Perkembangan Pasar Modal Syariah

Perkembangan Pasar Modal Syariah
Oleh Aziz Budi Setiawan
(Peneliti di The Indonesia Economic Intelligence)
Banyak cara untuk melakukan investasi keuangan yang sesuai dengan syariah Islam. Investasi tersebut dapat dilakukan pada berbagai kegiatan usaha yang berkaitan aktivitas menghasilkan suatu produk, asset maupun jasa. Karena itu, salah satu bentuk investasi yang sesuai dengan syariah Islam adalah membeli Efek Syariah. Efek Syariah tersebut mencakup Saham Syariah, Obligasi Syariah, Reksadana Syariah, Kontrak Investasi Kolektiv Efek Beragun Asset (KIK EBA) Syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah.
Investasi dengan pemilikan Efek Syariah dapat dilakukan di Pasar Modal baik secara langsung pada saat penawaran perdana, maupun melalui transaksi perdagangan sekunder dibursa. Pasar Modal menjadi alternatif investasi bagi para investor selain alternatif investasi lainnya seperti: menabung di bank, membeli emas, asuransi, tanah dan bangunan, dan sebagainya.
Sebagaimana dipahami Pasar Modal merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek tersebut. Pasar Modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang. Sayangnya selama ini pasar modal menjadi wadah ekonomi yang paling banyak menjalankan transaksi yang dilarang seperti bunga (riba), perjudian (gambling/maysir), gharar, penipuan dan lain-lain. Upaya untuk melakukan Islamisasi pada sektor perputaran modal yang sangat vital bagi perekonomian modern ini semakin gencar.

Islamisasi Pasar Modal
Dilihat dari sisi syariah, pasar modal adalah salah satu sarana atau produk muamalah. Transaksi didalam pasar modal, menurut prinsip hukum syariah tidak dilarang atau dibolehkan sepanjang tidak terdapat transaksi yang bertentangan dengan ketentuan yang telah digariskan oleh syariah. Diantara yang dilarang oleh syariah adalah transaksi yang mengandung bunga dan riba. Larangan transaksi bunga (riba) sangat jelas, karena itu transaksi dipasar modal yang didalamnya terdapat bunga (riba) tidak diperkenankan oleh Syari’ah.
Syari’ah juga melarang transaksi yang didalamnya terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan yaitu transaksi yang didalamnya dimungkinkan terjadinya penipuan (khida’). Termasuk dalam pengertian ini: melakukan penawaran palsu (najsy); transaksi atas barang yang belum dimiliki (short selling/bai’u maalaisa bimamluk); menjual sesuatu yang belum jelas (bai’ul ma’dum); pembelian untuk penimbunan efek (ihtikar) dan menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading).
Dengan adanya berbagai ketentuan dan pandangan syariah seperti diatas, maka investasi tidak dapat dilakukan terhadap semua produk pasar modal karena diantara produk pasar modal itu banyak yang bertentangan dengan syari’ah. Oleh karena itu investasi di pasar modal harus dilakukan dengan selektif dan dengan hati-hati (ihtiyat) supaya tidak masuk kepada produk non halal. Sehingga hal inilah yang mendorong islamisasi pasar modal.
Terkait dengan upaya pengembangan pasar modal syariah, hingga saat ini terdapat 6 (enam) Fatwa DSN-MUI yang berkaitan dengan industri pasar modal. Fatwa-fatwa tersebut adalah:

  1. Fatwa No.05 tahun 2000 tentang Jual Beli Saham;
  2. No.20 tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah;
  3. No.32 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah;
  4. No.33 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah;
  5. No.40 tahun 2003 tentang Pasar Modal danPedoman Umum Penerapan Prinsip syariah di Bidang Pasar Modal; dan
  6. No.41 tahun 2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah.

Bentuk ideal dari pasar modal syariah dapat dicapai dengan islamisasi empat pilar pasar modal, yaitu;

  1. Emiten (perusahaan) dan efek yang diterbitkannya didorong untuk memenuhi kaidahsyariah, keadilan, kehati-hatian dan transparansi;
  2. Pelaku pasar (investor) harus memilikipemahaman yang baik tentang ketentuan muamalah, manfaat dan risiko transaksi di pasar modal;
  3. Infrastruktur informasi bursa efek yang jujur, transparan dan tepat waktu yang merata dipublik yang ditunjang oleh mekanisme pasar yang wajar;
  4. Pengawasan dan penegakan hukum oleh otoritas pasar modal dapat diselenggarakan secara adil, efisien, efektif dan ekonomis.

Selain itu prinsip-prinsip Syariah juga akan memberikan penekanan (emphasis) pada: (a) Kehalalan produk/jasa dari kegiatan usaha, karena menurut prinsip Syariah manusia hanya boleh memperoleh keuntungan atau penambahan harta dari hal-hal yang halal dan baik; (b) Adanya kegiatan usaha yang spesifik dengan manfaat yang jelas, sehingga tidak ada keraguan akan hasil usaha yang akan menjadi obyek dalam perhitungan keuntungan yang diperoleh; (c) Adanya mekanisme bagi hasil yang adil –baik dalam untung maupun rugi- menurut penyertaan masing-masing pihak; dan (d) Penekanan pada mekanisme pasar yang wajar dan prinsip kehati-hatian baik pada emiten maupun investor.

