatkan (kepada Allah).

Di tempat yang disenangi di sisi (Tuhan) yang Mahakuasa (Al- Qamar:55)

Sumber:

  1. Tafsir Jalalain
  2. Terjemahan Depag
  3. Nahw Tafsir Mawdhu`I Li Suwar Al-Qur`an Al-Karim, Muhammad Al-Ghazali

Bedah Surah Al Masad

•July 27, 2012 • Leave a Comment

Surah ini dibuka dengan kecaman yang sangat keras kepada salah seorang musuh Nabi yang paling sengit, Abu Lahab, paman Nabi sendiri.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

001. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

”(Binasalah) atau merugilah (kedua tangan Abu Lahab) maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (dan sesungguhnya dia binasa) artinya dia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini adalah kalimat berita; perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya: “Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa.” Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, “Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku.” Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:

002. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

(Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan) maksudnya apa yang telah diusahakannya itu, yakni anak-anaknya. Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.”

Ayat ini mendoakan kecelakaan bagi Abu Lahab, Allah mengabulkannya. Kekayaan Abu Lahab yang melimpah dan kedudukannya yang luas tidak lagi berguna baginya. Ia adalah paman Rasulullah. Namun, dia pun kerabat yang paling gigih menentangnya dan paling keras memusuhinya.

“Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Bathha`, kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, “Wahai sekalian manusia.” Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau bertanya, “Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesuwengguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.” Akhirnya Abu Lahab pun berkata, “Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakanlah bagimu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “TABBAT YADAA ABII LAHAB..” Hingga akhir ayat.” (HR. Bukhari no. 4972 dan Muslim no. 208)

Konon, Abu Lahab melukainya dengan lemparan batu. Benar atau tidak, tetapi kenyataannya, sikap Abu Lahab berbeda dengan paman-paman Nabi yang lain. Ia menampakkan kebencian dan sikap permusuhan yang keras kepada Nabi. Kebencian itu ia tularkan kepada anak-anaknya. Istrinya pun bertingkah sama. Ia adalah wanita yang jahat dank eras permusuhannya. Ia pergi dari rumah ke rumah untuk menjelek-jelekkan Muhammad.

Abu Lahab adalah saudara Abu Sufyan, tokoh penting Mekah dan pemimpin perang mereka.

Awal surah ini turun pada hari-hari pertama Islam sehingga masih tersisa banyak waktu bagi Abu Lahab untuk menyadari kesesatannya, bertobat, dan bergabung dengan kaum muslim. Namun, ia memilih menjadi musuh Islam hingga akhir hayatnya. Surah ini menjelaskan nasib yang akan menimpanya;

003. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

(Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak) yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.”

004. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.

Istri Abu Lahab biasa memikul kayu bakar. Istri Abu Lahab bernama Ummu Jamil, salah seorang pembesar wanita Quraisy. Nama asli beliau adalah Arwa binti Harb bin Umayyah. Ummu Jamil ini adalah saudara Abu Sufyan. Ummu Jamil punya kelakuan biasa membantu suaminya dalam kekufuran, penentangan dan pembakangan pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, pada hari kiamat, Ummu Jamil akan membantu menambah siksa Abu Lahab di neraka Jahannam.

(Dan begitu pula istrinya) lafal ini di’athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf’ul dan sifatnya; yang dimaksud adalah Umu Jamil (pembawa) dapat dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan (kayu bakar) yaitu duri dan kayu Sa’dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan tempat Nabi saw. lewat.”

005. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

“ (Yang di lehernya) atau pada lehernya (ada tali dari sabut) yakni pintalan dari sabut; Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal Hathab yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini dapat dianggap sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan.”

“Dan (begitu pula) istri Abu Lahab, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” Yaitu istri Abu Lahab akan membawa kayu bakar, lalu ia akan bertemu suaminya Abu Lahab. Lalu ia menambah siksaan Abu Lahab. Dan memang istri Abu Lahab dipersiapkan untuk melakukan hal ini.
Yang dimaksud firman Allah Ta’ala (فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ), yaitu maksudnya di leher Ummu Jamil ada tali sabut dari api neraka. Sebagian ulama memaknakan masad dengan sabut. Ada pula yang mengatakan masad adalah rantai yang panjangnya 70 hasta. Ats Tsauri mengatakan bahwa masad adalah kalung dari api yang panjangnya 70 hasta.

Di sini ada beberapa tafsiran ulama:
Pertama: Mengenai ayat (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), pembawa kayu bakar maksudnya adalah Ummu Jamil adalah wanita sering menyebar namimah, yaitu si A mendengar pembicaraan B tentang C, lantas si A menyampaikan berita si B pada si C dalam rangka adu domba. Ini pendapat sebagian ulama.
Kedua: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud Ummu Jamil pembawa kayu bakar adalah karena kerjaannya sering meletakkan duri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir Ath Thobari.
Ketiga: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) adalah Ummu Jamil biasa mengenakan kalung dengan penuh kesombongan. Lantas ia katakan, “Aku aku menginfakkan kalung ini dan hasilnya digunakan untuk memusuhi Muhammad.” Akibatnya, Allah Ta’ala memasangkan tali di lehernya dengan sabut dari api neraka.

Kisah tentang Abu lahab

Abu Lahab bin ‘Abdul Muttalib (Bahasa Arab: أبو لهب‎) (meninggal 624) adalah paman Nabi Muhammad yang terkenal akan kebenciannya terhadap ajaran Islam. Namanya disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Lahab yang merupakan pengutukkan atasnya sebagai salah satu musuh Islam.
Nama lengkapnya adalah Abdul al-Uzza bin ‘Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar), karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar. Istrinya adalah Ummu Jamil, yang telah melahirkan dua anak Utbah bin Abu Lahab and Utaybah bin Abu Lahab.
Abu Lahab pun Bersyukur atas Kelahiran Rasulullah
Kitab Shahih Bukhari menceritakan tentang sebuah kisah mengenai menyangkut tentang Tsuwaibah, seorang budak perempuan Abu Lahab (paman Nabi Muhammad SAW).
ini terjadi tepat pada hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Ketika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab
seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.
Tatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Inilah bentuk kegembiraan Abu Lahab, sang paman yang kelak menjadi salah satu musuh bebuyutannya dalam berdakwah. Namun rupanya tidak cukup sampai di situ saja luapan kegembiraan ini. Ia segera mengundang tetangga-tetangga dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini.
Sebagai bentuk paling populer dari ungkapan rasa syukurnya dan sebagai penanda suka citanya yang sangat memuncak kemudian ia berkata kepada Tsuwaibah di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, ”Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-laki ku (Abdullah), maka dg ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini’

Demi mendengar kabar gembira inipun Tsuwaibah lantas bersuka cita, Sejak hari ini, karena ia yang membawa kabar gembira atas kelahiran keponakan tercinta, mahluk paling mulia di seluruh dunia, maka ia mendapatkan keberkahan tak terkirakan berupa kemerdekaanya.
Maka sejak hari itu ia bukan lagi berstatus sebagai budak yang dapat di perintah sesukanya oleh majikan. Sejak hari itu, ia adalah lelaki merdeka yang bertanggung jawab atas segala nasib dan keberuntunganya sendiri.
Konon, karena kebaikannya membebaskan Tsuwaibah sebagai bukti kegembiraan atas kelahiran Rasulullah, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur pada setiap hari Senin. Meskipun sepanjang masa hidupnya, Abu Lahab senantiasa memusuhi dan tidak mempercayai kenabian keponakan tercintanya ini.

Sumber:

  1. Tafsir Jalalain
  2. Terjemahan Depag
  3. Nahw Tafsir Mawdhu`I Li Suwar Al-Qur`an Al-Karim, Muhammad Al-Ghazali

Surah Al-Ikhlas

•July 25, 2012 • Leave a Comment

Tuhan semesta alam itu satu, bukan dua atau tiga. Tiada beristri dan tak beranak. Dia Mahakuasa dan Mahatinggi. Sifat-sifat yang disandarkan kepada zat-Nya adalah sifat-sifat yang agung dan luhur yang membuat selain-Nya tidak bernilai.

Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua Tuhan, Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (Al-Nahl:51)

Janganlah mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (mengatakan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Allah dari mempunyai anak. (Al-Nisa’:171)

Tauhid adalah jiwa Islam dan inti Al-Quran. Sifat-sifat yang dinisbatkan Allah kepada diri-Nya menjadikan selain-Nya sebagai hamba yang lemah dan tidak kuasa memberikan mudarat maupun manfaat kepada dirinya sendiri dan selainnya. Jika ada tuhan selain Dia, di manakah mereka? Mengapa tak berani muncul menganggapi tantangan ini?

Karena itu, kami mengingatkan kembali tentang bukti-bukti rasional atas keesaan Allah yang diungkapkan Al-Quran.

Allah sekali-kali tidak punya anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Jika ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, tiap-tiap tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya. Sebagian tuhan akan mengalahkan sebagian lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, yang mengetahui  semua yang gaib dan semua yang tampak. Mahatinggi  Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Al-Mu’minun:91-92)

Sekiranya di  langit dan di bumi terdapat tuhan selain Allah, tentu keduanya rusak binasa. Mahasuci Allah yang memiliki Arasy dari apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya’:22-23)

Para penganut ajaran trinitas berpendapat bahwa tuhan itu tiga, tetapi hakikatnya tunggal, yaitu Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tak terbayangkan apa yang terjadi bila ketiganya berselisih!

Mereka juga meyakini penyaliban Kristus sehingga memunculkan pertanyaan penting: siapa sesungguhnya yang disalib itu? Tuhan Anak, Tuhan Bapa, ataukah keduanya? Jika ketiga tuhan itu hakikatnya satu, berarti yang disalib adalah ketiga Tuhan itu dan dengan demikian, berarti alam pernah kehilangan tuhannya pada suatu masa. Dan, jika yang disalib adalah Tuhan Anak, lalu bagaimana bisa setelah disalib ia tetap dianggap sebagai Tuhan?

Tentu saja, setiap orang bebas untuk meyakini  apa yang ingin ia yakini. Barang siapa yang menyukai tauhid seperti ini, ia bebas memeluknya. Kami tidak menghalangi keyakinan seorang pun. Surah yang sangat pendek ini, yang dianggap bernilai sepertiganya, mengungkap hakikat keyakinan Islam yang paling mendasar;

001. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,

(Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa”) lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.”

002. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) lafal ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.”

003. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,

(Dia tiada beranak) karena tiada yang menyamai-Nya (dan tiada pula diperanakkan) karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya.”

004. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

(Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia) atau yang sebanding dengan-Nya, lafal Lahu berta’alluq kepada lafal Kufuwan. Lafal Lahu ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal Ahadun diakhirkan letaknya padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan Khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya; demikian itu karena demi menjaga Fashilah atau kesamaan bunyi pada akhir ayat.

Tuhan adalah pencipta dan pengusasa segala sehingga tidak ada sesuatupun yang dapat dibandingkan dengan-Nya. Tabiat alam semesta ini sama sekali tak memungkinkan bagi adanya beberapa tuhan. Sungguh tidak masuk akal jika dikatakan bahwa ada tuhan untuk matahari, tuhan bumi, tuhan dunia hewan, dan lain-lain, atau jika dikatakan ada tuhan untuk benua Afrika dan tuhan lainnya untuk benua Asia. Berbagai fenomena alam semesta akan menunjukkan kepada kita bahwa hanya ada satu Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan mencukupi segala kebutuhan makhluk-Nya. Hanya Allah Yang Maha Esa satu-satunya Tuhan yang layak dipuji

 

Sumber:

  1. Tafsir Jalalain
  2. Terjemahan Depag
  3. Nahw Tafsir Mawdhu`I Li Suwar Al-Qur`an Al-Karim, Muhammad Al-Ghazali

Pembatal Keislaman

•July 2, 2011 • Comments Off

At Tauhid edisi VII/27 Oleh: Yhouga Pratama Salah satu fenomena memprihatinkan yang terjadi pada kaum muslimin di zaman ini adalah, ketika ditanyakan mengenai apa saja yang dapat membatalkan wudhu, apa yang dapat membatalkan shalat, atau apa yang dapat membatalkan puasa, kita dapat dengan mudah menjawabnya. Namun apabila ditanyakan, apa sajayang dapat membatalkan syahadat? Banyak orang yang terdiam seribu bahasa. Padahal, syahadat merupakan rukun pertama dalam Islam. Mengetahui hal pokok seperti ini juga termasuk kewajiban. Berikut ini kami ketengahkan pembahasan mengenai sepuluh pembatal keIslaman. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk menjauhi perkara-perkara tersebut. Pertama . Syirik kepada Allah Ta’ala dalam ibadah Pembatal keIslaman yang pertama dan paling besar ialah syirik kepada Allah Ta’ala . “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah itu(syirik), bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. AnNisa’ : 48). Syirik dalam ibadah yaitu memalingkan suatu jenis ibadah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla . Oleh karena itu barangsiapa yang menyembelih, bernadzar, atau sujud kepada selain Allah, begitu pula berdoa dan menyeru kepada orang mati, meminta tolong ( istighotsah ) kepada makhluk (baik hidup maupun mati) dalam hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah Ta’ala , atau memalingkan ibadah selain itu yang seharusnya hanya ditujukan untuk Allah semata, maka dia telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkannya dari millah (agama). Pelakunya, apabila meninggal dalam keadaan belum bertaubat, akan diadzab dalam neraka selamanya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dan ia menyeru kepada selain Allah (dan belum bertaubat –pen), masuk neraka” (HR. Bukhari dan Muslim). Kedua , menetapkan adanya perantara antara seseorang dengan Allah, dalam rangka memohon syafaat dan bertawakkal kepadanya. Inilah perbuatan yang teramat subur di negeri kita, Allahul musta’an , bahwasanya orang-orang atau tokoh-tokoh yang mengaku mendakwahkan Islam,justru mengajak manusia untuk meminta syafa’atdan mencari perantara dalam berdoa kepada Allah. Jenis perantara yang populer ialah orang-orang shalih yang telah mati. Mereka bernadzar, menyembelih, bahkan thawaf di kuburan orang-orang shalih, dalam rangka memohon syafaat kepada Allah. Padahal, Allah telah berfirman (yang artinya), “ Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan .”(QS. Ghafir : 60), dan Allah tidaklah berfirman, “Berdoalah kepadaKu melalui perantara Fulan, atau dengan perantara ini, itu!” .  Sungguh, inilah keyakinan kaum kafir Quraisy, yang Allah turunkan Rasul kepada mereka dalam rangka membantah keyakinan sesat tersebut. Allah berfirman (yang artinya), “ Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya” (QS. Az Zumar : 3). Ketiga , tidak mengkafirkan kaum musyrikin, atau ragu dengan kekafiran mereka, atau (bahkan) membenarkan keyakinan mereka. Termasuk dalam hal ini ialah ragu dengan bathilnyaagama-agama selain Islam. Inilah propaganda yangkerap dilancarkan oleh pengusung paham pluralisme, yang menghembuskan keragu-raguan dalam diri kaum muslimin. Berkedok jargon bathil “Semua agama baik”, agenda taqrib (pendekatan) antar agama pun dilancarkan. Padahal, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk meneladani Ibrahim alaihissalam , yang berkata kepada ayahandanya, juga kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah” (QS. Az Zukhruf : 27). Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan Laa ilaaha illallah, tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim). Keempat , meyakini bahwasanya ada petunjuk selain dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih sempurna, atau meyakini bahwa ada hukum yang lebih baik dari hukum beliau. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ : 65). Petunjuk Nabi ialah petunjuk yang paling sempurna. “Sesungguhnya sebaik-baik perkataanialah kalamullah (Al Quran), dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Muslim). Sebagian dari kaum muslimin, bermudah-mudahan dalam mengkafirkan sesama kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dengan berdalil pada ayat “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maidah : 44). Maka masalah mengkafirkan secara mu’ayyan (personal), perlu dikembalikan kepada para ulama. Masalah ini juga memiliki banyak rincian dan batasan-batasan lebih lanjut. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada para penguasa di negeri-negeri kaum muslimin, untuk berhukum dengan hukum Allah. Kelima , membenci suatu perkara yang merupakan ajaran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam , walaupun ia sendiri mengamalkannya. Perbuatan ini merupakan jenis nifaq i’tiqadiy (munafik dalam hal keyakinan). Dalilnya ialah firmanAllah Ta’ala (yang artinya), “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka membenci apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad : 9). Walaupun pelakunya hanya membenci satu saja diantara ajaran Nabi, dan meskipun ia sendiri juga mengamalkannya, maka ia terancam kafir. Akhir-akhir ini sangat sering kita jumpai kaum muslimin yang menolak syariat, seperti poligami (bahkan dengan terang-terangan “berfatwa” tentang haramnya poligami), memanjangkan jenggot, dan sunnah-sunnah lainnya. Meskipun untuk memvonis kafir terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi, akan tetapi tetap perlu kami ingatkan bahwa perbuatan membenci salah satu ajaran Nabi, merupakan salah satu pembatal keIslaman. Keenam , mengolok-olok salah satu ajaran Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam , atau mengolok-olok pahala atau adzabnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) , “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidakusah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. ” (QS. At Taubah : 65-66). Beberapa ulama membagi perbuatan istihza’ (mengolok-olok) ke dalam dua jenis ( At Tanbihat Al Mukhtasharah , Syaikh Ibrahim Al Khuraishi), Pertama, Al istihza’ as shariih , mengolok-olok dengan jelas, yaitu dengan lisan. Contohnya perkataan, “Memelihara jenggot? Seperti kambingsaja!”, atau “Celananya kok cingkrang mas? Korban banjir apa?” Kedua, Al istihza’ ghairu shariih , jenis ini cakupannya lebih luas, seperti mengejek dengan menjulurkan lidah, memberi isyarat dengan mata, dan sebagainya. Ketujuh , Sihir Dalilnya ialah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Sedang keduanya (yaitu malaikat Harut dan Marut) tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir” (QS. Al Baqarah : 102). Contoh sihir yang populer di zaman kita ialah santet, pelet, guna-guna, pengasihan, dan sebagainya. Barangsiapa yang mempraktekkan atau menyetujui praktek sihir, maka dia kafir. Kedelapan , mendukung orang-orang musyrik danmembantu mereka memusuhi kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka (orang-orang kafir itu) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah : 51). Mendukung orang-orang kafir dalam memusuhi kaum muslimin tidak hanya melalui harta atau tenaga, tetapi juga termasuk andil dalam menyebarkan propaganda mereka seperti pluralisme dan liberalisme, atau ide-ide kufur lainnya. Maka hendaknya kita mewaspadai perbuatan tersebut. Kesembilan , meyakini bahwa sebagian orang bisa keluar dari syariat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan leluasa. Hal ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala yang menyatakan bahwa syariat telah sempurna, tidak ada lagi penambahan atau pengurangan. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3). Diantara contoh nyata perbuatan ini, adalah fenomena yang terjadi di sebagian aliran sesat, yang beranggapan apabilaseorang muslim telah mencapai derajat makrifat, telah lepas baginya kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, zakat, dan kewajiban lain yang menurut mereka hanyalah untuk orang-orang yang baru derajat syariat saja. Wal’iyadzubillah. Kesepuluh , berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajari dan mengamalkannya. “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasankepada orang-orang yang berdosa” (QS. As Sajdah : 22). Mempelajari agama Islam terbagi menjadi dua, yaitu yang hukumnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah . Fardhu ‘ain yaitu kita dituntut untuk mempelajari pokok-pokok agama, aqidah yang benar, rincian rukun Islam seperti shalat, zakat, puasa. Inilah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Adapun mengetahui rincian ilmu seperti tafsir, ushul fiqh, mustahalah hadits, maka hukumnya fardhu kifayah . Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kita taufiq dalam menuntut ilmu agama. Perlu diketahui bahwa kesepuluh hal ini bukanlah batasan jumlah. Dr. Shalih Al Fauzan menyebutkan bahwa terdapat sekitar 400 perkara yang dapat membatalkan keIslaman, akan tetapi dipilih sepuluh diantaranya yang paling penting dan tersebar bahayanya di negeri kaum muslimin. Semoga Allah memberi taufik untuk menjauhi hal-hal tersebut. (Yhouga Pratama*, banyak mengambil faidah dari Durus fi Syarh Nawaqidh Al Islam , Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, cetakan Maktabah Ar Rusyd) * Penulis adalah alumnus Ma’had al-‘Ilmi Yogyakarta, menjadi koordinator website dakwah http://www.muslim.or.id , dan sedang menyelesaikan program Studi S-1 Teknik Sipil UGM

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 99 other followers