<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Evi Syar'i &#187; Cerita Mualaf</title>
	<atom:link href="http://evisyari.wordpress.com/category/cerita-mualaf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://evisyari.wordpress.com</link>
	<description>Tauhid, Fiqih, Muamalah, Tariqh, Free E-Book, Free E-Kitab, Free Artikel, Free Download Software, Ceramah Islami, Kesehatan, Pernikahan, Mendidik Anak, Lowongan Pekerjaan And Anything About ISLAM</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 13:04:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='evisyari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7256b05fe2afc825b9d55b5c05f3ca58?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Evi Syar'i &#187; Cerita Mualaf</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://evisyari.wordpress.com/osd.xml" title="Evi Syar&#8217;i" />
		<item>
		<title>Gadis Kolombia itu Bersyahadah Lewat Internet</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/09/30/gadis-kolombia-itu-bersyahadah-lewat-internet/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/09/30/gadis-kolombia-itu-bersyahadah-lewat-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 05:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=1275</guid>
		<description><![CDATA[“Bueno mija, felicitaciones!” Ucapan selamat itu diberikan pada Saidah Paola Dugue Correa, gadis Kolombia yang kini menemukan Islam! ?
PENGANTAR. Namanya Saidah Paola Dugue Correa. Dia dilahirkan di kota Bucaramanga, Kolombia. Namun sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di kota Valledupar, sebuah kota yang terletak di bagian timurlaut Kolombia. Saidah merupakan sarjana Biologi dari Universidad de Santander [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=1275&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>“Bueno mija, felicitaciones!” Ucapan selamat itu diberikan pada Saidah Paola Dugue Correa, gadis Kolombia yang kini menemukan Islam!</em> ?</p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/cermin.jpg" border="0" alt="" width="74" height="74" align="left" /><strong>PENGANTAR</strong>. Namanya Saidah Paola Dugue Correa. Dia dilahirkan di kota Bucaramanga, Kolombia. Namun sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di kota Valledupar, sebuah kota yang terletak di bagian timurlaut Kolombia. Saidah merupakan sarjana Biologi dari <em>Universidad de Santander </em>(UDES), Bucaramanga. Kini menekuni pekerjaan sebagai seorang bakteriologis.? Perkenalan pertamanya dengan Islam adalah tatkala menerima sebuah e-mail dari seorang Muslim Mesir. Berawal dari sanalah dia tertarik dengan Islam dan akhirnya bersyahadah. Saidah saat ini bekerja dengan Mostafa Mohye, pria yang mengirim e-mail tersebut dan manejer sebuah proyek yang berpusat di Mesir. Proyek itu dikhususkan bagi para muallaf baru yang ada di Spanyol dan Amerika Latin. Berikut kisah lengkapnya:??</p>
<p align="center">—000—</p>
<p>“Sebelum masuk Islam saya menganut Katolik. Tapi saya tidak pernah mempraktekkan agama itu dalam kehidupan sehari-hari. Bisa disebut agama cuma di KTP,” kata Saidah di awal kisahnya. Kini, selepas masuk Islam, Saidah mengaku bangga menjadi seorang Muslimah. Dia sangat bersyukur dengan anugerah yang luar biasa itu.</p>
<p>?”Tahun 2004 merupakan awal ketertarikan saya dengan Islam, Alhamdulillah. Sebelum tertarik dengan Islam saya sebenarnya sudah punya rasa ingin tahu yang tinggi dengan budaya Arab, seperti musik Arab, lalu ingin ketemu dengan orang-orang Arab, dan banyak lainnya lagi. Saya juga sangat suka? kaligrafi Arab. Itulah beberapa hal yang saya suka dari dunia Islam, jauh sebelum masuk Islam,” kata dia.</p>
<p><strong>E-mail dari Mesir</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/MasjidMaicao.jpg" border="0" alt="" width="257" height="192" align="left" />Perlahan, sembari mempelajari budaya Arab itu tanpa disadarinya diapun “bersentuhan” dengan Islam. “Tahu tidak, pertemuan pertama saya dengan Islam adalah lewat internet,” lanjut Saidah. Ceritanya, satu hari di tahun 2004, Saidah menulis sebuah komentar singkat pada sebuah website Islam yang baru dibacanya. Di situ Saidah menulis bahwa dia sangat tertarik untuk mengetahui Islam.</p>
<p>Beberapa hari kemudian dia menerima sebuah e-mail yang berbunyi:”Anda tertarik untuk mendapatkan buku-buku gratis tentang Islam dalam bahasa Spanyol?”. Pengirim surat elektronik itu mengenalkan dirinya dengan nama Mostafa Mohye Mossad dan mengaku berasal dari Mesir. “Ketika membaca e-mail itu saya benar-benar surprise. Tetapi secara spontan hati saya dilanda sedikit keraguan. Mana mungkin ada orang mau berikan buku secara gratis. Ah, ini tidak normal,” aku Saidah.</p>
<p>Begitupun, meski Saidah tidak mengenali siapa itu Mostafa Mohye, dia tetap menaruh perhatian besar pada e-mail tersebut. Sebab, itulah kontak pertama dia dengan kalangan Islam. Perkara itu (keragu-raguan) tak membuatnya surut untuk mengetahui Islam lebih jauh. “Saya balas e-mail itu serta memberikan alamat rumah. Tak lama, kira-kira 2 bulan, buku-buku dimaksud sampai ke alamat saya,” kisahnya. Saidah mengaku sangat gembira sekaligus takjub. Ternyata keragu-raguannya tak terbukti.</p>
<p><strong>Mulai “berdakwah”</strong></p>
<p>?”Kala itu, saya jadi tertarik untuk terus melakukan kontak dengan Mohye. Dia telah menunjukkan cara yang sangat menarik dalam mengenalkan Islam kepada nonMuslim,” tukasnya. Saidah bahkan mengirimkan Mohye alamat beberapa orang rekannya yang nonMuslim agar juga dikirimkan buku sejenis. Bukan main, rupanya Saidah mulai “berdakwah” pula. Dan yang membuatnya takjub, Mohye mengirim buku-buku Islam ke teman-temannya yang ada di berbagai negara dengan bahasa negara asal rekan-rekannya itu..</p>
<p>?”Juli 2004, kami mulai melakukan kerja dakwah. Kami berempat yakni Mohye, Maryam, Claudia dan saya sendiri membentuk sebuah kelompok kecil. Kini, tahun 2008, Alhamdulillah jaringan dakwah kami sudah luas. Tim kami berjumlah 30 orang yang bersal dari negara-negara latin seperti Kolombia, Argentina, Brazil, Chili, Peru, Meksiko dan lainnya. Tiap kelompok melakukan pertemuan dengan orang-orang yang tertarik dengan Islam,” pungkas Saidah.</p>
<p>Menariknya, Saidah sendiri justru belum bersyahadah lagi. Tapi dia sudah ikut membantu kegiatan dakwah Islam. Inilah yang bikin heran sebagian Muslim dan bahkan juga nonMuslim yang lain. Saidah terkadang sangat gigih mempertahankan Islam, jika ketemu dengan orang-orang yang salah dalam memandang Islam. Dengan sigap dia menerangkan kepada mereka? tentang kebenaran Islam.??</p>
<p><strong>Makin cinta Islam</strong></p>
<p>“Begitulah, bantuan berupa buku-buku referensi dari kawan-kawan, juga referensi dari internet, sangat membantu saya dalam mempelajari Islam. Kecintaan saya pada Islam makin hari makin bertambah. Belajar lewat internet sungguh menarik. Jalur diskusi online sangatlah membantu. Misalnya chatting. Saya banyak bertanya pada rekan-rekan Muslim melalui cara chatting ini. Jadi, dapat saya katakan perkenalan awal saya dengan Islam ya melalui internet,” lanjutnya.</p>
<p>Beberapa temannya kadangkala bertanya kenapa tidak masuk Islam. Saidah selalu menjawab bahwa dia cuma ingin belajar saja, tak ada keinginan untuk masuk Islam. Namun, hati nuraninya tak bisa dibohongi. Seiring dengan perjalanan waktu, dia mulai merasakan sesuatu yang lain di hati.</p>
<p>Saidah mengaku perlahan ada yang “mengalir” dalam hatinya. Tampaknya dia mulai menemukan kebenaran itu ada dalam Islam. Menurut dia, Islamlah agama yang benar. Satu-satunya jalan dan sekaligus cahaya kehidupan yang benar. “Itulah yang muncul dalam pikiran dan hati saya waktu itu. Dan, Mohye kerap menanyakan akankah saya bersegera untuk bersyahadah. Saya hanya menjawab belum lagi. Saya masih butuh beberapa lama lagi untuk memutuskan itu,” kata Saidah.</p>
<p>Memasuki 2007, sebagian teman-teman akhirnya? tahu ternyata Saidah belum bersyahadah lagi.</p>
<p>“Tapi pada kenyataannya saya sudah bersyahadah di dalam hati. Sebab saya telah yakin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya,” tukasnya.</p>
<p>Teman-temannya berujar:”Hatimu sebenarnya sudah Islam. Kamu seorang Muslim. Semua yang kamu lakukan adalah perbuatan seorang Muslim. Tapi kamu mungkin belum tahu, syahadah itu adalah perkara penting untuk sahnya keislaman seseorang.” Saidah akhirnya paham apa maksud rekan-rekannya itu.</p>
<p><strong>Ke Maicao</strong></p>
<p>Pada akhir Ramadhan 2007 Saidah melawat ke Maicao, sebuah kota di propinsi La Guajira, Kolombia, dengan seorang teman Muslimnya Aisyah. Saidah kesana untuk menemani Aisyah yang hendak bersyahadah.</p>
<p>Di Maicao, saat berada di mesjid, Saidah menyaksikan teman-teman mengerjakan shalat. Saat itu hatinya tergerak untuk berdoa dan bermohon pada Allah agar membantunya dalam mengambil keputusan.</p>
<p>“Ya Allah, jika ini memang jalan yang Engkau inginkan, tunjukilah jalan menuju Islam ya Allah,’ pintanya sungguh-sungguh.</p>
<p>Beberapa hari kemudian dia menyatakan pada Aisyah dan salah seorang rekan lainnya yakni Muhammad Hamoud tentang keputusannya (untuk memeluk Islam). Mereka terlihat sangat gembira sekali.</p>
<p>“Kamipun bersegera menuju ke mesjid guna mendeklarasikan syahadah itu. Oya beberapa saat sebelum kesana saya sempat menelpon kedua orangtua dan menceritakan keinginan masuk Islam pada mereka,” kisahnya lagi. Saidah merasa perlu memberitahukan kedua orangtuanya, sebab baginya keputusan tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.</p>
<p>Mendengar penuturan putrinya, Milciades, sang ayah? berujar dalam bahasa Kolombia:”<em>Bueno mija, felicitaciones</em>!” Artinya, putriku, selamat! Kalimat singkat dari sang ayah sudah lebih dari cukup bagi Saidah. Dia merasa tenang dan makin percaya diri.</p>
<p>Sementara ibunya, Luisa, awalnya sedikit bingung dengan keputusan anaknya itu. Namun akhirnya dia paham kemauan Saidah. “Ok anakku, kamu yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kamu”, ujar ibunya kala itu. Kebahagiaan Saidah makin bertambah. Dia bahkan berdoa semoga Allah merahmati mereka dengan hidayah-Nya.</p>
<p><strong>Bersyahadah via internet</strong></p>
<p>Saidah pun mendeklarasikan keislamannya via internet di depan dua orang saksi, yakni Mostafa Mohye dan Ahmed, keduanya dari Mesir. Baik keluarga maupun teman-temannya yang nonMuslim menyambut keislamannya itu secara tenang. Tak ada komentar-komentar miring.</p>
<p>?”Ya ada juga sedikit joke-joke kecil, tapi tidak masalah bagi saya. Alhamdulillah, yang terpenting saya masih bagian dari kehidupan mereka. Misalnya keponakan saya, Omar David yang baru berusia 6 tahun, sering meminta saya menulis kata Alah dalam bahasa Arab. Dia suka kaligrafi rupanya. David juga suka mendengar lagu-lagu Islam. Bahkan adakalanya dia meminta saya untuk membacakan beberapa potong ayat suci Alquran,” kata dia mengenang.</p>
<p>“Sungguh, keputusan untuk masuk Islam benar-benar datang dari lubuk hati yang dalam. Bukan karena paksaan seseorang atau hal lainnya. Itu semata-mata karena Allah telah menunjukkan jalan yang penuh cahaya kepada saya,” akunya.</p>
<p>Saidah berusaha menunjukkan budi pekerti terbaiknya guna menunjukkan bahwa Islam itu agama yang benar. Saidah beranggapan, selama ini banyak berita tentang Islam, baik melalui televisi ataupun media cetak, seringkali tidak adil dalam pemberitaannya.</p>
<p>“Benar bahwa ada sekelompok Muslim yang melakukan perbuatan keji dan merusak. Tapi janganlah menyalahkan Islam. Itu semata-mata kesalahan pemeluk bukan agamanya. Karena itu saya berpesan kepada semua Muslim untuk menunjukkan akhlak terbaik sepertimana diajarkan Islam dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hanya ini yang bisa merubah persepsi mereka yang tidak suka Islam,” pesan Saidah seraya menutup kisahnya. [<strong>Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com</strong>]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/1275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/1275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/1275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/1275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/1275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/1275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/1275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/1275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/1275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/1275/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=1275&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/09/30/gadis-kolombia-itu-bersyahadah-lewat-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/cermin.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/MasjidMaicao.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Islam Itu Indah: Kisah Yusuf Islam</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/09/07/islam-itu-indah-kisah-yusuf-islam/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/09/07/islam-itu-indah-kisah-yusuf-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 04:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu terakhir ini saya cukup banyak membaca cerita-cerita mengenai perjuangan para syuhada, para mualaf, dan Islam secara umum. Nah disini saya ingin lebih membahas tentang seorang seni dari Inggris yang sekarang mengabdi kepada Islam.
Ya dialah Yusuf Islam, nama asli pentasnya adalah Cat Steven. Dialah adalah orang inggris, yang dimana merupakan penyanyi yang cukup terkenal pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=1009&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seminggu terakhir ini saya cukup banyak membaca cerita-cerita mengenai perjuangan para syuhada, para mualaf, dan Islam secara umum. Nah disini saya ingin lebih membahas tentang seorang seni dari Inggris yang sekarang mengabdi kepada <span class="hilite">Islam</span>.</p>
<p>Ya dialah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Yusuf_Islam" target="_blank"><span class="hilite">Yusuf</span> <span class="hilite">Islam</span></a>, nama asli pentasnya adalah Cat Steven. Dialah adalah orang inggris, yang dimana merupakan penyanyi yang cukup terkenal pada masa itu (sekitar akhir 60an dan awal 70an). Salah satu lagu yang saya sukai adalah ‘Father and son’ (silahkan lihat <a href="http://www.youtube.com/watch?v=6TzJfsBB3mQ&amp;feature=related" target="_blank">di sini untuk versi sebelum ia masuk <span class="hilite">Islam</span></a>, dan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=a48EkBy-SUc&amp;feature=related" target="_blank">di sini ketika dia sudah memeluk <span class="hilite">Islam</span></a>).</p>
<p>Dan kenapa Cat Steven berpindah kepada <span class="hilite">Islam</span>? Inilah hal yang menarik. karena disaat dia dekat dengan kematiannya ia mendapat pertolongan tuhan. <a href="http://www.youtube.com/watch?v=pcgCdn8I8kU&amp;feature=related" target="_blank">Di sini (latar belakang <span class="hilite">Yusuf</span> <span class="hilite">Islam</span> dan keislamannya)</a> diceritakan bahwa ketika dia sedang berlibur di malibu (1975), dia terseret ombak ketika berenang di pantai. Dan dalam keadaan yang timbul-tenggelam itu, ia berkata “Oh God! If you save me, I’ll work for you”, dan secara perlahan-lahan ombak itu mengantarnya kembali ke pantai. Dan akhirnya dia mulai mencari tuhan, sampai suatu saat saudara kandung dia memberikan terjemahan dari Alquran kepada dia. Dan dari situlah ia menyadari akan keindahan Islam. Dan Alhamdulillah ia mulai memeluk <span class="hilite">Islam</span> pada tahun 1977, dan menukar namanya menjadi <span class="hilite">Yusuf</span> <span class="hilite">Islam</span> pada tahun 1978.</p>
<p>Kenapa memilih nama <span class="hilite">Yusuf</span>? seperti pernyataan dia dalam <a href="http://www.youtube.com/watch?v=pcgCdn8I8kU&amp;feature=related" target="_blank">video yang sama seperti di atas </a>(Video ini sangat dianjurkan untuk dilihat, dan ini bisa menginspirasimu menuju jalan Allah swt), ia sangat menyukai kisah Nabi <span class="hilite">Yusuf</span> dalam Alquran (Joseph dalam versi Inggrisnya), sehingga ia memilih nama tersebut.</p>
<p>Dan sekarang beliau mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan, kedamaian dunia, dan juga masih berkecimpung dalam bidang seni (penyanyi). Dan karya-karya lagu islaminya yang terkenal antara lain: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=-L-GOHa5-YQ&amp;feature=related" target="_blank">A is for Allah</a> (Lagu ini sangat dihimbau untuk didengar, dan eksplor lagu islami lainnya dari <span class="hilite">Yusuf</span> <span class="hilite">Islam</span>), <a href="http://www.youtube.com/watch?v=0Wkul6nQNUo&amp;feature=related" target="_blank">if you ask me</a>, <a href="http://www.youtube.com/watch?v=ZfQHOj-0RPs&amp;feature=related" target="_blank">I Look I See</a>.</p>
<p>Terakhir (satu minggu lalu) saya membaca tentang Pete Doherty (vokalis Band Babyshambles) ketika di penjara juga membaca terjemahan tentang AlQuran, dan dia sekarang memeluk <span class="hilite">Islam</span> (semoga kabar ini memang benar adanya). Saya harap Pete dapat seperti <span class="hilite">Yusuf</span> Islam, yang memang teguh dalam pendiriannya dan pembaktiannya kepada <span class="hilite">Islam</span>. Amin. (sumber Pete: <a href="http://www.detikhot.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/27/time/113338/idnews/930094/idkanal/230" target="_blank">detik</a>, <a href="http://www.alarabiya.net/articles/2008/04/27/48983.html" target="_blank">alarabiya.net</a> )</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kenapa orang yang terlahir dengan latar belakang bukan Islam dan ketika menjadi Islam dapat begitu mencintainya, mempelajari Alquran, membaca terjemahannya, dan mengaplikasakannya? Kenapa kita yang memang terlahir dari kalangan <span class="hilite">Islam</span> tidak melakukan itu?</p>
<p>Mari, mulai sekarang kita mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena sesungguhnya pertolongan dan perlindungan hanyalah dari-Nya.</p>
<p>1. <a href="http://www.mediafire.com/?imyrin2njon" target="_blank">Disini saya kepilkan instalasi ringan</a> (4.71 Mb) untuk terjemahan seluruh isi AlQuran yang berjumlah 114 surah (beserta ayat arabnya), lengkap dengan cerita para ahli hadits, artikel tentang hadits, kumpulal hadits dari shahih muslim dan 1100 hadits terpilih. (sumber: <a href="http://buku2gratis.blogspot.com/search/label/buku%20muslim" target="_blank">dari sini</a>)</p>
<p>2. <a href="http://www.iiu.edu.my/deed/quran/malay/" target="_blank">Dan disini versi web </a>untuk terjemahan seluruh isi AlQuran. Tapi hanya terjemahan tanpa ayat.</p>
<p>3. <a href="http://sholat-kita.cjb.net/" target="_blank">Disini</a> tentang salat fardu, bersucinya, tata cara, dzikirnya.</p>
<p>Sumber : http://adityawirawan.net</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/1009/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/1009/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/1009/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=1009&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/09/07/islam-itu-indah-kisah-yusuf-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jonathan Arnold : Dari &#8216;Belenggu Salib&#8217; Menuju &#8216;Keteduhan Islam&#8217;</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/jonathan-arnold-dari-belenggu-salib-menuju-keteduhan-islam/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/jonathan-arnold-dari-belenggu-salib-menuju-keteduhan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Kisah berikut adalah kisah seorang mu&#8217;alaf dari kota Malang mantan Pendeta Militan pelaku Pemurtadan yang banyak mengandung pelajaran berharga dan bahan renungan bagi kita bersama, berikut ini penuturannya.
Saya dilahirkan 14-Juli 1943 di kota Malang Jawa Timur, hari Minggu pukul 09.00 WIB saat lagu kidung suci dikumandangkan di Gereja. Ayah saya seorang militer AD yang ditokohkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=448&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Kisah berikut adalah kisah seorang mu&#8217;alaf dari kota Malang mantan Pendeta Militan pelaku Pemurtadan yang banyak mengandung pelajaran berharga dan bahan renungan bagi kita bersama, berikut ini penuturannya.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"></p>
<p>Saya dilahirkan 14-Juli 1943 di kota Malang Jawa Timur, hari Minggu pukul 09.00 WIB saat lagu kidung suci dikumandangkan di Gereja. Ayah saya seorang militer AD yang ditokohkan dan disegani oleh warga Kristiani (Protestan). Hidup dalam kedisiplinan yang tinggi adalah ciri keluarga kami. Sebagai seorang anggota militer, ayah saya telah menerapkan kedisiplinan yang tinggi dalam kehidupan kami dan sebagai seorang Kristiani yang ditokohkan, maka ayah saya termasuk yang sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Saya masih ingat betapa hebatnya orang tua menanamkan kebencian-kebencian dalam hati saya terhadap Islam. Menurut penuturan ibu, hal itu bermula dari tingkah laku oknum-oknum orang Islam yang banyak membikin sakit hati ayah. Itulah sebabnya saya dilarang bergaul dengan mereka dan selalu diawasi dengan ketat.</p>
<p>Pada usia tiga bulan saya di babtis di gereja GPI Malang dengan nama Jonathan Arnold. Tiga tahun kemudian saya mulai sekolah di sekolah Minggu ( Zondaag School ) di gereja, sampai kemudian melanjutkan ke SMP dan SLTA Kristen. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">1. Menjadi Pengkabar Injil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Kelebihan-kelebihan saya dalam sastra, kelancaran lidah saya dalam menyampaikan nas-nas suci BIBLE, ditunjang dengan keberanian dan penamplan saya yang meyakinkan, maka beberapa sesepuh Gereja menyatakan bahwa saya cocok sekali untuk menjadi pengkabar Injil. Inilah alasan ayah saya mengirim saya ke sekolah Theologia di kota Batu-Malang. Nilai akhir yang gemilang dan suksesnya theater yang saya tangani, para pendeta dan tokoh gereja mendesak orang tua saya agar mau mengirimkan saya ke Universitas Leiden-Belanda.</p>
<p>Perjalanan ke negeri Kincir Angin saya lewati dengan mulus, saya memilih jurusan Pekabaran Injil dan filosofia, prinsip mata kuliahnya tidak jauh berbeda dengan yang saya terima di STI Batu-Malang.</p>
<p>Setelah lulus dari Belanda, saya diangkat menjadi pendeta di kabupaten Lumajang pada akhir tahun 1967, saya langsung membentuk misi pekabaran yang sering dikenal dengan istilah kristenisasi, apa yang saya lakukan ini bukanlah hal yang baru. Hal ini telah dilakukan sejak zaman Belanda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">2. Perjalanan hidupku sebagai penginjil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Saya susun personil-personil yang cukup terlatih, terampil dan mau bekerja untuk Tuhan, ramah tamah, murah senyum dan tak kalah pentingnya bekal yang harus dimiliki anggota misi adalah sabar dan tahan pukul. Karena tugas meraka memang sangat berat. Mereka harus berani menyampaikan berita dari Allah dengan &#8216;door to door system&#8217;, Semua harus dilaksanakan dengan iklash, bersih hati dan senang. Karena Tuhan Yesus ( padahal Yudas-lah yang memanggul salib) telah rela memanggul salib sengsaranya yang cukup jauh. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk berberat hati. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">3. Mencari kelemahan orang Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Sebelum operasi benar-benar mulai, saya tebarkan anggota misi untuk meneliti dari dekat kehidupan orang-orang muslim. Ternyata ada 3 kelemahan :</p>
<p>Pertama, Banyak orang Islam yang ikut-ikutan, Islamnya hanya Islam KTP dan tidak paham tentang Islam.<br />
Kedua, seringkali terjadi perpecahan antar umat Islam.<br />
Ketiga, banyak umat Islam yang serakah, tamak, bakhil tidak mau menolong fakir miskin dan yatim piatu. Dengan tiga faktor ini saya mulai misi, darah militer orang tua rupanya mengalir dalam tubuh saya, seperti seorang jendral mengatur pasukan tempur, saya sebar anggota saya ke daerah-daerah terpencil, berpendidikan rendah dan berekonomi rendah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">4. Strategi memurtadkan orang Islam<br />
</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Saya menyebut misi ini dengan sebutan &#8216;Operasi Simpati&#8217;, yaitu agar memperoleh simpati orang-orang Islam dengan jalan menolong fakir miskin. Dana yang kami peroleh cukup besar, karena di samping bersumber dari jemaat sendiri juga dari luar negeri seperti : Belanda, Amerika dan Australia. Saya juga berpesan kepada anggota misi agar segala sesuatunya tidak berkesan menarik orang masuk Kristen. Yang kesulitan biaya untuk sekolah di beri bea siswa, yang sakit diberi obat-obatan, yang susah dihibur, yang lapar diberi makan, yang lemah ekonomi diberi modal, bahkan yang keluarganya matipun ditolong dalam biaya dan pelaksanaan pemakaman, maka operasi simpati ini tampak dari luar sebagai operasi kemanusiaan, sehingga orang Islam banyak yang tertarik masuk Kristen tanpa dipaksa.</p>
<p>Hasilnya sangat mengagumkan, dalam waktu singkat dapat memurtadkan hampir 1000 orang. Namun saya belum puas dengan hasil ini, saya meragukan kemurtadan mereka, apakah karena ekonomi atau benar-benar iklash masuk Kristen. Maka saya bikin formula baru yaitu saya kembangkan pergaulan bebas muda-mudi ala barat, saya kenalkan valentine day, pakaian dan kesenian barat, kebudayaan hingga olahraga dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mencuri waktu sholat hingga banyak anak-anak tidak sholat dan mengaji, padahal, hal tersebut sebelumnya telah menjadi budaya umat Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">5. Usaha saya melemahkan pondok pesantren</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Penyusunan sistem, metode, personil untuk pelayanan pekerjaan Tuhan juga telah saya persiapkan sangat matang, bahkan gerejapun sudah saya dirikan lengkap dengan sekedul kegiatannya. Dalam perjalan-an pengkabaran Injil ke daerah Jember saya rencanakan hendak melemahkan pondok-pondok pesantren, terutama pondok pesantren Kyai Haji Ahmad Shiddiq&#8221;. Di sinilah saya bertemu dengan gadis berkerudung putih, pertemuan yang kemudian membuahkan pernikahan antara pendeta dan gadis muslimah. Saya dapat menikahinya karena berpura-pura telah masuk Islam dengan surat palsu yang saya bikin di penghulu Jatiroto.</p>
<p>Rumah tangga berjalan aman hanya beberapa hari saja. Sebab masing-masing punya akidah yang tidak bisa dipertemukan, kebencian saya terhadap Islam makin lama semakin tidak bisa ditutup-tutupi, terjadilah pertengkaran demi pertengkaran dan setiap kali saya marah, istri saya tidak pernah melawan, yang dilakukannya yaitu langsung shalat dan baca Al-Qur&#8217;an. Dari sinilah timbul keinginan saya yang makin lama makin keras untuk mengetahui kandungan Al-Qur&#8217;an, maka saya pinjam AL-Qur&#8217;an yang ada terjemahannya terbitan dari DEPAG. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">6. Hatiku mulai mendapat petunjuk</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Terus terang saya belum pernah membaca Al-Qur&#8217;an, kalau membuang hampir tiap hari, pada suatu malam terjadilah sesuatu yang aneh, saat semua orang tidur nyenyak, sepi dan hening, Al-Qur&#8217;an saya buka dan seluruh tubuh saya seolah gemetar semua, ketika saya buka persis pada halaman yang ditandai benang pembatas yaitu surat Ar-Rahman, saya terpana dengan keindahan bahasa Al-Qur&#8217;an yang di ulang-ulang walau kalimatnya sederhana &#8216;Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan&#8221;.</p>
<p>Lembar demi lembar saya buka, dan sampailah pada &#8217;surat Maryam&#8217;, Maryam ibunya Yesus dikisah-kan dalam Al-Qur&#8217;an lebih terhormat, suci, luhur dan mulya dari pada kisah Maryam dalam Alkitab.</p>
<p>Begitu juga dengan sifat Tuhan dalam Al-Qur&#8217;an, Tuhan itu Esa adanya, ini berarti tidak boleh ada alternatif lain selain Allah SWT. Berbeda dengan Alkitab yang menyatakan Tuhan itu tiga yang amat tidak logis, apalagi doktrin Tuhan trinitas tersebut baru ada 325 tahun setelah Yesus diangkat kelangit. Al-Qur&#8217;an mengisahkan Allah itu kekal, yang membedakan antara mahluk dengan Tuhan, tetapi dalam Alkitab dikisahkan Tuhan telah mati di salib dan Tuhan dikisahkan kalah berkelahi dengan Ya&#8217;kub. Masih banyak hal-hal logis yang tidak saya jumpai dalam Alkitab yang membuat imanku mulai goyang.</p>
<p>Hari masih pagi ketika itu, langit tampak cerah dan matahari begitu hangatnya, semalaman saya tidak dapat tidur dengan pikiran yang kalut. Kemarin saya bertengkar dengan istriku, seperti biasa karena keyakinan yang berbeda. Pagi itu istriku minta dipulangkan ke rumah orang tuanya, karena tidak kuat menahan perasaan karena suami selalu memojokkan bahkan menghina keyakinan.</p>
<p>&#8220;Maaf mas, saya mau nikah sama mas karena kehendak orang tua. Di Islam hukumnya anak harus nurut sama orang tua. Saya sudah taat, tetapi rupanya saya mau di-Kristenkan, maaf mas, bagi saya lebih baik kehilangan Mas dari pada harus kehilangan Iman-Islam, Besok setelah sholat subuh antarkan saya kembali ke orang tua.&#8221;</p>
<p>Besok harinya, tiba-tiba istri saya sudah siap untuk minta dipulangkan ke orang tuanya. &#8220;Kamu harus tetap tinggal di rumah ini bersama saya&#8221; kata-kataku memulai dan dia menatapku dengan tajam. &#8220;sampai perasaanku hancur&#8230;sampai imanku hancur..??&#8221; tanyanya. &#8220;..Tidak..!!, aku tidak akan berbuat sekasar itu lagi terhadapmu, aku berjanji didepan Tuhan, kau bebas dengan agamamu, bahkan kau bebas membaca kitab sucimu. Tadi malam kitab itu telah aku baca, isinya luar biasa dan benar mutlak. Tapi maaf&#8230;aku masih belum yakin, bahwa Islam agama yang benar, aku akan menyelidiki&#8221; jawabku menjelaskan pada istriku. &#8220;Kalau Islam yang benar mas ?&#8221; tanya istriku. &#8220;Kalau Islam yang benar maka aku akan masuk Islam, tetapi kalau ternyata Islam yang salah atau keliru, maka kamu haarus masuk gereja&#8221; jawab saya menantang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">7. Iman saya mulai goyang dan tertarik dengan agama Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Saya mulai membeli buku-buku Islam, minta bantuan ke kedutaan-kedutaan Islam, bagian penerangan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Saya datang ke pondok-pondok pesntren mulai dari Banyuwangi sampai ke Kediri. Tidak ada waktu yang berlalu kecuali saya isi dengan belajar perbandingan agama, saya bertekad mencari kebenaran. Saya tidak ingin membohongi hati nurani.</p>
<p>Banyak sekali kebenaran hakiki yang saya jumpai dalam Al-Qur&#8217;an, semakin lama semakin nampak kejanggalan-kejanggalan dalam Alkitab, dalam Alkitab banyak sekali pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, banyak juga berkisah tentang pornografi dan mensifati Tuhan dengan sifat yang mustahil, belum lagi Alkitab tidak ditulis dalam bahasa Yesus. Kejanggalan-kejanggalan ini membuat saya semakin bernafsu mencari sampai dimana kekeliruan-kekeliruan Alkitab. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">8. Aku resmi keluar dari Gereja Protestan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Pada suatu malam saya bermimpi melihat menara gereja saya yang dikerubuti burung-burung. Langit mendadak terbuka, Para malaikat dan bidadari turun, dan seorang bidadari cantik menyanyikan lagu yang amat merdu, sampai saya terjaga dari tidur, dan masih kedengaran suara bidadari itu. Setelah saya amati, ternyata suara itu adalah suara istri saya yang sedang membaca Al Qur&#8217;an. Sejenak kemudian istri saya membangunkan saya &#8220;Mas&#8230; katanya ingin ketemu Tuhan, mari silakan&#8221;. Malam itu saya bangun, di luar hujan deras diselingi petir menyambar-nyambar. Saya bangun dan cuci muka lalu duduk di atas sajadah yang biasa digunakan istri saya sholat. Saya memang sering bangun tengah malam. Kalau istri saya sholat, saya cuma berdoa saja. Sementara hujan belum reda saya khusu&#8217; berdoa sampai tidak terasa air mata saya berlinang, saya memohon kepada Tuhan, &#8220;..Ya Tuhan tolonglah saya, berilah petunjuk kepada saya, kalau memang benar Yesus itu Tuhan, tetapkan hati saya, akan tetapi kalau bukan, tolong beri saya petunjuk kepada siapa saya harus menyembah&#8221;. Tiba-tiba badan saya menggigil, keringat dingin mengucur amat derasnya, kembali terngiang suara kiai-kiai, ulama-ulama, yang pernah berdialog dengan saya bahkan suara dari buku-buku Islam yang saya pelajari, seolah semua berkata &#8220;Islam adalah agama yang benar&#8221;.</p>
<p>Lalu secepatnya saya menulis surat kepada Dewan Gereja Jatirto-Lumajang dengan tembusan ke Jakarta, saya menyatakan keluar dari gereja protestan, dan ketika membaca surat saya, istri saya terkejut dan berkata, &#8220;Terlalu cepat pernyataan ini, sudahkah Mas pikirkan benar?&#8221;. Saya jawab, &#8220;Bagiku bahkan terlalu lamban, sekian lamanya aku terombangambing antara kebenaran dan ketidak benaran, aku sudah tak sanggup lagi membohongi diri sendiri&#8221;. &#8220;Sudah mantap benar Mas?&#8221;, tanya istri saya, &#8220;Yah, aku mantap bahwa Islam adalah agama yang benar!&#8221;. Jawab saya, &#8220;Kalau begitu mari saya bimbing membaca syahadat&#8221;. Lalu istri saya berwudhu dan sholat dua rakaat. Sementara itu saya melihat lonceng di dinding menunjuk pukul 02.10 WIB dini hari. Usai ia sholat, tangan saya dijabat, katanya, &#8220;Mari saya bimbing masuk Islam, disaksikan oleh Allah, seluruh malaikat, Nabi dan Rasul, termasuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, coba tirukan: Asyhadu Alla Ilahaillallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah&#8221;. Istri saya tak kuat menahan air matanya jatuh bercucuran. Dan sejak itu tersiarlah berita dari mulut ke mulut, &#8220;..Jonathan masuk Islam..!&#8221;. Majalah dan surat-kabar juga turut meramaikan. Ayahpun akhirnya mengetahui kalau saya masuk Islam dan memanggil saya pulang, ayah menyodorkan majalah ke hadapan saya dan saya menganggukkan berita tentang saya. Ayah marah sekali dan wajahnya nampak merah padam.</p>
<p>Ayah saya marah sekali, &#8220;Terlalu gila kamu..Biaya ayah habis banyak karena kamu. Ini berarti kamu telah mengkhianati cita-cita orang tua. Sekarang aku perintahkan kamu pulang kembali ke Malang dan kembali ke Gereja!&#8221;. Saya hanya dapat menundukkan kepala dan ti-dak berani menatap wajah ayah yang merah padam itu. Saya jawab, &#8220;Tidak ayah, saya sudah menyatakan masuk Islam dan saya sudah berjanji mati bersama Islam&#8221;. Ayah saya semakin berang dan tiba-tiba menggedor meja, &#8220;Terlalu gila..jadi kau sudah benar-benar hendak meninggalkan gereja?&#8221;. Saya hanya bisa menganggukkan kepala, langsung ayah saya menyahut tidak senang, &#8220;Baiklah kalau kamu sudah tidak bisa diatur lagi, kamu tidak usah mengaku orang tua di sini, keluar! Dan jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!&#8221;. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">9. Saya diusir dan kerja di pabrik gula</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Sejak itu saya diusir dan sayapun meninggalkan rumah . Di Jatiroto, saya ajak istri saya untuk segera meninggalkan rumah dinas Gereja. Tidak ada yang saya bawa dari rumah itu, sebab saya memang merasa semua kekayaan di rumah itu milik gereja. Selanjutnya, saya ditolong oleh orang-orang Islam, ditempatkan di rumah dinas PG. Jatiroto yang kebetulan tidak ada yang menempati.</p>
<p>Alhamdulillah, berkat perjuangan tokoh-tokoh Islam akhirnya saya masuk dan menjadi karyawan PG.Jatiroto. Saya mulai belajar sholat dan membaca Al-Qur&#8217;an, dibawah tuntunan istri saya sendiri.</p>
<p>Satu ketika, disaat lagi asyik-asyiknya belajar sholat, datanglah adik saya yang anggota marinir dua jip lengkap dengan anggota-anggotanya. Agaknya keluarga saya di Malang tetap akan memaksa saya kembali ke Malang dan kembali mengelola gereja. Saat itu dengan tegas saya jawab,&#8221;Maaf, saya sudah memilih Islam dan berjanji mati dengan Islam!&#8221;. Agaknya sudah diatur sebelumnya, begitu mendengar jawaban saya, ia langsung membuka sabuk kopelreim dan dipukul-pukulkan di kepala saya dan saya terjatuh ke lantai dengan berlumuran darah. Saya baru sadar kembali setelah di RS Jatiroto.</p>
<p>Kala itu, ulama-ulama dan tokoh-tokoh agama Islam sama berdatangan menjenguk saya di RS. Jatiroto. Setelah peristiwa itu, beberapa ulama dan kyai mulai menampilkan saya di masjid-masjid untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran ajaran Islam. Atas bimbingan dan dorongan dari mereka itulah saya akhirnya lebih giat lagi mempelajari, memperdalam Al-Qur&#8217;an dan Hadits.</p>
<p>Saya mulai dikenal masyarakat Islam secara luas, waktu-waktu saya terisi dengan acara-acara pengajian, dari kampung ke kampung, dari pesantren ke pesantren, dari kota ke kota, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatera Selatan, Kalimantan dan Alhamdulillah sampai ke Malaysia.</p>
<p>Bapak M. Nasir dengan Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) nya mendengar cerita tentang saya dan pada tanggal 29 Agustus sampai dengan 8-9-1991 saya mendapat kehormatan diundang pada kesempatan Silaaturrahmi Jamaah Muhtadien di Cisalopa, Bogor Jawa Barat, dimana pada kesempatan itu dihadiri pula oleh para Pengurus Rabithah Al Alam Islamy dari Saudi Arabia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US">10. Bergabung ke jamaah Muhtadien</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
Forum silaturrahmi Jamaah Muhtadien ini adalah suatu acara yang diselenggarakan oleh orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT yang kemudian masuk Islam, mereka terdiri dari bekas orang-orang Kristen, Pendeta maupun Pastur.</p>
<p>Sejak itu, setiap kali diundang pengajian, saya selalu dipanggil dengan &#8220;Haji Muhammad Abdillah&#8221; sebenarnya saya merasa sangat malu, karena saya belumlah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.</p>
<p>Pada suatu malam, sepulang dari acara pengajian, sebelum berangkat tidur saya menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat tahajjud. Pada saat sholat itulah, sengaja saya menangis dihadapan Allah SWT, saya bermunajat, memohon kemurahan Allah SWT agar saya dapat menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Setelah sekian puluh kali hal ini saya lakukan, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim mendengar munajat saya dan Alhamdulillah pada musim haji tahun 1992, di suatu pagi sekitar tiga hari setelah hari raya Idul Fitri, datang kepada saya sepucuk surat undangan dari Raja Fadh Arab Saudi yang isinya mengundang saya untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Allah sungguh Maha Besar, saya seolah dalam mimpi ketika tiba-tiba saya sudah bersujud di Masjidil Haram persis di muka Ka&#8217;bah. Kala itu air mata saya tak terbendung lagi, mengalir deras membasahi pipi dan seolah-olah menjeritkan suara hati saya, &#8220;.. Yaa Allah, pada akhirnya telah sampailah perjalanan saya yang sangat meletihkan dari Yerusalem ke Tanah Suci Mekkah, ampuni dan terima taubat hambamu ini dan jadikan hambamu ini termasuk golongan haji yang mabrur&#8230;amien Ya Robbal Alamin..&#8221;. (al-islahonline)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/448/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/448/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/448/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=448&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/jonathan-arnold-dari-belenggu-salib-menuju-keteduhan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/kisah-islamnya-syeikh-yusuf-estes/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/kisah-islamnya-syeikh-yusuf-estes/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya ia bekerja sebagai musisi di gereja sekaligus penginjil. Namun kini, ia berkeliling dunia dan telah banyak mengislamkan orang 
Hidayatullah.com&#8211;Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan seorang pengusaha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=446&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Awalnya ia bekerja sebagai musisi di gereja sekaligus penginjil. Namun kini, ia berkeliling dunia dan telah banyak mengislamkan orang </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hidayatullah.com&#8211;</span></strong></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim. Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu. Namun akhirnya ia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di <em><span style="font-family:Georgia;">PeaceTV</span></em>, <em><span style="font-family:Georgia;">Huda TV</span></em>, demikian pula <em><span style="font-family:Georgia;">IslamChannel </span></em>yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk “<em><span style="font-family:Georgia;">Qasas Ul Anbiya</span></em>” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya, ia menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara sejak tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di situs <a href="http://www.islamtomorrow.com/"><span style="color:windowtext;">www.islamtomorrow.com</span></a>. Di bawah ini adalah penuturannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti pendeta,<em><span style="font-family:Georgia;"> rabi </span></em>(ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya dimanapun mereka berada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan dengan hal berbau Arab.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui <em><span style="font-family:Georgia;">e-mail </span></em>kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam. Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga Allah ridha.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Keluarga Kristen taat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut <em><span style="font-family:Georgia;">WASP </span></em>(<em><span style="font-family:Georgia;">white anglo saxon protestant</span></em>). Keluarga kami adalah penganut Kristen yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha, Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali, yakni Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “<em><span style="font-family:Georgia;">Estes Music Studios</span></em>.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan:”Apakah Tuhan yang menulis Bibel?” Biasanya jawabannya adalah: “Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.” Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan,”Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Mencari Tuhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun kata “Trinitas.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” tersebut. Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Jumpa pria Mesir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu seorang Muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, <em><span style="font-family:Georgia;">no way</span></em>! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam “aturan” khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan “Yesus Tuhan Kami.” Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Interogasi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai “menginterogasi” pria Mesir tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawabannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya. Fantastik!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Menjadi Mitra  Bisnis</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Satu ketika salah seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Pria di kursi roda mencari Tuhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; “Sebenarnya saya dulu seorang pendeta.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sang pendeta masuk Islam!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian apapun?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sekeluarga masuk Islam</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang punya motto terkenal, &#8221; <em><span style="font-family:Georgia;">where we&#8217;re always open 24 hours a day and always plenty of free parking</span></em>.&#8221; (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis).</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin. [<strong><span style="font-family:Georgia;">Zulkarnain Jalil</span></strong>, <em><span style="font-family:Georgia;">kontributor <a href="http://hidayatullah.com/"><span style="color:windowtext;">www.hidayatullah.com</span></a> di Aceh]</span></em> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/446/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/446/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/446/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=446&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/kisah-islamnya-syeikh-yusuf-estes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memeluk Islam Setelah Chatting</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/memeluk-islam-setelah-chatting/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/memeluk-islam-setelah-chatting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Chatting biada digunakan banyak orang untuk keperluan tak bermanfaat. Tapi melalui Chatting, seorang remaja Yahudi justru memeluk  Islam
Hidayatullah.com&#8211;Musa Caplan nama lengkapnya. Baru berusia 16 tahun. Sebelum memeluk Islam, Musa beragama Yahudi. Keluarganya bukanlah dari kalangan Yahudi tradisional (orthodok). Namun ia justru belajar agama dari penganut tradisional.
“Aku belajar agama dari kelompok Yahudi Orthodok di sinagog (rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=444&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Chatting biada digunakan banyak orang untuk keperluan tak bermanfaat. Tapi melalui Chatting, seorang remaja Yahudi justru memeluk  Islam</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hidayatullah.com&#8211;</span></strong></em><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Musa Caplan nama lengkapnya. Baru berusia 16 tahun. Sebelum memeluk Islam, Musa beragama Yahudi. Keluarganya bukanlah dari kalangan Yahudi tradisional (orthodok). Namun ia justru belajar agama dari penganut tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Aku belajar agama dari kelompok Yahudi Orthodok di sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi-red). Demikian pula pendidikan formal juga di sekolah orthodok,” tutur Musa. Tinggal di komunitas Yahudi Orthodok di Amerika   Serikat, ia seakan ”putus” kontak dengan dunia luar. Otomatis kala itu Musa tidak punya teman non-Yahudi sama sekali. Melalui bantuan internetlah ia mendapatkan banyak teman, terutama dari kalangan Islam. Dari diskusi online, ia justru mulai ragu dengan agamanya dan akhirnya bersyahadah via internet. Berikut kisahnya seperti dituturkan di di situs <strong><span style="font-family:Georgia;">readingislam.com</span></strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Kenal Islam lewat internet</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Belakangan, sejak kenal internet, aku jadi suka chating. Dari situlah bisa kenalan dengan berbagai macam kalangan, suku dan agama,” imbuhnya. Bahkan, <em><span style="font-family:Georgia;">e-mail </span></em>Musa secara perlahan mulai terisi oleh teman-temannya yang beragama Islam. Sejak saat itulah ia mulai tertarik dan antusias mempelajari Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Aku menaruh perhatian sangat spesial dengan Islam. Kami saling bertukar info tentang Tuhan, nabi, moral, dan nilai-nilai agama. Perlahan aku jadi tahu banyak tentang Islam. Ternyata Islam adalah agama yang penuh damai. Begitupun aku belum bisa menghilangkan imej buruk tentang Islam. Misal ketika kudengar ada serangan teroris, sama seperti yang lainnya, aku menuding Islam itu ekstrem.” aku Musa. Beruntungnya ia punya kenalan online beragama Islam. “Dialah yang telah membuka pintu Islam kepadaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Alhasil ia justru jadi banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah agama Islam mengajarkan hal itu (membunuh orang tak berdosa)? Katanya Nabi Muhammad adalah seorang pejuang besar dan tidak pernah membunuh orang tak berdosa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Dari diskusi itu aku yakin Islam juga mengajarkan respek, damai, dan toleransi. Tidak pernah disebutkan untuk membunuh orang selain Islam. Dalam Al-Quran ada satu pelajaran yang sangat berharga dan dalam maknanya:”Membunuh seseorang, sama dengan merusak seluruh dunia.” Musa menyitir sebuah ayat Al-Quran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (Al-Ma&#8217;idah:32)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Setelah yakin Islam bukan agama perang, Musa memutuskan untuk mempelajari Islam lebih mendalam. Ia justru menemukan keragu-raguan dalam agamanya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Entah mengapa pandanganku sangat cocok dengan pandangan Islam. Aku bahkan menduga Kitab Perjanjian Lama, misalnya, telah banyak diubah. Diubah semata-mata untuk kepentingan materi.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Hal menarik lainnya yang membawaku makin condong ke Islam adalah kebenaran ilmiah (<em><span style="font-family:Georgia;">scientific truth</span></em>) yang ada dalam Al-Quran. Kandungan ilmiah Al-Quran luar biasa. Misal Quran menceritakan bagaimana kejadian manusia yang berawal dari sperma manusia. Asal mula kehifupan manusia sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran itu jauh sebelum ilmu pengetahuan ditemukan,” tukas Musa mantap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Al-Quran juga menyatakan bagaimana gunung-gunung dibentuk dan berbicara tentang lapisan atmosfir! Ini semuanya hanya beberapa dari begitu banyaknya penemuan-penemuan ilmiah, yang telah ada dalam Al-Quran 1400-an tahun yang lalu jauh sebelum penemuan-penemuan ilmu pengetahuan saat ini. Inilah salah satu kunci atau faktor yang menghantarku menemukan kebenaran dalam kehidupan,” lanjutnya bersemangat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Musa menambahkan ada banyak website (situs) yang sangat bias dalam mengartikan ayat-ayat tertentu. Misalnya ayat-ayat tentang “perang”. Dikatakannya, kebanyakan situs-situs itu mengambil frase “perang”tersebut untuk membuat opini bahwa Islam agama suka perang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Padahal tidak demikian. Dalam bahasa Arab, kata Islam berasal dari salama yang bermakna “damai atau selamat”. Aku sangat yakin Islam agama damai.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tidak berani tinggalkan shalat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Menilik usianya yang masih sangat muda dan tinggal di lingkungan kaum Yahudi, Musa menghadapi banyak tantangan. Terutama dari keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Sungguh sangat sulit bagi mereka jika tahu aku telah berganti keyakinan. Jujur saja, keluarga dan sanak famili semua sayang padaku. Apa reaksi mereka kala mengetahui anak laki-laki kesayangannya telah masuk Islam? Karena itu, sementara waktu aku tak bisa leluasa memperlihatkan kehidupan Islam secara sempurna dalam kehidupan harian. Namun aku bersyukur kepada Allah, diberikan kekuatan hingga tetap bisa menunaikan shalat lima waktu dengan lancar. Khusus shalat saya berjuang untuk tidak meninggalkannya,” tutur Musa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Menariknya, tatacara amal ibadah dalam Islam, semisal shalat dipelajarinya melalui <em><span style="font-family:Georgia;">chatting </span></em>dengan rekan muslim dan juga <em><span style="font-family:Georgia;">browsing </span></em>di internet. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Paling kurang aku bisa tetap memelihara keyakinan pada Allah. Beberapa hal lain, secara fisik, lumayan sulit mengekspresikannya di khalayak ramai.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Musa belum berani memberitahukan kepada kedua orangtuanya bahwa sudah memeluk Islam. Karena itu pula ia belum berani keluar rumah guna mendatangi mesjid untuk shalat. Seperti disebutkan di atas, tempat tinggalnya adalah kawasan Yahudi Orthodoks dan mesjid yang ada letaknya pun sangat jauh dengan rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Karena usia yang masih sangat belia, Musa terkadang sulit mengendalikan emosinya. Misal kala berdebat sesuatu tentang Muslim, katakanlah tentang Timur Tengah, hatinya jadi mudah meletup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Saat diskusi seluruh anggota keluarga sudah pasti mendukung Israel. Mereka tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Seperti bangsa Palestina, saya pikir seharusnya mereka memperlakukan rakyat disana secara baik. Ketika keluargaku bicara tentang situasi di sana, terutama saat mereka menyebut-nyebut “Tanah suci bangsa Yahudi” atau “Tanah Impian”, entah kenapa hatiku menolaknya dan bahkan ada rasa marah. Saya jadi gampang tersinggung.” aku Musa panjang lebar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sulitnya bersyahadah di khalayak ramai</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Aku belum mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan syahadah dengan disaksikan khalayak ramai. Meskipun begitu aku telah bersyahadah di hadapan yang Maha Menyaksikan, yakni Allah SWT. Nanti ketika umurku sudah cukup dan dianggap dewasa untuk bepergian sendirian, maka aku berniat untuk melangkah ke mesjid, insya Allah. Hal terpenting saat ini adalah meningkatkan kualitas diri (iman),” ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Diam-diam Musa bahkan mulai berdakwah dengan mengajak rekan-rekan sepermainannya untuk meninggalkan minum-minuman keras, nonton film porno, menjauhi obat-obatan terkarang dan juga menghilangkan kebiasaan mencuri. Namun tentu saja hal itu tidaklah mudah. Musa mencoba semampu yang ia bisa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Semuanya demi dan untuk Allah. Aku berharap sepanjang waktu yang ada bisa mengerjakan apa yang Allah maui dari hamba-Nya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Musa, uniknya, tidak mau disebut telah menemukan Islam atau masuk Islam ataupun telah mendapatkan cahaya terang selepas berada dalam kegelapan. Akan tetapi ia ingin dikatakan telah kembali kepada Islam. Semoga Allah menuntunnya kepada jalan yang benar sebagaimana Allah telah tuntun kita semua. Amiin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Dianggap sudah mati</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Peristiwa masuk Islamnya kalangan Yahudi memang sering bikin heboh. Kebanyakan komunitas dan terlebih keluarga si muallaf tidak bisa menerima hal itu. Seperti peristiwa kaburnya seorang gadis Yahudi baru-baru ini di Yaman. Terakhir diketahui sang gadis telah memeluk Islam. Kabarnya di sana peristiwa seperti itu telah puluhan kali terjadi. Untuk kasus seperti itu, maka pihak keluarga si muallaf Yahudi melakukan upacara kematian dan menganggap salah satu anggota keluarganya telah mati, karena keluar dari agama Yahudi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Maryam Jamilah, penulis buku Islam terkenal dan seorang muallaf Yahudi Amerika yang masuk Islam tahun 1961, pernah mengalami masa-masa sulit selepas berganti keyakinan. Diceritakan kala itu ia dianggap sudah tidak ada lagi oleh anggota keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Keluarga saya menyusun opini bahwa saya sudah keluar (dari Yahudi). Saya diperingatkan, dengan memeluk Islam kehidupan saya akan sulit, Karena Islam bukan bagian dari Amerika. Dikatakan mereka, dengan ber-Islam maka saya akan diasingkan dari keluarga dan masyarakat,” kisah wanita yang punya nama asli Margaret Marcus itu sebagaimana disitir <em><span style="font-family:Georgia;">Islamreligion</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Jujur saja, pada masa itu saya belum begitu kuat menghadapi serangan dan tekanan seperti itu. Hingga jatuh sakit. Bahjan saya berencana berhenti dari kuliah. Selama dua tahun saya berada dalam perawatan medis khusus,” lanjutnya. Maryam mulai bersentuhan dengan Islam kala baru berumur sepuluh tahun. Satu ketika ia pernah berujar begini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Delapan tahun di sekolah dasar, lalu empat tahun di sekolah menengah dan satu tahun di akademi. Saya belajar bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Latin dan Yunani, Aritmatika, Geometri, Aljabar, Biologi, Sejarah Eropa dan Amerika, Musik dan Seni, akan tetapi saya tidak pernah mengenal siapa Tuhan saya!” Begitulah. <em><strong><span style="font-family:Georgia;">[</span></strong></em><strong><em><span style="font-family:Georgia;">zulkarnain jalil, </span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">kontributor</span></em><strong><em><span style="font-family:Georgia;"> <a href="http://hidayatullah.com/"><span style="color:windowtext;">www.hidayatullah.com</span></a> </span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">di Aceh.</span></em></span><span lang="EN-US"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/444/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/444/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=444&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/memeluk-islam-setelah-chatting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dianggap Gila Setelah Menemukan Islam</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Hidayatullah.com&#8211;Namanya Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs www.readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=442&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hidayatullah.com&#8211;</span></strong></em><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Namanya Yahya Schroeder. Ia <em><span style="font-family:Georgia;">muallaf </span></em>baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs <a href="http://www.readingislam.com/"><span style="color:windowtext;">www.readingislam.com</span></a> (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesame saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">***</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman. Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. “Mereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,” ungkap pemuda murah senyum itu. <em><span style="font-family:Georgia;">Na’uzubillah!.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Jika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam=Arab.  Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,” imbuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Masa remaja penuh ceria</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. “Aku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya<em><span style="font-family:Georgia;"> happy</span></em>,” ujar Yahya mengenang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Kala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain,” sambungnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Memasuki umur 16 tahun ia bersua dengan komunitas Muslim di kota Potsdam melalui perantaraan ayah kandungnya. Ayahnya memang telah duluan memeluk Islam tahun 2001. Ya kendati telah bercerai dengan sang ibu, namun Yahya senantiasa menjenguk ayahnya sekali dalam sebulan dan sering pula menghadiri pengajian warga muslim disana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Secara perlahan, Yahya mulai tertarik dengan Islam. Rupanya sang ayah memerhatikan gejala itu. Sang Ayah ingin ia belajar lebih jauh tentang Islam dari orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Sejak saat itu Yahya mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Satu ketika, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan, yang nantinya merubah semua jalan hidupnya. “Ceritanya, satu hari aku ikut kawan-kawan pergi berenang. Nah saat melompat ke kolam, aku terpeleset dan jatuh tidak sempurna. Akibatnya, punggungku mengalami retak berat dan kepala berbenturan hebat dengan dasar kolam. Cederaku cukup parah hingga ayah segera melarikanku ke rumah sakit.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Di rumah sakit, dokter menyarankan agar jangan banyak bergerak. Cedera punggungku cukup parah yang mengakibatkan engsel tangan kanan bergeser. Katanya: “Nak, janganlah banyak bergerak. Sedikit saja salah bergerak bisa menyebabkan cacat nantinya.” Kalimat dokter itu sungguh sangat tidak membantu. Malah membuatku tertekan luar biasa.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sejurus kemudian, sebelum dibawa ke ruang operasi, Ahmir salah seorang sahabatnya berujar.”Yahya, hidupmu kini ada di tangan Allah. Ini mirip seperti sebuah perjudian, antara hidup dan mati. Kini kamu berada di puncak kenikmatan dari sebuah pencarian. Bertahanlah, sabarlah sahabat. Allah pasti bantu.” Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Operasi berjalan selama lima jam dan aku siuman selepas 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, aku merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa aku tidak peduli dengan cedera yang kualami. Aku justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,” kenang Yahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Dokter mengatakan aku harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi tahukah kawan, aku dirawat cuma dua pekan saja! Itu karena aku latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter datang dan bilang: ”Hari ini kita coba latihan naik tangga ya.” Padahal tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya aku telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,” sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Kecelakaan itu telah mengubah jalan hidupku. Aku jadi suka merenung. Jika Allah inginkan sesuatu, maka kehidupan seorang individu bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Aku pun mulai serius berpikir tentang hidup ini dan Islam tentunya. Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup disana,”ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Kala pindah ke Potsdam Yahya cuma membawa beberapa lembar pakaian, buku sekolah dan beberapa CD kesayangannya. Ia tinggal sementara di apartemen ayahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Kecil memang tempatnya, hingga aku musti tidur di dapur. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia, persis seperti kala terjaga dari siuman di rumah sakit selepas kecelakaan hebat itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Mengucap dua kalimah syahadah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Ada teroris”, “Usamah bin Laden datang,” “Islam itu kotor”. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Aku bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,” tukasnya </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool! Indah! Subhanallah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Perubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan aku melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, kini aku bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal akukah satu-satunya siswa Muslim di sekolah itu,” ujar Yahya senang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Mereka baru tahu ternyata Islam punya adab atau tata tertib dalam hidup. Yang menarik bagi mereka, Islam tidak ekslusif, tidak mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok khusus. Seperti di sekolahku ini,” imbuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Dikatakannya, di sekolah itu ada tiga kelompok utama yakni kelompok yang suka hura-hura. <em><span style="font-family:Georgia;">kongkow-kongkow</span></em>; lalu ada kelompok <em><span style="font-family:Georgia;">punk</span></em>; dan satunya lagi kelompok yang suka pesta-pestaan. Setiap orang selalu mencoba untuk jadi anggota kelompok dari salah satu grup, semata-mata supaya diterima oleh yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Kecuali aku! Aku tidak masuk kelompok manapun, namun diterima oleh semua mereka. Aku bisa menjadi teman bagi setiap orang. Tidak perlu menggunakan pakaian tertentu supaya dibilang “cool.” Bahkan mereka selalu mengundangku, demikian juga teman-temanku yang Islam pada acara-acara mereka,” kisah Yahya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Mereka menaruh respek pada Yahya sebagai seorang muslim. Bahkan lebih dari itu, jika ada acara mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan Muslimnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Bukan main! Kini mereka benar-benar terbuka dengan Islam. Aku hanya berdoa agar Allah beri mereka hidayah. <em><span style="font-family:Georgia;">Amiin</span></em>,” harapnya sembari berdoa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. <em><span style="font-family:Georgia;">YaYa Productions</span></em> nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang <em><span style="font-family:Georgia;">muallaf</span></em> dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Tujuan aku buat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,” ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah. [<em><span style="font-family:Georgia;">zulkarnain jalil </span></em>(<strong><span style="font-family:Georgia;">Aceh</span></strong>)/<a href="http://hidayatullah.com/"><span style="color:windowtext;">www.hidayatullah.com</span></a>]</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/442/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/442/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/442/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=442&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/dianggap-gila-setelah-menemukan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diancam Bunuh Setelah Bersyahadat</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/diancam-bunuh-setelah-bersyahadat/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/diancam-bunuh-setelah-bersyahadat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangannya “memeluk” Islam dilakukan dengan penuh resiko, ia bahkan diancam bunuh. Dulu ia ingin &#8216;mengkristen-kan&#8217; orang. Kini malah mengislamkan orang 
PENGANTAR. Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia divonis tak punya hak mengasuh kedua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=440&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Perjuangannya “memeluk” Islam dilakukan dengan penuh resiko, ia bahkan diancam bunuh. Dulu ia ingin &#8216;mengkristen-kan&#8217; orang. Kini malah mengislamkan orang </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><strong><span style="font-family:Georgia;">PENGANTAR</span></strong></span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">. Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia divonis tak punya hak mengasuh kedua anaknya, kecuali meninggalkan Islam. Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Begitulah ujian demi ujian datang menerpa Aminah Assilmi setelah memeluk Islam. Namun perempuan Amerika ini tetap tegar. Alhasil, dengan kuasa Allah, beberapa tahun kemudian neneknya yang telah berusia 100 tahun masuk Islam. Lalu bapaknya, diikuti ibu, kakak, anak lelakinya yang telah berusia 21 pun kemudian memeluk Islam. Bahkan, enam belas tahun setelah bercerai, mantan suaminya juga masuk Islam. Kini ia banyak diundang memberikan ceramah di berbagai tempat di Amerika. Satu kalimatnya yang terkenal: “Bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu.” Berikut kisah lengkapnya seperti dituangkan dalam <a href="http://www.islamfortoday.com/"><span style="color:windowtext;">www.islamfortoday.com.</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai Direktur <em><span style="font-family:Georgia;">International Union of Muslim Women </span></em>atau Persatuan Wanita Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman atas keyakinan yang dianutnya kini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya “<em><span style="font-family:Georgia;">Choosing Islam</span></em>”, Aminah menceritakan perjumpaannya dengan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Berawal dari kesalahan komputer</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (<em><span style="font-family:Georgia;">awards</span></em>). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma untuk urusan bisnis,” kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas <em><span style="font-family:Georgia;">Theatre</span></em>, sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan peserta lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah, juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut,” tambahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas alternatif itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab. Waktu itu saya menyebut mereka dengan “para penunggang unta”. Kontan gairah saya hilang,” kenangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah.“Saya tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!,” tulis Aminah dalam bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti dituntaskan segera.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Misi Kristenisasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi kita musti ikuti dia.” terang Aminah yang mengaku heran dengan kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun dengan apa yang diterangkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,” tukasnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya. Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir satu setengah tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Cari kelemahan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu menarik perhatian suaminya. “Sungguh, tanpa saya sadari ada perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti makan babi dan minum-minuman keras,” kisahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu. Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain. Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen. Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya. “Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal untuk memakai jilbab,” ujar Aminah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Didatangi lelaki berjubah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya malam itu,” tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang Islam yang masih menyelubungi pikirannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan. “Akhirnya, keesokan harinya, dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat itu 21 Mei 1977,” kenangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Dikucilkan Keluarga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam, penderitaan-penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya tenang:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S. 2;255).</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/xXx/LOCALS~1/Temp/msohtml1/07/clip_image002.jpg" border="0" alt="Image" hspace="6" width="180" height="311" /><strong><span style="font-family:Georgia;">Anggota keluarga masuk Islam</span></strong></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. “Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” kisah Aminah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas segala kekhilafannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tak malu tunjukkan identitas Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam berjudul “Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya. Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena para ibulah yang membentuk generasi masa depan,” ujar Aminah diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan, terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan moncong senapan ke wajahnya. “Itu hanya karena saya berjilbab,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi derajatnya. “Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat bodoh,” ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing hitam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu ‘alam bisshawab. [<em><span style="font-family:Georgia;">Zulkarnain Jalil</span></em>/<a href="http://hidayatullah.com/"><span style="color:windowtext;">www.hidayatullah.com</span></a>] </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/440/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/440/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/440/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=440&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/diancam-bunuh-setelah-bersyahadat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/xXx/LOCALS~1/Temp/msohtml1/07/clip_image002.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Tahun ini James Tak Perlu Natalan&#8221;</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 03:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Mualaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, James mengaku tak lagi merayakan Natalan. Ia tak ikut berkumpul dengan keluarganya menyantap kalkun dan alkohol.  Tapi ia bahagia!
 
Hidayatullah.com&#8211;James mengakui bahwa perjalanan menuju Islam cukup lama baginya, &#8217;sepuluh tahun&#8217; sejak ia berkenalan dengan teman-teman Muslim di tempat kerjanya. Ia tak paham dan agak menyesali kenapa harus begitu lama ?
Suatu petang James datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=437&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tahun ini, James mengaku tak lagi merayakan Natalan. Ia tak ikut berkumpul dengan keluarganya menyantap kalkun dan alkohol.  Tapi ia bahagia</span><span lang="EN-US">!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/xXx/LOCALS~1/Temp/msohtml1/05/clip_image001.jpg" alt="Image" hspace="6" width="89" height="134" /><!--[endif]--></span><em><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hidayatullah.com&#8211;</span></strong></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">James mengakui bahwa perjalanan menuju Islam cukup lama baginya, &#8217;sepuluh tahun&#8217; sejak ia berkenalan dengan teman-teman Muslim di tempat kerjanya. Ia tak paham dan agak menyesali kenapa harus begitu lama ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Suatu petang James datang ke tempat ku memenuhi janjinya untuk memasang <em><span style="font-family:Georgia;">scanner </span></em>dan printer. Ia datang usai bekerja. Ditemani teh hangat ala Inggris, saya bertanya pada sahabat <em><span style="font-family:Georgia;">muallaf</span></em> yang begitu baik menolongku untuk membersihkan komputer dari virus sekaligus membenahi file di komputerku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Bagaimana perasaan kamu pada bulan Desember ini? Apakah suasana Natalan tahun ini masih ada pengaruh pada dirimu? tanya saya padanya. “<em><span style="font-family:Georgia;">Well I am happy because I can get away this time, completely”, </span></em>ujarnya ceria. Inilah saat paling bahagia bagi James. “Tanpa perayaan, tidak ada tekanan untuk membeli makanan, maupun alkohol, aku sebenarnya merasa bebas dan ini pertama kali yang pernah saya rasakan. Saya sudah tak akan merayakan<em><span style="font-family:Georgia;"> Christmas </span></em>(Natalan) lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">James membuka lagi kenangan masa lalunya. Ia bercerita bahwa tahun lalu, walau ia sudah segan dan <em><span style="font-family:Georgia;">wegah </span></em>merayakan Natalan, namun karena dalam kondisi fikiran masih kacau &#8211;antara menghormati orangtua nya dan keraguan terhadap agamanya&#8211;  ia masih ingin melakukan kebiasan dan tradisi keluarganya,  merayakan Natalan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sebagaimana diketahui, hampir setiap keluarga di Inggris, menurutnya, mempercayai bahwa ini bukan perayaaan keagamaan tapi melulu acara tradisi budaya Eropa yang sudah dilakukan ratusan tahun. “Sudah tradisi!”, begitu istilahnya. Mereka berkumpul sekali dalam setahun. Rata-rata keluarga Inggris berkumpul dan menghidangkan masakan ayam kalkun yang di panggang dalam <em><span style="font-family:Georgia;">oven </span></em>lengkap dengan sayur mayur dan ditutup dengan puding krismas yang begitu berat, plus ditambah makanan lainnya dan tak lupa ditemani alkohol. Puncak dari acara ini, tentunya, membagikan hadiah bagi keluarga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Namun belakangan banyak diakui, kalau acara seperti ini adalah ‘tradisi Pagan’ guna memuja “Dewa Matahari”, dengan cara merayakan malam terpanjang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Tahun ini, si James tak akan menghadiri perayaan ini. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ibundanya ke 70, ia menjelaskan asalan mengapa kali ini dirinya tak akan menghadiri lagi perayaan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“<em><span style="font-family:Georgia;">&#8216;So don&#8217;t worry about chrismast pudding and Turkey Mum I just would not join the christmast this time”, &#8216; </span></em>ujarnya. “..alhamdulillah mereka paham dan menghargai keputusan saya”, tegasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sebetulnya banyak yang membujuk James untuk datang dan berkumpul dengan adik dan kakak serta para keponakannya. “Tapi, ibu saya kan tidak akan bisa dan tak paham memasak daging atau ayam halal, lagian walaupun ini bukan acara ritual atau relijius, kalau saya hadir berarti saya merestui perayaan ‘<em><span style="font-family:Georgia;">pagan’ </span></em>mereka”, ujar James. Belum lagi nanti pada acara minum alcohol. “Mereka akan menonton dan mentertawakanku jika tidak minum”, ujarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“<em><span style="font-family:Georgia;">Well</span></em>, <em><span style="font-family:Georgia;">masya Allah</span></em>, mereka menyambut baik dan  menghargai keputusanku dan bahkan cukup <em><span style="font-family:Georgia;">supportif</span></em>, dan mereka tahu sekarang saya Muslim dan saya tunjukan sajadah”,  ujar James.  Begitulah keputusan James. Kali ini, ia merasa terbebas dari beban beratnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Jadi apa yang akan kamu lakukan di hari natal nanti?”, tanyaku kembali.  “Oh..saya sudah <em><span style="font-family:Georgia;">booking </span></em>tiket 20 Desember ini, kabur ke Spanyol, dengan teman Muslim saya. Ingin melihat Alhambra dan sejarah peninggalan Islam di Spanyol”, ujarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Bagaimana dengan anak-anakmu? “Mereka sama ibunya dan neneknya. Biarkan tahun ini anak-anak sama ibu mereka, merayakan Natal. Nanti jika saya sudah punya rumah sendiri saya ajak mereka pindah kerumahku. <em><span style="font-family:Georgia;">And they will follow me</span></em>…”, ujarnya sambil tertawa lebar seakan yakin kalau anaknya akan mengikuti jejaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Demikian cerita si James. Tapi itu nama masa lalu. Kini, ia kerap dipanggil <em><span style="font-family:Georgia;">brother </span></em>Zakariyya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Jumpa Pertama </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Saya ingat, suatu Ahad, saat  pertama kali berjumpa dengannya di sebuah pengajian “StepstoAllah” di Islington, London utara. Jamse saat itu belum Muslim, ia masih mencari-cari dan meyakinkan dirinya. Entah bagaimana saat pengajian usai, ia berbisik kepada Hilaal. “<em><span style="font-family:Georgia;">I think now I would like to take shahadah</span></em>…<em><span style="font-family:Georgia;">I like to do it in the mosque, what do you think?</span></em>”. Dengan serta merta Hilaal menyambutnya. Kamipun terkejut, sekaligus terharu mendengarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Langsung, saya panggil ia dengan &#8216;brother&#8217; walau James belum resmi Muslim. “<em><span style="font-family:Georgia;">Brother, are sure you want to be Muslim</span></em>? tanyaku, “<em><span style="font-family:Georgia;">Well….hmm yess!”, </span></em>begitu gaya James berbicara dengan santun dan pelan. Sekalian mengetes keyakinannya, saya bertanya agak lebih serius. “Apa kamu merasa yakin? bagaimana media akan mengungkapkan kita sebagai suatu yang sangat jelek dan <em><span style="font-family:Georgia;">extreemist </span></em>jika kamu memilih menjadi seorang Muslim?”. “Apa tak sebaiknya dibatalkan?”, tanyaku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">&#8220;Ya aku mengetahuinya<em><span style="font-family:Georgia;">. Mmm</span></em> saya yakin tentang itu, terutama hari ini, aku kira tentang masalah ini telah aku pikirlan sangat lama. Tak akan menggangguku apapun yang dikatakan media. Sebab aku tidak mempercayai mereka. Dan hari ini aku lebih yakin”, demikian James menambahkan. Ia mengaku, mestinya ia sudah lama bershahadat dan masuk Islam namun ia terlalu banyak pertimbangan. “<em><span style="font-family:Georgia;">I am a very slow to decide&#8217; </span></em>ujarnya lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">James mengumumkan sekaligus mengundang kami lewat email rencana untuk melakukan shahadat. Di suatu hari Sabtu, di musim panas tahun 2007 , tepat ba&#8217;da dzuhurdi Masjid Regent Park, London James mengucapkan dua kalimah syahadat disaksikan beberapa teman. James hari itu mengenakan baju kemeja Koko ala Pakistan  berwarna putih. Ia nampak tenang. “Assalamualaikum sister, thank you”, sapanya kepadaku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Kami mendekatinya dan mengucapkan selamat kepadanya, “<em><span style="font-family:Georgia;">Well Done, congratulation, Mabruk…</span></em>!”  Saya menyaksikan penuh haru dan entahlah, akhirnya kami yang wanita atau <em><span style="font-family:Georgia;">sister </span></em>dapat giliran untuk mengucapkan selamat dan hanya dengan isyarat saja, tidak bersalaman. Usai berfoto, kami ke kantin untuk bertasyakur.”<em><span style="font-family:Georgia;">Lets go to cantin to celebrate</span></em>..”, undangnya. Sejak itu, James berganti nama menjadi Zakariyya. “<em><span style="font-family:Georgia;">Yes my namae is Zakariyya with two wai </span></em>(maksudnya y) ..” Di SMS dia serong menyingkatnya menjadi Zak, atau <em><span style="font-family:Georgia;">bro </span></em>Zak. Kadang lebih sering menyingkatnya menjadi initial Z. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hadiah untuknya dari para sahabat. Ada yang memberi kitab Al-Quran, buku tentang Islam, sajadah dll-nya. Kerlip lampu camera bergantian mengabadikan peristiwa penting ini. Akhirnya kami menikmati minuman dan makanan kecil berupa <em><span style="font-family:Georgia;">cheese cake</span></em>. Ia tak hentinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga, ia merasakan seperti mendapatkan keluarga baru. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Minggu depan kami berjumpa lagi dengan Zakariyya dipengajian. Lalu saya tanya bagaimana perasaan dia sejak ia menjadi Muslim. Konon ia merasa bahagia dan sepertinya betul-betul sudah Muslim begitu lama, padahal baru seminggu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Ramadhan pertama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Ramadhan tahun 2007 adalah merupakan tahun pertama bagi brother Zak melakukan <em><span style="font-family:Georgia;">shaum </span></em>atau puasa. Baginya <em><span style="font-family:Georgia;">shaum </span></em>merupakan pengalaman spiritual yang luar biasa, walau katanya pada dua hari pertama ia rasakan amat berat. Dan ia bisa memahami seperti apa laparnya, mereka orang-orang miskin yang papa yang tak mampu membeli makan, sedang secara fisik ia merasakan pembersihan racun-racun yang bersemayam ditubuhnya. “<em><span style="font-family:Georgia;">I really enjoyed fasting , it is like de-toxed your body, and I felt so light on the third week”, </span></em>kesannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Meski menjadi Islam baru 16 bulan, tapi Zak merasakan seakan sudah lama berislam dan menjadi Muslim seumur hidup. Namun ia mengaku, sesungguhnya secara fitrah dirinya sudah Muslim telah lama. Sebab menurutnyadari dulu ia tak pernah yakin tentang ajaran agamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Zakariyya menuturkan, kedua orangtuanya beragama Kristen tapi hampir tidak mempraktekan agamanya dan tidak ke gereja (<em><span style="font-family:Georgia;">they are not church goer</span></em>). “Saya selalu mengalami kesulitan menerima ajaran Kristen”, kenangnya. “Begitu banyak doktrin yang tidak mudah dicerna dan diterima oleh logika”, tambahnya lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hal ini  menyisakan perasaan dan jiwanya  yang kosong secara fisik, ia mengaku sepertinya tak punya arti apa-apa. Ruang yang luas dan besar itu sepertinya betul-betul hampa untuknya. “Ada sesuatu yang mengganjal dan saat itu saya tidak tahu apa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Saya berkenalan dengan seorang Muslim sepuluh tahun lalu, seseorang yang setia dan masih tetap menjadi teman baik saya. Saya memiliki juga beberapa teman Muslim yang selalu membuat saya terkesan dengan kebaikan, dan ketenangan teman Muslim ini. Mereka sangat rendah hati, santun dan rasa kemanusiaannya sangat menonjol. Mereka selalu siap menolong, dan selalu siap menjawab semua pertanyaan saya tentang Islam. Terus terang saja bahwa saya tidak pernah terlintas sebelumnya dan terfikir bahwa saya akan menjadi pemeluk Islam. Ini luar biasa.!” ujarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Pada musim semi tahun 2006, lanjutnya lagi, saya berjumpa seseorang yang memberi saya inspirasi untuk menjamah Al-Quran dan membacanya. Kebetulan saya tinggal dengan teman baik saya ini. Dia amengundang saya untuk membaca Al-Quran. Nah untuk menyentuh dan mengambil kitab Al-quran itu sebetulnya tidak susah dan tidak memerlukan waktu dan tenaga banyak yang mesti saya lakukan. Saya tinggal berjalan dari sofa ke rak buku yang cuma beberapa langkah untuk mendapatkan Al-Quran, mengambil kitab itu dan membacanya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Terjemahan pertama yang ia  baca adalah Al-Quran yang dipublikasi oleh <em><span style="font-family:Georgia;">Penguin Books</span></em>. Menurutnya,  ini bukan sebuah translasi yang terbaik, karena setelah dicermati si penerjemah cenderung untuk menafsikan semaunya dan tidak menerjemahkan secara benar atau dan tidak jujur tentang kebenaran. “Perasaan saya mengatakan seperti itu”, ujar Zakariyya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Namun ada satu hal yang baik dari penerjemah bahwa ia menyarankan untuk membaca surat-surat pendek dulu sebagai pemula dan permulaan karena surat lainya yang panjang itu sangat kompleks. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">“Ayat 55 dari surat <em><span style="font-family:Georgia;">Ar Rahman </span></em>dan ayat-ayat pada surat-surat <em><span style="font-family:Georgia;">At-Takwir </span></em>(surat 81) itu saya kaitkan dan kesimpulan yang saya ambil membuat saya termangu dan merenung yang membuat saya begitu takjub dengan Al-Quran dan agama Islam”, begitu kesimpulannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">&#8216;Saya ingat waktu pertama kali saya membaca Al-Quran, saya merasakan getaran dan dorongan kuat dihati saya. Oh, ingin rasanya saya masuk Islam seketika. Agama Islam dan Al-Quran menawarkan ajaran yang sangat alami, mudah dipahami dan diterima dan dicerna oleh logika dan hati sedang di dalam Al-Quran juga banyak menceritakan kisah-kisah dan kehidupan para Rasul dahulu. Semua ajarannya seakan pas dengan kehidupan saya dan yang saya yakini”, begitu kenangnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Hanya dalam waktu dua bulan Zakariyya selesai membaca Al-Quran. “Usai  membaca Al-Quran saya katakan kepada teman-teman Muslim dan keluarga tentang &#8216;Penemuan Baru&#8217; saya ini, lalu saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin masuk Islam dan sekaligus saya katakan alasannya mengapa. Saya katakan kepada mereka bagaimana dan apa itu Islam, juga makna untuk umum serta untuk kehidupan pribadi saya. <em><span style="font-family:Georgia;">Alhamdulillah </span></em>keluarga saya mendukung dan paham akan perasaan saya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sejam memeluk Islam, cukup banyak buku-buku dan literatur yang dibaca Zakariyya. Buku-buku seperti; Kehidupan Muhammad saw yang ditulis oleh Martin Lings dan beberapa buku yang ditulis oleh para <em><span style="font-family:Georgia;">muallaf </span></em>(reverts). Saat ini ia sudah memulai membaca terjemahan Al-Quran lainnya dan membaca buku-buku Sejarah Rasulullah. Ia juga sering mengunjungi beberapa masjid disekitar London dengan beberapa teman, sekaligus mempraktekan sholat. Sekali seminggu, sepulang bekerja, ia belajar  membaca Al-Quran dengan <em><span style="font-family:Georgia;">IQRA </span></em>yang diajarkan oleh <em><span style="font-family:Georgia;">brother </span></em>Hilaal. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan saya, ia mengungkap sebuah ayat paling favorit yang sering ia ingat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">&#8220;Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US"> (QS An-Nur:35). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="EN-US">[<em><span style="font-family:Georgia;">London</span></em><em><span style="font-family:Georgia;">, 17 Desember 2007. Ditulis oleh </span></em><strong><span style="font-family:Georgia;">Al Shahida</span></strong>]</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/437/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/437/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=437&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/08/tahun-ini-james-tak-perlu-natalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/xXx/LOCALS~1/Temp/msohtml1/05/clip_image001.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>