Perkembangan Pasar Modal Syariah.
Dengan diterbitkannya fatwa-fatwa yang berkaitan dengan pasar modal, telah memberikan dorongan untuk mengembangkan alternatif sumber pembiayaan yang sekaligus menambah alternatif instrumen investasi halal. Perkembangan pasar modal syariah saat ini ditandai dengan maraknya perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Index (JII), penawaran umum Obligasi Syariah dan juga Reksadana Syariah. Kinerja saham syariah yang terdaftar dalam JII mengalami perkembangan yang cukup mengembirakan. Hal ini terlihat dari kenaikan JII sebesar 38,60% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2003. Kapitalisasi pasar saham syariah yang terdaftar dalam JII juga meningkat signifikan, yaitu  sebesar 46,06% dari Rp.177,78 triliun menjadi Rp.259,66 triliun pada akhir Desember 2004.

Dengan keluarnya fatwa Obligasi Ijarah tahun 2004 telah mendorong sebanyak 7 (tujuh) emiten mendapat pernyataan efektif dari Bapepam untuk dapat menawarkan Obligasi Syariah Ijarah dengan total nilai emisi sebesar Rp.642 Miliar. Sehingga sampai dengan akhir 2004 ini, secara kumulatif terdapat 13 (tiga belas) obligasi syariah dengan total nilai emisi sebesar Rp.1,38 triliun. Hal ini berarti bahwa jumlah obligasi syariah telah tumbuh sebesar 116,67% dan nilai emisi obligasi syariah tumbuh sebesar 86,7% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2003.

Reksadana syariah juga tumbuh sangat mengesankan, sebelumnya pada tahun 2003 hanya ada 3 (tiga) reksa dana syariah yang efektif, kemudian bertambah secara kumulatif menjadi 10 (sepuluh) reksa dana syariah sampai dengan akhir 2004.
Bapepam juga telah membentuk unit khusus yang membawahi pengembangan kebijakan pasar modal syariah pada Oktober 2004 yang lalu. Pembentukan unit khusus ini dalam rangka mengembangkan pasar modal syariah serta melihat tantangan yang semakin besar untuk mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah yang semakin berkembang.
Meki pasar modal syariah awalnya adalah ironi, karena Equity Fund pertama (the Amana Fund) didirikan Juni 1986 oleh the North American Islamic Trust dan Dow Jones Islamic Market Index (DJIM) diluncurkan Februari 1999 oleh Dow Jones Indexes berada di negeri kapitalis AS, tetapi sekarang ia menjadi keniscayaan dan tanggungjawab kita untuk mengelola dan mengawalnya. Agar tidak menjadi trojan yang dikendarai kapitalisme global. Wallahu ’alam bi-shawab.

(Artikel ini pernah di publikasi di Kolom Majalah Hidayatullah, Mei 2005)

About these ads

~ by evisyari on August 10, 2008.

3 Responses to “Perkembangan Pasar Modal Syariah”

  1. nice artikel, salam kenal :)

  2. Pada saat ini, para ulama dan pelaku ekonomi islam lainnya telah menemukan sistem perdagangan pasar uang yang sesuai dengan norma-norma syariah, salah satu kaidah islam di pasar valuta asing. Aktivitas perdagangan valuta asing harus terbebas dari dari unsur riba (kelebihan nilai atau kadar dalam suatu transaksi). Dalam pelaksanaannya harus memperhatikan batasan sebagai berikut:
    1. Pertukaran tersebut harus dilakukan secara tunai (spot) artinya masing-masing pihak harus menerima dan menyerahkan masing-masing mata uang pada saat yang bersamaan.
    2. Motif pertukaran adalah dalam rangka mendukung transaksi komersial yaitu transaksi perdagangan barang dan jasa antar negara, bukan dalam rangka spekulasi untuk menimbun kekayaan dan mendapatkan keuntungan sepihak.
    Nabi Muhammad SAW memperingatkan dalam sabdanya dengan peringatan yang sangat keras:
    ”Orang yang menyediakan (mendatangkan) barang diberi rezeki dan orang yang menimbun barang mendapat laknat.” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim).
    Sabda Rasulullah SAW:
    ”Hanya orang yang salah (keliru, berbuat dosa)lah yang menimbun barang.” (HR Muslim).
    3. Harus dihindari jual beli bersyarat, misalnya A setuju membeli barang dari B hari ini dengan syarat B harus membelinya kembali pada tanggal tertentu di masa mendatang.
    4. Transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak-pihak yang diyakini mampu menyediakan valuta asing yang dipertukarkan.
    5. Tidak diperkenankan menjual barang yang belum dikuasai atau dengan kata lain tidak dibenarkan jual beli tanpa hak kepemilikan (bai’ al-fudhuli).
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa transaksi pasar valuta asing berbasis syariah memiliki kesamaan dengan transaksi valas konvensional. Tetapi ada beberapa hal yang harus dihindari dalam transaksi valas berbasis syariah yaitu:
    1. Jual beli valas yang bukan transaksi komersial (ekspor impor barang atau jasa).
    2. Melakukan transaksi swap berupa pertukaran nilai mata uang sebagai media penimbun kekayaan yang diperoleh dari keuntungan selisih kurs jual dan kurs beli dari mata uang yang dipetukarkan.
    Bukan begitu,he…he…he…!
    Kunjungi blog saya ya!
    Salam sukses,semoga kita semua dapat berbuat lebih untuk perekonomian Indonesia dan dunia lewat penerapan ekonomi syariah!Amin
    By: The Alternate Fighter

  3. Assalamu’alaikum.. Mba, minta tolong kalau bisa dibahas pula ttg perkembangan pasar modal pada umum nya.. biar bisa dibandingkan.. maklum masih banyak orang yang awam ttg pasar modal.. trims.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 102 other followers

%d bloggers like this: