<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Evi Syar'i &#187; Tauhid</title>
	<atom:link href="http://evisyari.wordpress.com/category/tauhid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://evisyari.wordpress.com</link>
	<description>Tauhid, Fiqih, Muamalah, Tariqh, Free E-Book, Free E-Kitab, Free Artikel, Free Download Software, Ceramah Islami, Kesehatan, Pernikahan, Mendidik Anak, Lowongan Pekerjaan And Anything About ISLAM</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 13:04:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='evisyari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7256b05fe2afc825b9d55b5c05f3ca58?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Evi Syar'i &#187; Tauhid</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://evisyari.wordpress.com/osd.xml" title="Evi Syar&#8217;i" />
		<item>
		<title>Bersin dan Menguap</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/27/bersin-dan-menguap/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/27/bersin-dan-menguap/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 08:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=903</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس فحمد الله فحق على كل مسلم سمعه أن يشمته، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان فليرده ما استطاع، فإذا قال: ها، ضحك منه الشيطان )) صحيح البخاري في الأدب 6223
Dari Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=903&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rasulullah bersabda:</p>
<p>عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس فحمد الله فحق على كل مسلم سمعه أن يشمته، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان فليرده ما استطاع، فإذا قال: ها، ضحك منه الشيطان )) صحيح البخاري في الأدب 6223</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta&#8217;alaa anhu, Rasulullah bersabda, &#8220;Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya&#8221;. Shahih Bukhari, 6223.</p>
<p>Imam Ibn Hajar berkata, &#8220;Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077)</p>
<p>Nabi menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut.<br />
Rasulullah bersabda:</p>
<p>(( إذا عطس أحدكم فليقل الحمد لله، وليقل له أخوه أو صاحبه: يرحمك الله، فإذا قال له يرحمك الله فليقل: يهديكم الله ويصلح بالكم )) صحيح البخاري في الأدب: 6224</p>
<p>Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah Al-Hamdulillah, dan hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan Yarhamukallahu, dan bila dijawab demikian, maka balaslah dengan ucapan Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum (HR. Bukhari, 6224)</p>
<p>Dan para dokter di zaman sekarang mengatakan, &#8220;Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam !!! Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan &#8220;menguap&#8221; ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.</p>
<p>Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba&#8217; (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap (Lihat Al-Haqa&#8217;iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155)</p>
<p>( alsofwah.or.id &#8211; 13 Ramadhan 1424/071103 )</p>
<p>http://www.geocities.com/the_fact99/</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/903/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/903/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/903/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/903/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/903/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/903/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/903/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/903/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/903/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/903/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/903/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/903/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=903&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/27/bersin-dan-menguap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukti Tuhan Itu Ada</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/27/bukti-tuhan-itu-ada/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/27/bukti-tuhan-itu-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 08:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=901&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.</p>
<p>Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.</p>
<p>Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”</p>
<p>Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.</p>
<p>“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.</p>
<p>Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.</p>
<p>Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”</p>
<p>Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.</p>
<p>“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.</p>
<p>Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.</p>
<p>“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.</p>
<p>Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”</p>
<p>“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.</p>
<p>“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.</p>
<p>Orang banyak berkata, “Tidak!”</p>
<p>“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.</p>
<p>Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.</p>
<p>Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?</p>
<p>Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?</p>
<p>Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).</p>
<p>Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.</p>
<p>Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.</p>
<p>Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!</p>
<p>Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.</p>
<p>Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.</p>
<p>Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.</p>
<p>Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.</p>
<p>Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:</p>
<p>“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]</p>
<p>Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.</p>
<p>Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.</p>
<p>“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]</p>
<p>“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]</p>
<p>Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:</p>
<p>“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]</p>
<p>“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]</p>
<p>Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:</p>
<p>“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]</p>
<p>“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” [Al Waaqi’ah:63-64]</p>
<p>“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]</p>
<p>Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:</p>
<p>“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]</p>
<p>Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta</p>
<p>Sumber : http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/13/bukti-tuhan-itu-ada/</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/901/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/901/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/901/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/901/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/901/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=901&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/27/bukti-tuhan-itu-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan biarkan hatimu mati</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/06/jangan-biarkan-hatimu-mati/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/06/jangan-biarkan-hatimu-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 14:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[penyejuk kalbu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[
Kajian : Al-Hikam
“Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak menyesali perbuatan dosa anda.”
Hati yang mati disebabkan oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi Al-Madzmumat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=434&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="PostContent">
<h3>Kajian : <a class="st_tag internal_tag" title="Posts tagged with Al-Hikam" rel="tag" href="http://blog.abbahatun.com/tag/al-hikam">Al-Hikam</a></h3>
<blockquote><p>“Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak menyesali perbuatan dosa anda.”</p></blockquote>
<p>Hati yang mati disebabkan oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi Al-Madzmumat, dengan platform gerakan yang penuh dengan ketercelaan dan kehinaan, seperti takabur, ujub, riya’, hubbuddunya, kufur, syirik, dan sifat-sifat tercela lainnya. Ketika sikap-sikap mazmumat ini dihadapan pada kepentingan Allah, maka akan muncul tiga hal :</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Manusia semakin lari dari Allah, atau dia justru memanfaatkan simbol-simbol Allah untuk kepentingan hawa nafsunya, atau yang terakhir dia dibuka hatinya oleh Allah melalui HidayahNya.</span></p>
<p>Ibnu Ajibah menyimpulkan dari <a class="st_tag internal_tag" title="Posts tagged with Al-Hikam" rel="tag" href="http://blog.abbahatun.com/tag/al-hikam">al-Hikam</a> di atas, bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal :</p>
<ol>
<li>Mencintai dunia,</li>
<li>Alpa dari mengingat Allah,</li>
<li>Membiarkan dirinya bergelimang maksiat.</li>
</ol>
<p>Sebaliknya faktor yang menyebabkan hati hidup, juga ada tiga :</p>
<ol>
<li>Zuhud dari dunia</li>
<li>Sibuk dizikrullah</li>
<li>Bersahabat dengan Kekasih-kekasih Allah</li>
</ol>
<p>Sedangkan tanda-tanda kematian hati juga ada tiga:</p>
<ol>
<li>Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah.</li>
<li>Tidak menyesali dosa-dosanya.</li>
<li>Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati.</li>
</ol>
<p>Kenapa demikian? Karena munculnya kepatuhan kepada Allah merupakan tanda kebahagiaan hamba Allah, sedang munculnya hasrat kemaksiatan merupakan tanda kecelakaan hamba. Apabila hati hidup dengan ma’rifat dan iman maka faktor yang menyiksa hati adalah segala bentuk yang membuat hati menderita berupa kemaksiatan hati kepada Allah. Yang membuatnya gembira adalah faktor ubudiyah dan kepatuhannya kepada Allah.</p>
<p>Boleh saja anda mengatakan:</p>
<blockquote><p>Jika seorang hamba Allah bisa taat dan melaksanakan ubudiyah, itulah tanda bahwa hamba mendapat Ridlo Allah. Hati yang hidup senantiasa merasakan Ridlo Allah, lalu bergembira dengan ketaatan padaNya.</p></blockquote>
<blockquote><p>Jika seorang hamba Allah bermaksiat kepadaNya, itulah pertanda Allah menurunkan amarahNya. Hati yang mati tidak merasakan apa-apa, bahkan sentuhan taat dan derita maksiat tidak membuatnya gelisah. Sebagaimana yang dirasakan oleh mayit, tak ada rasa hidup atau rasa mati.<br />
Rasulullah saw, bersabda, “Orang yang beriman adalah orang yang digembirakan oleh kebajikannya, dan dideritakan oleh kemaksiatannya.”</p></blockquote>
<p>Soal Respon Terhadap Dosa</p>
<p>Namun, Ibnu Athaillah mengingatkan, agar dosa dan masa lalu, jangan sampai membelenggu hamba Allah, yang menyebabkan sang hamba kehilangan harapan kepada Allah. Karena itu, rasa bersalah yang berlebihan yang terus menerus menghantui hamba harus dibebaskan dari dalam dirinya. Sang hamba harus tetap optimis pada masa depan ruhaninya di depan Allah.</p>
<p>Kebesaran ampunan Allah tidak bisa dilampaui oleh seluruh dosa-dosa hambaNya. Ampunan Allah lebih agung, lebih besar dan lebih kinasih, pada hambaNya yang bertobat. Karena itu Allah berfirman,</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.”<br />
Oleh sebab itu jangan sampai perbuatan maksiat itu membuat hamba-hamba Allah menjadi Su’udzon kepada Allah.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Dosa besar apa pun, jangan sampai menghalangi Husnudzon (baik sangka) anda kepada Allah.”</p></blockquote>
<p>Wacana ini sekaligus mengingatkan kita pada pembuka kitab <a class="st_tag internal_tag" title="Posts tagged with Al-Hikam" rel="tag" href="http://blog.abbahatun.com/tag/al-hikam">Al-Hikam</a>,</p>
<blockquote><p>“Diantara tanda-tanda bergantung atau mengandalkan amal adalah rasa pesimis kepada rahmat Allah ketika sang hamba berbuat dosa.”</p></blockquote>
<p>Jika anda masih mengandalkan amal, bukan mengandalkan Allah, berarti anda akan pesimis jika kesalahan menimpa anda. Padahal kita harus menggantungkan diri pada Allah, mengandalkan Allah, bukan mengandalkan amal. Karena mengandalkan amal, bisa menciptakan rasa arogansi spiritual, dengan merasa paling banyak beramal dan taat, kemudian merasa paling benar, paling dekat dengan Allah.</p>
<p>Dalam soal harapan dan ketakutan, biasanya hamba terbagi menjadi tiga golongan;</p>
<ol>
<li>Golongan pemula, biasanya terliputi oleh rasa khawatir dan takut, dibanding dorongan harapan.</li>
<li>Golongan menengah, biasanya seimbang natara harapan dan ketakutannya.</li>
<li>Golongan yang sudah sampai kepada Allah, lebih didominasi rasa harapan yang optimis kepada Allah.</li>
</ol>
<p>Inilah yang tergambar pada saat gurunya Al-Junaid, Sarry as-Saqathy dalam kondisi Maqbudl (terhimpit oleh suasana ruhaninya dalam Genggaman Allah). “Ada apa gerangan wahai paman?” Tanya Junaid. “Oh, anakku, ada seorang pemuda datang kepadaku, kemudian bertanya padaku, “Apakah hakikat taubat itu?”. Aku jawab, “hendaknya engkau tidak melupakan dosa-dosamu…”. Tapi pemuda itu mengatakan sebaliknya, “Tidak. Tapi justru hendaknya engkau melupakan dosa-dosamu..” Lalu pemuda itu keluar begitu saja.</p>
<p>Kemudian al-Junayd menegaskan, “Ya, menurutku yang benar adalah kata-kata si pemuda tadi. Karena itu jika aku berada di musim panas, lalu mengingat musim dingin, berarti aku berada di musim dingin.”</p>
<p>Pandangan As-Sary, benar, bagi para pemula. Sedangkan pandangan al-Junaid untuk mereka yang sudah sampai kepada Allah.</p>
<p>Bagaimana respon mereka yang mencapai tahap Ma’rifatullah ?</p>
<p>“Siapa yang ma’rifat kepada Allah maka semua dosa adalah kecil di sisi Kemahamurahan-Nya.”</p>
<p>Maksudnya, jika kita mengenal sifat dan Asma Allah yang Maha Murah, para hamba akan terus optimis terhadap ampunan Allah, karena tidak ada yang melebihi kebesaran dan keagungan ampunan Allah. Sampai-sampai Rasul Allah SAW, menegaskan dalam hadits, “Jika kalian semua berdosa, sampai dosa itu memenuhi langit, kemudian kalian bertobat, Allah pun mengampuni kalian. Jika sudah tidak adalagi hambaNya yang berbuat dosa, lalu datang para hamba Allah yang berbuat dosa, para hamba ini pun memohon ampun kepada Allah, maka Allah juga mengampuni mereka….. Karena sesungguhnya Allah Maha Ampun lagi Mengasihi.”</p>
<p>Namun, seorang hamba tidak boleh terjebak oleh ghurur, dengan alibi, mengabaikan dosa, dan menganggap enteng dosa-dosa itu.</p>
<p>Hal demikian ditegaskan lagi oleh Ibnu Athaillah : “Tak ada dosa kecil jika anda berhadapan dengan KeadilanNya, dan tak ada dosa besar jika anda berhadapan dengan FadhalNya.”</p>
<p>Hikmah ini harus difahami di dunia ini dengan penafsiran demikian:<br />
Apabila seorang hamba berbuat kepatuhan, ketaatan, ubudiyah, berarti itulah tanda bahwa sang hamba mendapatkan limpahan FadhalNya Allah. Sebaliknya jika sang hamba bermaksiat, menuruti hawa nafsunya, berarti merupakan pertanda bahwa si hamba berhadapan dengan KeadilanNya.</p>
<p>Tak ada yang lebih kita takutkan dibanding kita menghadapi Keadilan Allah, dan tak ada yang lebih dahsyat harapan kita dibanding kita menyongsong Fadhal dan RahmatNya.</p>
<p>sumber : http://www.sufinews.com</p></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/434/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/434/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/434/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=434&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/08/06/jangan-biarkan-hatimu-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAUHID SEBAGAI INTISARI AJARAN ISLAM</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/22/tauhid-sebagai-intisari-ajaran-islam/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/22/tauhid-sebagai-intisari-ajaran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 09:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al-Ustadz Jafar Salih
TAUHID SEBAGAI INTI SARI AJARAN ISLAM 

Bagaimanapun prinsip tauhid tidak bisa dipisahkan dari ajaran islam, karena tauhid adalah inti ajaran ini, bahkan islam itu sendiri. Allah Ta&#8217;ala berfirman;
{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِنْ دُونِ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=245&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Oleh: Al-Ustadz Jafar Salih</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong>TAUHID SEBAGAI INTI SARI AJARAN ISLAM </strong><strong><br />
</strong><br />
Bagaimanapun prinsip tauhid tidak bisa dipisahkan dari ajaran islam, karena tauhid adalah inti ajaran ini, bahkan islam itu sendiri. Allah Ta&#8217;ala berfirman;<br />
{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}<br />
<em>&#8220;Katakanlah, &#8220;Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan kita tidak persekutukan Dia dengan suatu apa pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb-rabb selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, &#8220;Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (berserah diri kepada Allah)&#8221;. </em>(QS. 3:64)<br />
Ayat ini menerangkan bahwa orang yang menjadikan tauhid sebagai agamanya adalah orang yang berhak menyandang gelar sebagai seorang muslim, bukan orang yang menolaknya. Karena menolak tauhid sama saja menolak Islam sebagai agamanya. Dan orang yang menerima tauhid sebagai ajarannya akan mendapatkan keuntungan-keuntungan yang telah Allah Ta&#8217;ala janjikan kepadanya. Diantaranya :<br />
<strong>1. Darah dan hartanya dilindungi oleh Islam</strong>.<br />
Nyawanya terlindungi dan hartanya terjaga kecuali dengan alasan yang dibenarkan oleh Islam.<br />
((أُمِرتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَاسَ حَتىَّ يَشْهَدُوا أَن لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمّداً رَسُولُ الله، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤتُوا الزَكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُم وَأَمْوَالُهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلىَ اللهِ))<br />
&#8220;<em>Aku diperintahkan untuk memerangi sekalian manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan dzakat. Apabila mereka mengerjakan itu semua maka terlindung dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam, dan perhitungan mereka di sisi Allah Ta&#8217;ala&#8221;. </em><em><br />
</em>Maksud dari sabda Nabi Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam, &#8220;Kecuali dengan hak islam&#8221;, adalah seorang muslim tidak boleh dibunuh kecuali apabila ia membunuh muslim yang lain, atau ia sudah menikah kemudian berzina, atau murtad seperti pindah agama atau meyakini ada . Maka ketika itu pemerintah wajib menegakkan<span style="font-family:Symbol;"><span>r</span></span>nabi lagi setelah Nabi Muhammad<span> </span>hukum had terhadap mereka.</p>
<p class="MsoNormal">
<strong>2. Selamat dari kekal di neraka jahannam.</strong><br />
Karena seorang muwahhid (orang yang bertauhid) bagaimana pun besar dan banyak dosanya kepada Allah Ta&#8217;ala pasti akan masuk surga, dan hanya orang-orang kafir yang menolak tauhidlah yang kekal selamanya di neraka. Allah Ta&#8217;ala berfirman,<br />
{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ}<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang pun penolong&#8221;. ( </em>QS. 5:72).</p>
<p class="MsoNormal">
<strong>3. Berkesempatan mendapatkan ampunan atas seluruh dosanya. </strong><br />
Seberapa banyak dan besarnya dosa seseorang (selagi bukan syirik), ada kesempatan diampuni Allah Ta&#8217;ala bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya. Allah Ta&#8217;ala berfirman;<br />
{إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ } (النساء:48)<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya&#8221;. (QS. 4:48) </em><em><br />
</em>Karena seorang muwahhid apabila mati dan belum bertaubat dari dosa-dosanya maka dia dibawah kehendak Allah Ta&#8217;ala, apabila Allah Ta&#8217;ala berkehendak akan mengampuni dosa-dosanya, dan apabila Dia berkehendak akan menyiksa sesuai kadar dosanya, kemudian apabila telah selesai perhitungan atas dirinya maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Inilah aqidah Ahlus Sunnah.</p>
<p class="MsoNormal">
4<strong>. Dan seorang yang merealisasikan tauhid berhak untuk masuk surga tanpa diadzab dan dihisab. Dan mereka berjumlah 4.900.000 orang. </strong><strong><br />
</strong>Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhu Rasulullah Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabda; &#8220;Ditampakkan kepadaku manusia yang banyak sekali, dan tiba-tiba terdengar, &#8220;Ini adalah ummatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab…mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, dan tidak minta di kay (diobati dengan besi yang dipanaskan) dan tidak melakukan tathayyur (mengait-ngaitkan yang dilihat atau didengar dengan nasib) dan mereka hanya bertawakkal kepada Rabbnya&#8221; Muttafaqun &#8216;Alaihi.<br />
Dan dalam riwayat Ahmad dan Al Baihaqi, Rasulullah Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam berkata, &#8220;Dan aku pun minta kepada Rabbku agar jumlah mereka ditambah dan Rabbku menambahkan, pada setiap kelipatan seribu ada tujuh puluh ribu lagi (yang masuk surga tanpa hisab dan adzab)&#8221;. Hadits ini dihasankan oleh Al &#8216;Allamah Al Muhaddits Muqbil Al Wadi&#8217;i Rahimahullah dalam kitabnya Asy-Syafaat. Sehingga jumlah mereka adalah 4.900.000 orang. Dan ini merupakan keistimewaan yang besar.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"><br />
<strong>5. Akan dimenangkan dari musuh-musuhnya dan dijadikan berkuasa di dunia. </strong><strong><br />
</strong>{</span>وَلَقَدْ<span> </span>أَرْسَلْنَا<span> </span>مِنْ<span> </span>قَبْلِكَ<span> </span>رُسُلاً<span> </span>إِلَى<span> </span>قَوْمِهِمْ<span> </span>فَجَاءُوهُمْ<span> </span>بِالْبَيِّنَاتِ<span> </span>فَانْتَقَمْنَا<span> </span>مِنَ<span> </span>الَّذِينَ<span> </span>أَجْرَمُوا<span> </span>وَكَانَ<span> </span>حَقّاً<span> </span>عَلَيْنَا<span> </span>نَصْرُ<span> </span>الْمُؤْمِنِينَ<span lang="ES">} (</span>الروم<span lang="ES">:47)<br />
<em>&#8220;Dan sesungguhnya kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman&#8221;. (QS. 30:47) </em><em><br />
</em>{</span>وَعَدَ<span> </span>اللَّهُ<span> </span>الَّذِينَ<span> </span>آمَنُوا<span> </span>مِنْكُمْ<span> </span>وَعَمِلُوا<span> </span>الصَّالِحَاتِ<span> </span>لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ<span> </span>فِي<span> </span>الْأَرْضِ<span> </span>كَمَا<span> </span>اسْتَخْلَفَ<span> </span>الَّذِينَ<span> </span>مِنْ<span> </span>قَبْلِهِمْ<span> </span>وَلَيُمَكِّنَنَّ<span> </span>لَهُمْ<span> </span>دِينَهُمُ<span> </span>الَّذِي<span> </span>ارْتَضَى<span> </span>لَهُمْ<span> </span>وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ<span> </span>مِنْ<span> </span>بَعْدِ<span> </span>خَوْفِهِمْ<span> </span>أَمْناً<span> </span>يَعْبُدُونَنِي<span> </span>لا<span> </span>يُشْرِكُونَ<span> </span>بِي<span> </span>شَيْئاً<span> </span>وَمَنْ<span> </span>كَفَرَ<span> </span>بَعْدَ<span> </span>ذَلِكَ<span> </span>فَأُولَئِكَ<span> </span>هُمُ<span> </span>الْفَاسِقُونَ<span lang="ES">} (</span>النور<span lang="ES">:55)<br />
<em>Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik&#8221;. (QS. 24:55) </em><em><br />
</em>Inilah diantara keistimewaan-keistimewaan yang didapati oleh orang-orang yang mentauhidkan Allah Ta&#8217;ala.<br />
Akan tetapi apabila kita melihat pada kehidupan ummat Islam sekarang ini kita menyaksikan mereka melakukan praktek-praktek ibadah yang berbeda-beda, ini semua adalah akibat perbedaan mereka dalam menafsirkan tauhid yang Allah Ta&#8217;ala perintahkan. Padahal yang wajib adalah mengambalikan tafsirannya kepada Al Qur&#8217;an dan Sunnah<span> </span>berfirman,</span><span style="font-family:Symbol;"><span>I</span></span><span lang="ES">menurut pemahaman salafus shalih. Allah<span> </span><br />
{</span>فَإِنْ<span> </span>آمَنُوا<span> </span>بِمِثْلِ<span> </span>مَا<span> </span>آمَنْتُمْ<span> </span>بِهِ<span> </span>فَقَدِ<span> </span>اهْتَدَوْا<span> </span>وَإِنْ<span> </span>تَوَلَّوْا<span> </span>فَإِنَّمَا<span> </span>هُمْ<span> </span>فِي<span> </span>شِقَاقٍ<span> </span>فَسَيَكْفِيكَهُمُ<span> </span>اللَّهُ<span> </span>وَهُوَ<span> </span>السَّمِيعُ<span> </span>الْعَلِيمُ<span lang="ES">} (</span>البقرة<span lang="ES">:137)<br />
<em>&#8220;Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&#8221;. (QS. 2:137) </em><em><br />
</em>Yang dimaksud dengan orang-orang yang harus ditiru keimanannya adalah para shahabat Rasulullah Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam. Dan ayat ini sekaligus sebagai rekomendasi Allah Ta&#8217;ala terhadap mereka bahwa mereka berada diatas jalan yang lurus.<br />
Lantas apa tafsiran yang benar menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah? Maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah Ta&#8217;ala. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala;<br />
{</span>ذَلِكَ<span> </span>بِأَنَّ<span> </span>اللَّهَ<span> </span>هُوَ<span> </span>الْحَقُّ<span> </span>وَأَنَّ<span> </span>مَا<span> </span>يَدْعُونَ<span> </span>مِنْ<span> </span>دُونِهِ<span> </span>هُوَ<span> </span>الْبَاطِلُ<span> </span>وَأَنَّ<span> </span>اللَّهَ<span> </span>هُوَ<span> </span>الْعَلِيُّ<span> </span>الْكَبِيرُ<span lang="ES">}<br />
<em>&#8220;(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar&#8221;. (QS. 22:62) </em><em><br />
</em><strong>Kalimat ini memiliki dua rukun asasi</strong>. Yang pertama adalah nafi dan kedua adalah itsbat. Yang dimaksud dengan nafi adalah menolak segala macam peribadatan kepada selain Allah Ta&#8217;ala dari malaikat, nabi, orang-orang shalih dan benda-benda mati seperti gunung, lautan, batu, keris dan yang lain sebagainya. Sedangkan itsbat adalah mengakui -ibadah- hanya milik Allah Ta&#8217;ala semata. </span>Dan seseorang disebut muslim apabila telah terpenuhinya dua rukun tersebut dalam dirinya.<br />
<strong>Fadhilatus Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah dalam kitabnya Aqidah At-Tauhid (hal; 50-51) berkata</strong>, &#8220;Makna syahadat &#8220;Laa Ilaaha Illallaah&#8221; adalah meyakini dan mengikrarkan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, berpegang teguh dengannya serta mengamalkannya. &#8220;Laa ilaaha&#8221; adalah pengingkaran terhadap setiap bentuk peribadatan yang ditujukan kepada siapapun selain Allah Ta&#8217;ala. <span lang="ES">Dan &#8220;Illallah&#8221; adalah pengakuan bahwa ibadah hanya milik Allah Ta&#8217;ala semata. Jadi makna kalimat ini secara global adalah tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta&#8217;ala&#8221;. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"><br />
<span style="color:#3333ff;">Dan dikalangan ummat islam banyak beredar beberapa tafsiran yang salah tentang kalimat tauhid &#8220;Laa Iaha Illallah&#8221;, diantaranya</span>;<br />
<strong>1. Tidak ada yang diibadahi kecuali Allah Ta&#8217;ala . </strong><strong><br />
</strong>Tafsiran ini sekilas serupa dengan diatas, tapi apabila diperhatikan dan diteliti maknanya akan terlihat kebatilan yang tersembunyi pada perkataan ini. Tidak ada yang diibadahi selain Allah Ta&#8217;ala mengisyaratkan bahwa setiap yang diibadahi oleh jin dan manusia, hak atau pun batil peribadatan tersebut ia adalah Allah Ta&#8217;ala . </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"><br />
<strong>2. Tidak ada yang menciptakan selain Allah Ta&#8217;ala . </strong><strong><br />
</strong>Tafsiran ini banyak beredar dikalangan kaum sufi dan lebih celaka lagi tafsir ini selain bertentangan dengan tafsiran yang benar, orang-orang kafir Quraisy yang menolak mengucapkannya ternyata lebih paham makna Laa Ilaha Illallah dari mereka. Karena mereka menolak mengucapkannya justru disebabkan mereka paham bahwa kalimat Laa Ilaha Illallah berarti tidak beribadah kepada selain Allah I, tidak melakukan tawassul dengan malaikat dan orang-orang shalih. Adapun masalah penciptaan tidak pernah sekali pun terbersit pada diri-diri mereka bahwa Dzat Yang Maha Pencipta adalah selain Allah Ta&#8217;ala, hal ini Allah Ta&#8217;ala kabarkan dalam Al Qur&#8217;an;<br />
{</span>وَلَئِنْ<span> </span>سَأَلْتَهُمْ<span> </span>مَنْ<span> </span>خَلَقَ<span> </span>السَّمَاوَاتِ<span> </span>وَالْأَرْضَ<span> </span>وَسَخَّرَ<span> </span>الشَّمْسَ<span> </span>وَالْقَمَرَ<span> </span>لَيَقُولُنَّ<span> </span>اللَّهُ<span> </span>فَأَنَّى<span> </span>يُؤْفَكُونَ<span lang="ES">}<br />
&#8220;Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: &#8220;Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?&#8221; Tentu mereka akan menjawab:&#8221;Allah&#8221;, maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)&#8221;. (Qs. 29:61)<br />
Ayat ini jelas mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang kafir Quraisy paham dan mengerti bahwa tidak ada yang menciptakan, memiliki dan mengatur alam raya ini dan segala isinya kecuali Allah Ta&#8217;ala semata, lantas apa faidahnya kalau mereka telah memahami hal ini dan meyakininya kemudian dituntut untuk mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah sedangkan mereka tidak mengingkarinya?! Ini menandakan bahwa makna Laa Ilaha Illallah tidak seperti yang mereka kira. <strong>Wallahua&#8217;lam.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"><br />
<strong>3. Tidak ada hukum selain hukum Allah Ta&#8217;ala . </strong><strong><br />
</strong>Tafsiran ketiga ini banyak beredar dikalangan anak-anak muda yang memiliki semangat dalam islam tapi dangkal dalam ilmu (agama). Penyempitan makna terhadap kalimat Laa Ilaha Illallah yang terdapat pada tafsir ini jelas. Karena ibadah memiliki pengertian yang luas seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridha&#8217;i oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dari perkataan, perbuatan yang lahir dan tersembunyi. Dan perkara berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala adalah salah satu dari macam-macam ibadah yang tercakup dalam pengertian yang luas diatas. Dari sini kita mengetahui bahwa tafsiran ketiga ini adalah tafsiran yang sempit dan tidak mewakili makna yang benar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"><br />
<strong>4. Tidak ada tuhan selain Allah Ta&#8217;ala . </strong><strong><br />
</strong>Paling tidak tafsiran ini tidak jelas maknanya. Apakah makna tuhan adalah Rabb sehingga makna laa ilaha illallah adalah tidak ada yang menciptakan, memiliki dan mengatur alam raya ini dan segala isinya kecuali Allah Ta&#8217;ala. Sehingga tafsiran ini sama dengan tafsiran kedua. Atau makna dari kata tuhan adalah Ilah yaitu Dzat Yang diibadahi.<br />
Dan yang wajib dalam hal ini adalah memberikan arti yang benar kepada ummat Islam sehingga cukup dengan mendengarnya mereka sudah paham bahwa makna Laa Ilaha Illallah adalah larangan dari beribadah kepada siapapun selain Allah Ta&#8217;ala dan wajibnya memurnikannya hanya kepada Allah Ta&#8217;ala semata. Sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan, kepemilikan dan kekuasaan maka tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan kepada-Nya. </span><strong>Wallahua&#8217;lam. </strong><strong><br />
</strong></p>
<p>Sumber:<br />
<em>Buletin Jum&#8217;at Risalah Tauhid</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>diambil dari:<a href="http://www.ahlussunnah-jakarta.org/detail.php?no=86">http://www.ahlussunnah-jakarta.org/detail.php?no=86</a></em></p>
<p class="MsoNormal">
&#8211;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/245/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/245/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=245&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/22/tauhid-sebagai-intisari-ajaran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/18/kisah-nabi-yusuf-%e2%80%98alaihissalam-dan-nabi-ya%e2%80%99qub-%e2%80%98alaihissalam/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/18/kisah-nabi-yusuf-%e2%80%98alaihissalam-dan-nabi-ya%e2%80%99qub-%e2%80%98alaihissalam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 03:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang diberikan kepada  Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah dua keutamaan: Kebaikan yang bersifat lahiriah  dan batiniah. Secara lahiriah, Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah seorang pemuda  yang sangat tampan, dan secara batiniah beliau memiliki akhlak yang sangat  mulia. Dengan dua hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=135&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib</p>
<p><span class="fnu">Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang diberikan kepada  Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah dua keutamaan: Kebaikan yang bersifat lahiriah  dan batiniah. Secara lahiriah, Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah seorang pemuda  yang sangat tampan, dan secara batiniah beliau memiliki akhlak yang sangat  mulia. Dengan dua hal ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam senantiasa bersabar ketika  menjalani ujian-ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, termasuk ketika  digoda oleh wanita cantik dari kalangan bangsawan.</p>
<p>Kisah ini adalah kisah  paling menakjubkan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkannya secara lengkap dan  memaparkannya dalam satu surat khusus secara terperinci dan jelas. Membaca surat  ini saja sudah cukup sehingga tidak butuh penafsiran. Dan dalam surat ini (Surat  Yusuf), Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menguraikan keadaan Nabi Yusuf ‘alaihissalam  mulai dari awal hingga akhir kisah. Lengkap dengan peralihan tempat kejadian,  pergantian situasi dan keadaan.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>لَقَدْ كَانَ فِي يُوْسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ  لِلسَّائِلِيْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada  (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf:  7)<br />
Akan kami sebutkan beberapa faedah penting yang disimpulkan dari sejarah  besar ini. Dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, kami  memulainya.</p>
<p>Beberapa Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Yusuf  ‘alaihissalam<br />
Kisah ini merupakan kisah yang paling baik dan jelas. Di  dalamnya dipaparkan berbagai peralihan dari suatu keadaan kepada keadaan  lainnya; dari satu ujian ke ujian berikutnya, dan dari sebuah ujian kepada  karunia yang besar, dari kehinaan kepada derajat kemuliaan, dari rasa aman  kepada rasa takut dan sebaliknya, dan seterusnya. Maha Suci Allah yang telah  menceritakan hal ini dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga bagi mereka  yang bisa menggunakan akalnya. Di antara pelajaran tersebut adalah:<br />
1.  Diterangkan dalam kisah ini berbagai landasan pokok tentang ta’bir atau tafsir  mimpi. Ilmu ta’bir mimpi ini adalah ilmu yang cukup penting yang diberikan Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.  Dan umumnya, hal-hal yang berkaitan serta dijadikan permisalan (tamtsil) dan  penyerupaan adalah tentang sifat atau keadaan.<br />
Dengan demikian, maka sisi  keterkaitan mimpi Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di mana beliau melihat matahari,  bulan dan sebelas bintang bersujud kepadanya adalah sebagai berikut: Semua ini  adalah benda-benda yang menghiasi langit, yang mempunyai berbagai manfaat.  Begitu pula halnya para nabi, ulama, orang-orang pilihan, mereka adalah  perhiasan di muka bumi. Dengan perantaraan mereka, seseorang akan terbimbing  dalam kehidupannya di bumi sebagaimana dia terbimbing pula dengan cahaya dari  langit (angkasa raya).<br />
Ayahnya (Nabi Ya’qub ‘alaihissalam) dan ibunya adalah  sumber (asal), sedangkan saudara-saudaranya adalah cabang (furu’). Maka sangat  sesuai jika bentuk dan cahaya asal atau sumber lebih besar daripada cabang.  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa matahari atau bulan adalah permisalan  bagi ayah atau ibunya. Bintang-bintang menggambarkan saudara-saudaranya. Dan  menyangkut hal ini, bahwa orang yang bersujud menunjukkan penghormatannya kepada  yang dia sujudi. Dan yang menerima sujud ini, dia diagungkan lagi dihormati. Hal  ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjadi seorang yang diagungkan  dan dihormati oleh kedua ibu bapaknya serta saudara-saudaranya.<br />
Namun hal ini  tidak akan sempurna kecuali dengan beberapa pendahuluan yang menggiring kepada  semua perkara ini. Di antaranya adalah ilmu dan amalan serta sebagai pilihan  Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  mengatakan:</p>
<p>وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ</p>
<p>“Dan demikianlah  Rabbmu, telah memilihmu.” (Yusuf: 6)<br />
Terkait dengan mimpi kedua pemuda yang  dipenjara bersama Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau menta’birkan (menafsirkan)  mimpi seorang di antara mereka yang memeras anggur. Dan ini menunjukkan bahwa  orang yang melakukan pekerjaan ini biasanya adalah pelayan bagi orang lain. Juga  kenyataan bahwa perasan anggur itu untuk orang lain, sedangkan pelayan biasanya  mengikuti yang dilayani. Atau dapat pula ditakwilkan memeras anggur di sini  dengan memberi minum, yang juga menunjukkan pelakunya adalah pelayan bagi orang  lain. Oleh sebab itulah beliau menakwilkannya kepada hal yang sesuai.<br />
Adapun  mimpi orang yang melihat dirinya membawa roti di atas kepalanya dan sebagiannya  dimakan oleh burung, beliau menakwilkan bahwa dia akan dibunuh dan disalib  sehingga burung memakan otaknya.<br />
Lalu beliau menafsirkan mimpi Raja Mesir  yang melihat beberapa ekor sapi dan butir-butir gandum sebagai masa-masa subur  dan paceklik. Hubungannya adalah bahwa melalui raja itulah terikatnya segala  persoalan kemaslahatan rakyat. Apabila rajanya baik maka baik pula urusan  rakyat, dan apabila rajanya buruk (akhlaknya) urusan rakyatnya juga akan rusak.  Inilah hubungan ketika dia melihat mimpi itu.<br />
Apalagi tahun-tahun kesuburan  dan paceklik terkait dengan keteraturan kehidupan atau tidaknya. Sapi termasuk  alat untuk membajak tanah dan mengolah pertanian. Di sini terlihat adanya sebab  dan akibat. Dalam mimpi itu terlihat pula 7 ekor sapi gemuk dan 7 ekor sapi  kurus, 7 tangkai gandum yang hijau dan 7 tangkai yang kering. Maksudnya, tentu  akan ada 7 tahun yang subur yang disusul 7 tahun kekeringan. Apa yang didapatkan  dari pertanian diambil dan tidak disisakan kecuali sedikit yang mereka  simpan.<br />
Kalau dikatakan darimana diambil pengertian ayat:</p>
<p>ثُمَّ  يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ  يَعْصِرُوْنَ</p>
<p>“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia  diberi hujan dan di masa itu mereka memeras anggur.” (Yusuf: 49)<br />
Karena  beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa ini adalah tambahan dari Nabi Yusuf  ‘alaihissalam dalam menerangkan takwil mimpi menurut wahyu yang  diterimanya?<br />
Jawabnya: Persoalannya tidaklah demikian. Sesungguhnya perkataan  tersebut juga diucapkan berdasarkan mimpi raja itu. Karena masa-masa kekeringan  hanya 7 tahun. Ini menunjukkan akan datang sesudahnya tahun-tahun kesuburan  penuh keberkahan, yang akan menghapus kekeringan yang terjadi pada masa paceklik  yang tidak dapat terhapus oleh masa-masa subur yang biasa. Namun hanya akan  hilang dengan masa subur yang luar biasa keadaannya. Ini sangat jelas dan  termasuk mafhum al-’adad (dikaitkannya suatu hukum dengan jumlah tertentu,  ed).<br />
2. Di dalamnya terdapat dalil atau bukti tentang kenabian Muhammad  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Yaitu dengan diceritakannya sejarah ini secara  terperinci dan panjang lebar kepada beliau sesuai kenyataan, yang mempunyai  maksud dan tujuan yang jelas. Padahal beliau tidak (bisa) membaca kitab  orang-orang terdahulu. Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak  pernah belajar kepada seorangpun, sebagaimana yang jelas diketahui oleh kaumnya.  Beliau sendiri adalah seorang ummi, tidak pandai membaca dan menulis. Sebab  itulah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>ذلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ  الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ  وَهُمْ يَمْكُرُوْنَ</p>
<p>“Demikian itu di antara berita ghaib yang Kami  wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak berada di sisi mereka, ketika  mereka memutuskan rencananya dan mengatur tipu daya.” (Yusuf: 102)<br />
3.  Sepantasnya seorang manusia menjauhi faktor-faktor atau jalan yang mendorongnya  kepada kejahatan. Dan hendaknya dia menyembunyikan hal-hal yang dikhawatirkan  menimbulkan kemudaratan bagi dirinya. Sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub kepada  Yusuf dalam kisah ini:</p>
<p>لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ  فَيَكِيْدُوا لَكَ كَيْدًا</p>
<p>“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada  saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat makar terhadapmu.” (Yusuf: 5)<br />
4.  Bolehnya menerangkan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada seseorang dengan  jujur dan sebagai nasehat bagi dirinya dan orang lain yang terkait. Sebagaimana  firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tentang ucapan Nabi Ya’qub:</p>
<p>فَيَكِيْدُوا  لَكَ كَيْدًا</p>
<p>“Maka mereka akan membuat makar terhadapmu.” (Yusuf:  5)<br />
5. Bahwa kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada  seseorang adalah nikmat pula bagi orang-orang yang berkaitan atau berhubungan  dengannya, baik keluarga, kerabat, ataupun sahabat-sahabatnya. Tentunya semua  itu mencakup atau meliputi mereka. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ  يَعْقُوْبَ</p>
<p>“Dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga  Ya’qub.” (Yusuf: 6)<br />
Yaitu dengan semua yang engkau terima. Oleh karena itu,  ketika nikmat itu semakin sempuna dirasakan oleh Nabi Yusuf, keluarga Nabi  Ya’qub juga mendapatkan kemuliaan, kekuasaan dan kegembiraan. Hilanglah hal-hal  yang tidak menyenangkan yang selama ini mereka rasakan dengan munculnya hal-hal  yang menyenangkan sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di akhir  kisah ini.<br />
6. Nikmat paling besar yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala kepada manusia adalah nikmat diniyah (agama Islam). Dan semua itu harus  ada sebab-sebab yang mendahuluinya serta jalan-jalan yang membawa kepada  kenikmatan ini. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala –Yang Maha  Memiliki hikmah dan mempunyai sunnah (aturan) yang tidak berubah– telah  menetapkan bahwa cita-cita yang tinggi tidak mungkin tercapai kecuali dengan  sebab yang bermanfaat. Khususnya dalam hal ini adalah ilmu bermanfaat berikut  cabang-cabangnya, seperti akhlak dan perbuatan. Oleh karena itulah Nabi Ya’qub  mengetahui bahwa Yusuf telah mencapai kedudukan yang mulia ini, di mana ayah  ibunya serta saudara-saudaranya tunduk hormat kepadanya. Semua ini sudah tentu  dengan kemudahan yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berikan kepada Nabi Yusuf untuk  menempuh sebab atau jalan menuju derajat yang tinggi ini. Firman Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>وَكَذلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ  اْلأَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ</p>
<p>“Dan demikianlah Rabbmu,  telah memilih kamu dan mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi dan  menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.” (Yusuf: 6)<br />
7. Sikap adil adalah perkara  yang sangat dituntut dalam setiap permasalahan. Dalam masalah hubungan penguasa  dan rakyatnya, kedua orang tua dengan anak-anaknya, hak-hak para isteri, dan  lain-lain yang juga berkaitan dengan hubungan kasih sayang dan itsar  (mengutamakan orang lain). Menegakkan keadilan dalam setiap permasalahan ini  akan berbuah keserasian semua persoalan besar dan kecil sekaligus akan  mendatangkan segala sesuatu yang disenangi.<br />
Sebaliknya, apabila keadilan itu  tidak ada, jelas akan menyebabkan kerusakan dan hal-hal yang tidak menyenangkan  tanpa terasa. Karena itulah ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam melebihkan rasa  kasih sayangnya terhadap Yusuf menimbulkan ketidaksenangan pada saudara-saudara  Yusuf terhadap ayah dan saudara mereka ini.<br />
8. Peringatan keras tentang  bahayanya dosa. Betapa banyak dosa yang melahirkan dosa-dosa berikutnya.  Perhatikan kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf. Mereka ingin  memisahkan Yusuf dari ayahnya, dan ini adalah suatu kejahatan. Kemudian mereka  melancarkan berbagai muslihat. Mereka berdusta hingga beberapa kali, misalnya  dengan menunjukkan baju Nabi Yusuf yang berlumur darah palsu kepada Ya’qub. Juga  ketika mereka pulang sore hari sambil menangis. Jelas bahwa ucapan-ucapan yang  terdapat dalam kasus ini berantai dan berbelit-belit.<br />
Bahkan tidak jarang hal  ini berlanjut ketika mereka berkumpul dengan Yusuf dan setiap kali membahas  masalah ini. Namun semuanya adalah dusta dan palsu, dengan musibah yang terus  menimpa Nabi Ya’qub serta Nabi Yusuf. Maka hendaklah seorang manusia  berhati-hati dari perbuatan dosa, terutama dosa yang datang susul  menyusul.<br />
Lawan dari ini semua adalah sebagian ketaatan, yang merupakan satu  ketaatan, akan tetapi manfaatnya berkelanjutan. Demikian pula berkahnya. Bahkan  semua ini dapat dirasakan tidak hanya oleh pelakunya, tapi juga oleh orang lain.  Semua ini merupakan pengaruh paling besar dari berkah yang Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala berikan kepada seseorang baik dalam ilmu dan amalannya.<br />
9. Pelajaran  berharga bagi seorang hamba bergantung kepada kesempurnaan di akhir perjalanan,  bukan pada kekurangan yang ada di awalnya. Begitu pula halnya anak-anak Nabi  Ya’qub ‘alaihissalam. Terjadi berbagai kekeliruan di awal kisah kehidupan  mereka. Kemudian semua itu berujung pada taubat nashuha (taubat yang benar),  pengakuan yang tulus, dan pemaafan yang sempurna dari Yusuf dan ayah mereka,  serta doa kebaikan dan ampunan serta rahmat bagi mereka. Kalau seorang manusia  telah memberikan keringanan atau memaafkan seseorang berkaitan dengan suatu hak  tertentu, maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala lebih berhak berbuat demikian. Dan Dia  adalah Sebaik-baik Yang Penyayang lagi Maha Pengampun.<br />
Oleh karena itulah  yang paling benar dari semua pendapat yang ada bahwa sesungguhnya Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menjadikan mereka sebagai nabi dengan menghapus semua  kekeliruan yang telah mereka lakukan. Seakan-akan pernyataan ini berdasarkan  firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ  وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَاْلأَسْبَاطِ</p>
<p>“Dan (beriman)  pula dengan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan  al-asbath.” (Ali ‘Imran: 84)<br />
Al-Asbath adalah anak-anak Ya’qub yang duabelas  orang dan anak cucu mereka. Pendapat ini diperkuat dengan mimpi yang dilihat  Nabi Yusuf bahwa mereka adalah bintang-bintang, yang mempunyai cahaya dan  petunjuk. Semua ini adalah sifat-sifat yang juga terdapat pada diri para nabi.  Seandainya mereka bukan tergolong nabi, mereka adalah para ulama di kalangan  hamba Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
10. Dalam kisah ini diterangkan betapa besar  anugerah yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berikan kepada Yusuf berupa ilmu, hilm  (kelemahlembutan/tidak tergesa-gesa), akhlak yang mulia, berdakwah kepada Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan kepada agama-Nya. Juga pemberian maaf yang segera  dilakukannya terhadap saudara-saudaranya yang bersalah. Hal itu semakin lengkap  ketika beliau mengatakan bahwa tidak ada cercaan atas mereka sesudah pemaafan  ini. Kemudian kebajikannya yang besar kepada kedua ibu bapaknya, limpahan  kebaikannya kepada saudara-saudaranya serta makhluk Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  pada umumnya. Semua ini sangat jelas tergambar dalam sejarah hidup Nabi Yusuf  ‘alaihissalam.<br />
11. Sebagian kejahatan lebih ringan dari yang lain. Menempuh  suatu kemudaratan yang lebih ringan dari dua mudarat yang ada jelas lebih utama.  Maka tatkala saudara-saudara Nabi Yusuf mengatakan (dalam firman Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala):</p>
<p>اقْتُلُوا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا</p>
<p>“Bunuhlah  Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah.” (Yusuf: 9)<br />
Lalu ada yang memberikan  saran (dalam firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala):</p>
<p>لاَ تَقْتُلُوا يُوْسُفَ  وَأَلْقُوْهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ  كُنْتُمْ فَاعِلِيْنَ</p>
<p>“Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah dia  ke dasar sumur supaya dipungut oleh sebagian musafir, kalau kamu hendak  berbuat.” (Yusuf: 10)<br />
Tentunya perkataan ini lebih baik dari pendapat yang  lain dan lebih ringan. Sehingga berdasarkan hal ini pula menjadi ringan pula  dosa mereka. Ini merupakan sebagian dari sebab atau jalan yang telah Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala takdirkan bagi Nabi Yusuf untuk mencapai derajat yang  diinginkan.<br />
12. Segala sesuatu yang diperoleh dari suatu usaha dan menjadi  bagian dari harta, namun orang-orang yang mengusahakannya tidak mengetahui bahwa  itu tidak dilandasi syariat, maka tidak ada dosa bagi yang langsung  memperjualbelikannya, memanfaatkan, atau menggunakan untuk suatu kepentingan.  Dalam kisah ini, boleh dikatakan Nabi Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya  dengan cara yang (sesungguhnya) diharamkan bagi mereka. Kemudian beliau dibeli  oleh sebagian musafir berdasarkan anggapan bahwa beliau adalah budak  saudara-saudaranya. Setelah itu mereka membawanya ke Mesir dan menjualnya  kembali.<br />
Tinggallah beliau bersama majikannya sebagai seoang pelayan atau  budak. Namun di tengah-tengah mereka, Nabi Yusuf adalah seorang pelayan yang  dihormati. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menamakan jual beli yang dilakukan musafir  itu muamalah, dengan alasan yang telah kami paparkan.<br />
13. Dalam kisah ini  disebutkan bahaya berkhalwat (berduaan) dengan wanita ajnabiyah (bukan isteri  atau budak dan bukan mahram), khususnya wanita-wanita yang dikhawatirkan akan  menjerumuskan kepada fitnah. Juga anjuran agar menjauhi perasaan cinta atau suka  yang dapat menimbulkan mudarat.<br />
Dalam kisah ini, disebutkan bagaimana isteri  pembesar tersebut mengalami hal ini karena sendirian bersama Yusuf ditambah lagi  rasa cinta yang demikian hebat sehingga akhirnya dia menggoda Yusuf dengan cara  sedemikian rupa. Akan tetapi kemudian dia justru mengingkari bahwa dialah yang  merayu Nabi Yusuf sehingga akhirnya Nabi Yusuf dipenjara untuk waktu yang  lama.<br />
14. Keinginan yang ada dalam diri Nabi Yusuf yang kemudian beliau  tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan karena bukti keimanan yang Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala letakkan dalam hatinya, termasuk hal-hal yang menaikkan  derajat beliau semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Karena suatu  keinginan adalah salah satu faktor pendorong yang timbul dari hawa nafsu yang  selalu menyuruh kepada kejahatan. Ini adalah naluri atau tabiat yang ada pada  anak Adam (manusia).<br />
Maka apabila keinginan itu terlaksana dengan kemaksiatan  dan tidak ada sesuatu, baik keimanan ataupun rasa takut kepada Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala yang menghalanginya dari kemaksiatan itu, maka dia telah terjatuh  kepada dosa. Dan jika seseorang itu beriman sempurna, maka keinginan naluriah  ini apabila dihadapi oleh iman yang benar dan kuat, akan mencegahnya dari  pengaruh yang ditimbulkan oleh keinginan tersebut, meskipun dorongan itu  demikian hebat. Dan Nabi Yusuf ‘alaihissalam berada di atas tingkatan ini. Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ  رَبِّهِ</p>
<p>“Andaikata dia tidak melihat tanda dari Rabbnya.” (Yusuf:  24)<br />
Hal ini ditunjukkan pula dalam ayat:</p>
<p>كَذلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ  السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا  الْمُخْلَصِيْنَ</p>
<p>“Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya  kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang  terpilih.” (Yusuf: 24)<br />
Karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengistimewakannya,  dan kekuatan iman serta keikhlasannya, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala melepaskan  beliau agar tidak terjerumus kepada perbuatan dosa. Jelas dari kisah ini bahwa  Nabi Yusuf adalah termasuk segelintir manusia yang takut kepada kebesaran  Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Beliau termasuk yang  paling tinggi derajatnya di antara 7 golongan dari orang-orang yang Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala lindungi dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada lagi  naungan selain naungan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam telah menyebutkan dalam sabda beliau bahwa salah satu dari  tujuh golongan itu adalah seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang wanita kaya  dan cantik jelita, namun laki-laki itu berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada  Allah.”1<br />
Sementara keinginan wanita itu yang tidak ada yang menghalanginya,  tetap mendorongnya untuk merayu Nabi Yusuf. Adapun keinginan yang muncul pada  Nabi Yusuf kemudian lenyap dengan seketika setelah melihat burhan (tanda) dari  Rabbnya.<br />
15. Keimanan yang telah tertanam dalam kalbu seseorang, kemudian  hati itu diterangi cahaya ma’rifat (pengenalan) dan iman kepada Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala, menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang ikhlas karena Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam segenap keadaannya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;alaakan  menjauhkannya dari setiap kejahatan dan kekejian dengan tanda keimanannya itu.  Bahkan juga menjauhkannya dari berbagai jalan kemaksiatan sebagai balasan  keimanan dan keikhlasannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menyebutkan  bahwa hal-hal inilah yang menjadi alasan Dia menjauhkan kejelekan dan kekejian  itu dari Nabi Yusuf. Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>كَذلِكَ لِنَصْرِفَ  عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا  الْمُخْلِصِيْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang  mukhlis (berbuat ikhlas).” (Yusuf: 24)<br />
Arti seperti ini apabila disandarkan  kepada bacaan yang melafadzkan bunyi lam pada kata mukhlas dikasrah (berbunyi  i), sehingga dibaca mukhlis yang artinya sebagaimana yang tercantum. Sedangkan  menurut bacaan yang melafalkan lam dengan bunyi a tadi (mukhlash), artinya ialah  apabila seorang hamba yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bersihkan dan Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala pilih, maka tentulah dia seorang yang mukhlis, dengan  demikian kedua pengertian ini saling berkaitan.<br />
16. Apabila seseorang diuji  dengan berada di tempat yang mengandung fitnah dan jalan yang membawa kepada  kemaksiatan, hendaknya dia segera berupaya menghindar dan meninggalkan tempat  itu semampunya agar selamat dari kejahatan tersebut. Sebagaimana telah  dicontohkan oleh Nabi Yusuf yang menyelamatkan dirinya menuju pintu keluar  sementara wanita itu berusaha menarik bajunya dari belakang.<br />
17. Suatu  qarinah (indikasi) atau hal-hal yang mendukung dapat digunakan ketika terjadinya  kesamaran dalam suatu tuduhan. Artinya, perlunya saksi dalam menentukan suatu  keputusan dari suatu kasus, di mana dalam kasus Nabi Yusuf ini ditetapkan dengan  adanya qarinah (tanda yang mendukung). Firman Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala:</p>
<p>إِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ  الْكَاذِبِيْنَ. وَإِنْ كَانَ قَمِيْصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ  الصَّادِقِيْنَ</p>
<p>“Jika bajunya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan  Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika bajunya koyak di belakang, maka  wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf:  26-27)<br />
Akhirnya keputusannya sesuai dengan fakta yang benar. Juga qarinah  terdapatnya piala raja di dalam karung saudaranya, ketika para penjaga itu  menyebutkan bahwa mereka kehilangan piala raja.<br />
17. Dalam kisah disebutkan  tentang ketampanan lahir batin yang dimiliki Nabi Yusuf. Dari ketampanan  lahiriah yang dimilikinya menyebabkan tumbuhnya rasa cinta begitu hebat dalam  diri wanita bangsawan itu. Dan ketika dia mendengar para wanita di kota itu  mencelanya, dia mengundang mereka. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ  وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّيْنًا  وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ  أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ  كَرِيْمٌ</p>
<p>“Maka tatkala wanita itu mendengar cercaan mereka,  diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan  diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau, lalu dia berkata (kepada  Yusuf): ”Keluarlah kepada mereka!” Tatkala para wanita itu melihatnya, mereka  kagum akan (ketampanannya), dan mereka mengiris jari mereka dan berkata: “Maha  Suci Allah. Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat  yang mulia.” (Yusuf: 31)<br />
Sedangkan keindahan batin beliau, terlihat dari  sikap ‘iffah (menjaga kehormatan) yang besar pada diri beliau, seiring dengan  adanya dorongan yang kuat untuk terjerumus kepada kemaksiatan. Akan tetapi  cahaya keimanan dan kekuatan keikhlasan yang tidak mungkin seorang mulia  menyimpang dari keduanya, dan tidak mungkin terkumpul pada orang yang hina  (telah menahan beliau dari semua itu).<br />
Bahkan telah dijelaskan pula oleh  isteri pembesar itu bahwa dua karakter (kecantikan lahir dan batin) ini ada pada  diri Nabi Yusuf. Yakni, ketika dia memperlihatkan kepada para wanita itu  kecantikan lahiriah yang diakui pula oleh mereka bahwa kecantikan ini tidak  mungkin ada pada manusia, isteri pembesar itu berkata, sebagaimana yang Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala sebutkan dalam ayat:</p>
<p>وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ  نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ</p>
<p>“Dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk  menundukkan dirinya kepadaku, tapi dia menolak.” (Yusuf: 32)<br />
Kemudian dia  mengatakan pula sesudah perkataan itu:</p>
<p>اْلآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا  رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ</p>
<p>“Sekarang  jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya  kepadaku, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf:  51)<br />
18. Nabi Yusuf ‘alaihissalam lebih memilih dipenjara daripada terjerumus  kepada kemaksiatan. Demikianlah seharusnya ketika seseorang dihadapkan kepada  satu dari dua pilihan; jatuh kepada kemaksiatan atau menerima hukuman dunia.  Seharusnya dia memilih hukuman duniawi yang justru di balik itu terdapat pahala  dari beberapa sisi, pahala atas pilihannya terhadap keimanannya daripada  keselamatan dari hukuman dunia, pahala dari segi bahwa hal ini adalah bentuk  penyucian dan pemurnian seorang mukmin, di mana hal ini termasuk dalam kerangka  jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Juga pahala dari sisi musibah yang  diterimanya serta sakit yang dirasakannya.<br />
Maha Suci Allah yang memberikan  kenikmatan dan menunjukkan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba pilihan-Nya melalui  cobaan atau ujian-Nya. Hal ini juga merupakan tanda-tanda keimanan dan  kebahagiaan.<br />
(Bersambung, Insya Allah)</p>
<p>(Diambil dari kitab Taisir  Al-Lathif Al-Manan fi Khulashah Tafsiri Al-Qur`an karya Asy-Syaikh Abdurrahman  bin Nashir As-Sa’di rahimahullah)</p>
<p>1 HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah  dalam Shahih-nya, no. 620, 1334, 6308.<br />
</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/135/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/135/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=135&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/18/kisah-nabi-yusuf-%e2%80%98alaihissalam-dan-nabi-ya%e2%80%99qub-%e2%80%98alaihissalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARI HABASYAH)</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/18/syaikh-muhammad-aman-al-jami-singa-sunnah-dari-habasyah/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/18/syaikh-muhammad-aman-al-jami-singa-sunnah-dari-habasyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 02:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Nama Dan Nasabnya
Beliau rahimahullah adalah Syaikh al-‘Allamah Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali.
Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa  Thagha Thab daerah Harar, Habasyah (Ethiopia), Afrika.
Pertumbuhan  Ilmiah Dan Guru-Gurunya
Beliau rahimahullah tumbuh di  desanya, Thagha Thab. Di situ, beliau belajar al-Qur’an hingga khatam kemudian  belajar fiqh Madzhab Syafi’i. Beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=133&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><strong>Nama Dan Nasabnya</strong></p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> adalah Syaikh al-‘Allamah Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali.</p>
<p><strong>Kelahirannya</strong></p>
<p>Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa  Thagha Thab daerah Harar, Habasyah (Ethiopia), Afrika.</p>
<p><strong>Pertumbuhan  Ilmiah Dan Guru-Gurunya</strong></p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> tumbuh di  desanya, Thagha Thab. Di situ, beliau belajar al-Qur’an hingga khatam kemudian  belajar fiqh Madzhab Syafi’i. Beliau juga belajar bahasa Arab kepada Syaikh  Muhammad Amin al-Harari.</p>
<p>Kemudian beliau meninggalkan desanya guna  menuntut ilmu. Hingga bertemu sahabatnya dalam menuntut ilmu, Syaikh Abdul  Karim. Keduanya pergi belajar <em>Nazhm Zubad</em> karya Ibnu Ruslan kepada Syaikh  Musa dan belajar matan Minhaj kepada Syaikh Abadir. Demikian pula, keduanya  mempelajari beberapa bidang ilmu lainnya.</p>
<p>Keduanya lantas sepakat pergi  ke Saudi Arabia dalam rangka ibadah haji dan menuntut ilmu. Mereka berdua  melakukan perjalanan darat dari Habasyah menuju Somalia. Dari somalia melakukan  perjalanan lewat laut hingga ke Aden, Yaman. Kemudian berjalan kaki hingga  Mekkah.</p>
<p>Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau  <em>rahimahullah </em>memulai belajarnya dengan menghadiri halaqah-halaqah di  masjidil haram. Beliau belajar kepada Syaikh Abdur Razaq Hamzah, Syaikh Abdul  Haq al-Hasyimi, Syaikh Abdullah ash-Shomali dan ulama lainnya.</p>
<p>Beliau  berkenalan dengan Syaikh Abdul Aziz bin bin Baz <em>rahimahullah</em> (mantan  mufti ‘am kerajaan Arab Saudi-red) dan menemaninya dalam perjalanan ke Riyadh  ketika beliau masuk ke Ma’had Ilmi di Riyadh. Di antara rekan beliau ketika  belajar di Ma’had Ilmi adalah Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad dan Syaikh  Ali bin Muhanna.</p>
<p>Di samping belajar di Ma’had Ilmi, beliau juga  menghadiri halaqah-halaqah ilmu di Riyadh. Beliau menghadiri mejelis Syaikh  Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdur Rahman al-Afriqi, Syaikh Abdul  Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Syaikh Hammad al-Anshari.</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga belajar kepada Syaikh Abdur Razzaq  Afifi, Syaikh Muhammad Khalil Harras dan Syaikh Abdullah al-Qar’awi.</p>
<p><strong>Pengabdiannya Kepada Kaum Muslimin</strong></p>
<p>Beliau diusulkan oleh  Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Saudi Arabia  waktu itu, agar ditugaskan mengajar di Ma’had Ilmi di Shamithah, daerah Jazan.  Usulan ini disetujui Syaikh Muhammad bin Ibrahim.</p>
<p>Ketika Universitas  Islam Madinah dibuka pada tahun 1381 H, beliau dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz  bin Baz sebagai salah seorang pengajarnya dalam mata kuliah aqidah.</p>
<p>Beliau juga ditugaskan sebagai pengajar di masjid Nabawi dalam bidang  aqidah.</p>
<p>Beliau kerahkan upaya beliau dalam dakwah ilallah di dalam dan  di luar negeri Saudi selama kurang lebih 40 tahun, menjelaskan aqidah salafiyah  dan membantah ahli bid’ah serta orang-orang yang menyeleweng dari jalan yang  lurus. Beliau memiliki andil besar dalam menjelaskan perbedaan-perbedaan yang  mendasar antara manhaj salafi dan manhaj-manhaj bid’ah yang hendak memalingkan  umat dari manhaj Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kerena  kegigihan dakwah inilah, beliau banyak mendapat rintangan dan gangguan. Tidak  henti-hentinya para pemilik kesesatan melontarkan tuduhan-tuduhan dan  perkataan-perkataan yang tidak pantas kepada beliau. Sampai-sampai ada yang  berusaha memberikan gangguang fisik kepada beliau. Akan tetapi, tidak  henti-hentinya pula beliau membela dakwah salafiyah dengan penuh kesabaran dan  mengharap keridhaan Alloh, hingga beliau wafat.</p>
<p><strong>Akhlaknya</strong></p>
<p>Beliau dikenal gigih dalam melakukan nasihat terhadap Alloh, Rasul-Nya,  para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam. Beliau jarang bergaul dengan  manusia kecuali dalam kebaikan. Beliau selalu menjaga waktu-waktunya. Kebiasaan  beliau dikenal banyak orang; keluar dari rumahnya mengajar di Jami’ah, kemudian  pulang ke rumah, lalu ke masjid Nabawi menyampaikan ta’limnya sesudah Ashar,  sesudah Maghrib, sesudah Isya’ dan sesudah Fajar. Begitulah jadwal beliau,  sampai beliau mengalami sakit keras hingga meninggal dunia. Beliau dikenal  menjaga lisannya, tidak mengejek, tidak mencela dan tidak mengghibah. Bahkan  beliau tidak mengizinkan seorangpun melakukan ghibah dan menyebut aib manusia di  hadapannya. Ketika terjadi suatu kesalahan pada sebagian panuntut ilmu pada  suatu kaset atau kitab, beliau mendengarkan atau membacanya. Jika nampak bagi  beliau kesalahan tersebut, beliau lakukan nasihat terhadapnya. Beliau dikenal  lembut dan pemaaf. Dengan kelembutan dan sikap memaafkan, beliau hadapi ujian,  makar dan gangguan. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar kepada  murid-muridnya. Beliau hadiri undangan-undangan mereka. Menanyakan keadaan  mereka dan mengatasi sebagian permasalahan keluarga mereka. Ringkasnya, beliau  membantu mereka dengan harta, waktu dan kedudukannya.</p>
<p><strong>Pujian Para  Ulama Kepadanya </strong></p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata, “Beliau dikenal dengan keilmuannya, keutamaannya, kelurusan aqidahnya  dan kegigihan dakwahnya kepada Alloh serta memperingatkan dari bid’ah dan  khurafat. Semoga Alloh mengampuninya, menempatkannya dalam keluasan surga-Nya,  memperbagus keturunannya dan semoga Alloh mengumpulkan kita semua dan beliau di  negeri kemuliaan-Nya.”</p>
<p>Dalam kesempatan lain, Syaikh Abdul Aziz bin Baz  <em>rahimahullah</em> berkata. “Syaikh Muhammad Aman al-Jami dan Syaikh Rabi’ bin  Hadi al-Madkhali, keduanya termasuk Ahli Sunnah. Keduanya dikenal dengan  keilmuan, keutamaan dan kelurusan aqidahnya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami telah  wafat pada malam kamis 27 Sya’ban tahun ini. Aku berwasiat agar dipelajari  kitab-kitab keduanya. Aku memohon agar Alloh memberikan taufiq kepada kita semua  pada apa yang dia cintai dan dia ridhai.”</p>
<p>Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd  al-Abbad berkata, “Aku mengenal Syaikh Muhammad Aman al-Jami ketika belajar di  ma’had ilmi Riyadh dan sebagai dosen di Universitas Islam Madinah. Aku mengenal  beliau dengan kelurusan aqidah dan keselamatan arah. Beliau memiliki perhatian  yang besar dalam menjelaskan aqidah salaf dan memperingatkan dari kebid’ahan di  dalam ta’lim-ta’limnya, ceramah-ceramahnya dan tulisan-tulisannya. Semoga Alloh  mengampuninya, merahmatinya dan memberikan pahala yang berlimpah kepadanya.”</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang yang berilmu dan memiliki  ijazah ilmiah banyak sekali. Tetapi sedikit dari mereka yang bisa memanfaatkan  dan memberikan faedah dari ilmunya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami termasuk  kelompok sedikit dari para ulama yang mengarahkan ilmu dan upaya mereka  memberikan faedah dan mengarahkan kaum muslimin dengan dakwah kepada Alloh  melalui ta’lim-ta’limnya di Jami’ah Islamiyah dan masjid Nabawi serta dalam  perjalanan dakwahnya di dalam dan luar Saudi, menyeru kepada tauhid, menyebarkan  aqidah yang shahih, mengarahkan para pemuda umat ini kepada manhaj salafush  shalih dan memperingatkan mereka dari pemikiran-pemikiran yang merusak dan  seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa saja yang belum mengenalnya secara  langsung, bisa mengenal melalui kitab-kitabnya dan kaset-kasetnya yang  bermanfaat, yang menampakan keluasan ilmunya. Beliau terus melanjutkan kebaikan  amalnya hingga beliau wafat. Beliau tinggalkan ilmu yang bermanfaat, yang  terwujud pada murid-muridnya dan kitab-kitabnya. Semoga Alloh merahmatinya dan  membalasnya dengan kebaikan.”</p>
<p>Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata,  “ Adapun Syaikh Muahammad Aman, aku tidak mengetahui beliau kecuali seorang yang  beriman, bertauhid, salafi, faqih dalam agamanya, dan mempuni dalam ilmu aqidah.  Tidak pernah kulihat yang lebih bagus darinya dalam memaparkan aqidah. Beliau  telah mengajarkan kepada kami al-Wasithiyah dan al-Hamawiyah saat di marhalah  Tsanawiyah. Tidak pernah kami melihat yang lebih bagus dari beliau dalam  memahamkan para murid. Kami mengenal beliau dengan akhlak yang mulia, tawadhu  dan kewibawaan. Kami memohon kepada Alloh agar mengangkat derajat beliau di  surga dengan sebab celaan-celaan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas dari  ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) kepadanya. Terakhir, beliau meninggal dengan  berwasiat agar selalu berpegang teguh dengan aqidah yang shahih, berwasiat  kepada para ulama agar memperhatikan masalah aqidah. Ini menunjukan kejujurannya  –insya Alloh- dalam keimanannya dan dalil atas khusnul khatimahnya. Semoga Alloh  selalu mencurahkan kepada kita dan beliau rahmat dan keridhaanNya.”</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Tsani berkata, “Beliau adalah  seorang ulama salafi. Merupakan teladan utama dalam dakwah islamiyah. Beliau  memiliki ceramah-ceramah di masjid-masjid dan pertemuan-pertemuan ilmiah di  dalam dan luar negeri. Beliau memiliki tulisan-tulisan dalam masalah aqidah dan  yang lainnya. Semoga Alloh memberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau dan  mencurahkan pahala yang banyak di akhirat.”</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul  Wahhab al-Banna berkata, “Beliau adalah sebaik-baik yang kami cintai dalam  keluhuran akhlaknya, kelurusan aqidahnya, dan kebagusan pergaulannya.”</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili berkata, “Aku mulai mengenal Syaikh  Muhammad Aman al-Jami pada tahun 1381 H ketika daulah Saudi Arabia mendirikan  Universitas Islam Madinah. Beliau termasuk para pengajar yang pertama ditugaskan  di Universitas tersebut, sedangkan aku salah seorang mahasiswanya. Beliau  termasuk diantara para masyayikh yang memberikan perhatian yang khusus kepada  para murid sehingga mereka tidak berhenti dalam hubungan pengajaran. Pada  kebanyakan ta’limnya, beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan  aqidah salafush shalih dalam pelajaran aqidah maupun yang lainnya.</p>
<p>Ketika menjelaskan aqidah salafush shalih dan berusaha menanamkannya  dalam jiwa para muridnya yang berasal dari seluruh penjuru negeri, beliau  sampaikan dengan gaya bahasa yang mereka mengerti. Karena beliau telah merasakan  keindahan aqidah salaf dan menelaah kedalamannya, sampai-sampai seorang yang  mendengar dan menyaksikan beliau ketika berbicara tentang aqidah salaf merasakan  hatinya merasa cinta dan terikat dengan aqidah salaf. Beliau memiliki banyak  rihlah dakwah dan ta’lim di luar negeri Saudi. Tidak pernah datang suatu  kesempatan melainkan beliau gunakan untuk menjelaskan keagungan dan kejernihan  aqidah salaf dengan penjelasan yang memuaskan. Orang yang membaca  tulisan-tulisan dan risalah beliau akan meraba kebenaran dakwahnya. Saya hadir  ketika beliau mempertahankan disertasi doktornya di Darul Ulum cabang  Universitas Kairo Mesir. Beliau berupaya di dalam disertasinya tersebut  menjelaskan kejernihan aqidah salaf dan keselamatan manhaj salaf. Beliau  singkapkan keborokan setiap manhaj yang menyeleweng dari aqidah salaf serta  kebatilan setiap tuduhan yang diarahkan kepada para penyeru aqidah salaf yang  menghabiskan umurnya menyeru dan mengabdi kepada aqidah salaf. Beliau juga  mematahkan setiap perkataan dan syubhat para pemilik kebatilan yang berusaha  menjatuhkan manhaj salaf.</p>
<p>Ringkasnya, beliau begitu mendalam  kecintaannya terhadap aqidah salafush shalih, ikhlas dalam mendakwahkannya,  begitu gigih dalam membelanya, serta pemberani di dalam menyampaikan kebenaran.  Semoga Alloh mengampuni beliau dan kita semua.”</p>
<p><strong>Murid-Muridnya </strong></p>
<p>Di antara murid-muridnya: Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syaikh  Zaid bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, Syaikh Muhammad bin  Hamud al-Waili, Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah as-Sindi, Syaikh Shalih bin  Sa’d as-Suhaimi, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh Falih bin bin Nafi’  al-Harbi, Syaikh Shalih ar-Rifa’i, Syaikh Falah Isma’il, Syaikh Falah bin Tsani,  Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili, dan masih banyak lagi selain mereka.</p>
<p><strong>Tulisan-Tulisannya</strong></p>
<p>Di antara tulisan-tulisan beliau:  <em>Sifat Ilahiyyah fil Kitab was Sunnah Nabawiyyah fi Dhau’il Itsbat wa Tanzih,  Manzilatus Sunnah fi Tasyri’ Islami, Majmu’ Rasa’il Jami’ Fil aqidah was Sunnah,  Aqidah Islamiyyah wa Tarikhuha Haqiqatu Demokratiah wa Annaha Laisat minal  Islam, Haqiqatusy Syura fil Islam, Adhwa’ ‘ala Thariqi Da’wah fil Islam, Tahhih  Mafahim fi Jawaniba minal aqidah, Muhadharah Difa’iyyah anis Sunnah  Muhammadiyyah, aql wa Naql ‘inda Ibnu Rusyd, Thariqatul Islam fi Tarbiyyah,  Masyakilu Da’wah wa Du’at fi Ashril Hadits Islam fi Afriqia Abra Tarikh</em>, dan  yang lainnya.</p>
<p><strong>Wafatnya</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Aman al-Jami wafat  di Madinah pada waktu pagi hari Rabu 26 Sya’ban 1416 H dan dimakamkan di  pekuburan Baqi’ Madinah. Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya dalam  keluasan jannah-Nya.</p>
<p>Rujukan<br />
1. Tarjamah Syaikh Muhammad Aman  al-Jami oleh Syaikh Musthafa bin abdul Qadir al-Fullani<br />
2. Website: sahab  as-Salafiyyah</p>
<p>(SUMBER: Al-Furqon Edisi 4 Tahun V / Dzulqo’dah 1426 H  dengan sedikit perubahan)</p>
<p align="center"><span class="konten"><span class="keterangan">| <a href="../../tokoh_arsip.htm">Index Tokoh</a> |</span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=133&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/18/syaikh-muhammad-aman-al-jami-singa-sunnah-dari-habasyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/15/kisah-wanita-yang-selalu-berbicara-dengan-bahasa-al-quran/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/15/kisah-wanita-yang-selalu-berbicara-dengan-bahasa-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 12:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta&#8217;ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu &#8216;alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=110&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta&#8217;ala :<br />
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu &#8216;alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.</p>
<p>Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.</p>
<p>Abdullah	:   &#8220;Assalamu&#8217;alaikum warahma wabarakaatuh.&#8221;<br />
Wanita tua	:   &#8220;Salaamun qoulan min robbi rohiim.&#8221;  (QS. Yaasin : 58)   (artinya : &#8220;Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih&#8221;)</p>
<p>Abdullah	:   &#8220;Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.&#8221; (QS : Al-A&#8217;raf : 186 ) (&#8220;Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya&#8221;)</p>
<p>Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.</p>
<p>Abdullah	:  &#8220;Kemana anda hendak pergi?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Subhanalladzi asra bi &#8216;abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.&#8221; (QS. Al-Isra&#8217; : 1) (&#8220;Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa&#8221;)</p>
<p>Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.</p>
<p>Abdullah	:   &#8220;Sudah berapa lama anda berada di sini?&#8221;<br />
Wanita tua	:    &#8220;Tsalatsa layaalin sawiyya&#8221; (QS. Maryam : 10) (&#8220;Selama tiga malam dalam keadaan sehat&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:   &#8220;Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?&#8221;<br />
Wanita tua 	:    &#8220;Huwa yut&#8217;imuni wa yasqiin.&#8221; (QS. As-syu&#8217;ara&#8217; : 79)   (&#8220;Dialah pemberi aku makan dan minum&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:   &#8220;Dengan apa anda melakukan wudhu?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha&#8217;idan thoyyiban&#8221; (QS. Al-Maidah : 6) (&#8220;Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih&#8221;)</p>
<p>Abdulah 	:   &#8220;Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?&#8221;<br />
Wanita tua 	:    &#8220;Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.&#8221; (QS. Al-Baqarah : 187)   (&#8220;Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam&#8221;)<br />
Abdullah	:   &#8220;Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa man tathawwa&#8217;a khairon fa innallaaha syaakirun &#8216;aliim.&#8221; (QS. Al-Baqarah : 158) (&#8220;Barang siapa melakukan sunnah lebih baik&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:   &#8220;Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta&#8217;lamuun.&#8221; (QS. Al-Baqarah : 184) (&#8220;Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:     &#8220;Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun &#8216;atiid.&#8221; (QS. Qaf : 18) (&#8220;Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:     &#8220;Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam&#8217;a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana &#8216;anhu mas&#8217;ula.&#8221; (QS. Al-Isra&#8217; : 36) (&#8220;Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:    &#8220;Saya telah berbuat salah, maafkan saya.&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Laa tastriiba &#8216;alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.&#8221; (QS.Yusuf : 92) (&#8220;Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu&#8221;)</p>
<p>Abdullah : &#8220;Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa maa taf&#8217;alu min khoirin ya&#8217;lamhullah.&#8221; (QS Al-Baqoroh : 197) (&#8220;Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya&#8221;)</p>
<p>Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :</p>
<p>Wanita tua : &#8220;Qul lil mu&#8217;miniina yaghdudhu min abshoorihim.&#8221; (QS. An-Nur : 30) (&#8220;Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka&#8221;)</p>
<p>Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi.</p>
<p>Wanita tua : &#8220;Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.&#8221; (QS. Asy-Syura&#8217; 30) (&#8220;Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:  &#8220;Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.&#8221;<br />
Wanita tua 	:    &#8220;Fa fahhamnaaha sulaiman.&#8221; (QS. Anbiya&#8217; 79)  (&#8220;Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman&#8221;)</p>
<p>Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.</p>
<p>Abdullah 	:   &#8220;Silahkan naik sekarang.&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.&#8221; (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (&#8220;Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami&#8221;)</p>
<p>Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi.</p>
<p>Wanita tua 	:    &#8220;Waqshid fi masyika waghdud min shoutik&#8221; (QS. Lukman : 19)  (&#8220;Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu&#8221;)</p>
<p>Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair,  Wanita tua itu berucap.</p>
<p>Wanita tua	:    &#8220;Faqraa-u maa tayassara minal qur&#8217;aan&#8221;  (QS. Al- Muzammil : 20) (&#8220;Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur&#8217;an&#8221;)</p>
<p>Abdullah 	:  &#8220;Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.&#8221; (QS Al-Baqoroh : 269) (&#8220;Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu&#8221;)</p>
<p>Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.</p>
<p>Abdullah 	:  &#8220;Apakah anda mempunyai suami?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Laa tas-alu &#8216;an asy ya-a in tubda lakum tasu&#8217;kum&#8221; (QS. Al-Maidah : 101) (&#8220;Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu&#8221;)</p>
<p>Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.</p>
<p>Abdullah	:   &#8220;Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.&#8221; (QS. Al-Kahfi : 46) (&#8220;Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia&#8221;)</p>
<p>Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.</p>
<p>Abdullah 	:  &#8220;Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun&#8221; (QS. An-Nahl : 16) (&#8220;Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk&#8221;)</p>
<p>Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.</p>
<p>Abdullah 	:    &#8220;Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?&#8221;<br />
Wanita tua : &#8220;Wattakhodzallahu ibrohima khalilan&#8221; (QS. An-Nisa&#8217; : 125) (&#8220;Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi&#8221;) &#8220;Wakallamahu musa takliima&#8221; (QS. An-Nisa&#8217; : 146) (&#8220;Dan Allah berkata-kata kepada Musa&#8221;) &#8220;Ya yahya khudil kitaaba biquwwah&#8221; (QS. Maryam : 12) (&#8220;Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh&#8221;)</p>
<p>Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.</p>
<p>Wanita tua : &#8220;Fab&#8217;atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho&#8217;aaman fal ya&#8217;tikum bi rizkin minhu.&#8221; (QS. Al-Kahfi : 19) (&#8220;Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu&#8221;)</p>
<p>Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :</p>
<p>Wanita tua : &#8220;Kuluu wasyrobuu hanii&#8217;an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah&#8221; (QS. Al-Haqqah : 24) (&#8220;Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu&#8221;)</p>
<p>Abdullah : &#8220;Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :</p>
<p>&#8220;Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, hanya karena khawatir salah bicara.&#8221;</p>
<p>Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap :</p>
<p>&#8220;Fadhluhu yu&#8217;tihi man yasyaa&#8217; Wallaahu dzul fadhlil adhiim.&#8221; (QS. Al-Hadid : 21) (&#8220;Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar&#8221;)</p>
<p><em>[Disarikan oleh: DHB Wicaksono, dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168] dari Situs Al-Muhajir</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/110/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/110/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=110&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/15/kisah-wanita-yang-selalu-berbicara-dengan-bahasa-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Akan Menuju Surga</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/15/aku-akan-menuju-surga/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/15/aku-akan-menuju-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 12:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=109&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi</p>
<p>Duduknya gelisah! Sesekali wajahnya di arahkan ke langit! Beberapa hari belakangan ini pemuda dari kabilah Aslam itu selalu termenung sendirian. Agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda dengan tubuh atletis, kuat, gagah, dan penuh enerjik itu belum dapat jawaban tentang pertanyaan yang selalu menggelayuti pikirannya. Tentang satu keinginan yang tidak lumrah di usianya yang terbilang masih belia. Keinginannya untuk hadir di barisan para mujahid fi sabilillah. Hanya itu! Ya…hanya itu. Di kepalanya hanya tersembul satu pertanyaan,”Adakah jalan yang lebih afdhal dan lebih mulia dari jihad fisabilillah?” Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridha Allah.</p>
<p>“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Ya….sebab di sana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju medan jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal datang, berpantang mati. Maut akan datang dimanapun kita berada, yakin bahwa umur itu satu. Kapankah sampai batasnya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya? Takdir Allahlah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah di saat sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin ketika dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi di suatu tempat, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, atau di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendiri ini yang dapat dibawa menghadap Penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci di tengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih.</p>
<p>Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan harapan dan tujuan mereka. Mereka yakin di balik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagai noda. Baik noda-noda aqidah, niat-niat jahat, perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka di medan jihad menunjukkan keluhuran budi. Semua sesuai dengan seruan Allah ’mukhlishiina lahudiini’ hanya untuk Allah semata. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.</p>
<p>Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus! Harus dan mesti aku berbuat sesuatu. Janganlah kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.” Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu relatif masih muda, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitannya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang? Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan apapun yang dapat dipakainya berperang karena kemiskinan dan kefakirannya. Sebab pikirnya, tidak mungkin terjun ke medan jihad tanpa berbekal apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jangankan berperang, untuk menyelamatkan diri saja, tidak mampu.</p>
<p>Inilah daftar pertanyaan panjang yang selalu menjadikan pemuda itu tak henti berpikir. Otaknya selalu disibukkan dengan satu lintasan, satu pertanyaan, bagaimana saya dapat berlaga di medan jihad? Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah saw. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengangankan apapun dari keikutsertaannya di medan perjuangan. Dikatakannya kepada Rasulullah saw, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.</p>
<p>Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?” “Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” Jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, Tanya Rasulullah saw kemudian. “Saya tidak mempunyai perbekalan apapun untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, Jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara di sana banyak kaum munafiqin yang hatinya takut dan gentar apabila mendengar panggilan untuk berjihad fisabilillah.</p>
<p>Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.</p>
<p>Celakalah mereka yang besar dan berbadan tegap namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu hai pemuda! Semoga Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi izzul Islam wal muslimin, dengan akhlak yang mulia menuju li’illai kalimatillah. Benar, kaum muslimin sangat mendambakan para jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnyalah pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasratnya ke medan jihad. Rasulullah saw akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan perang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.” Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukkan Rasulullah saw tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah saw menyampaikan salam padamu dan juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu dengan penuh hormat merespon perintah Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah saw.” Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semuanya pada pemuda kabilah Aslam tadi. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih yang sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala yang besar dari Allah yang tiada tara.</p>
<p>Terima kasih………Terima kasih.” Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Raut wajahnya menyiratkan kegembiraan yang luar biasa. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang tersebut.</p>
<p>Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah seorang temannya yang terheran-heran dengan ekspresi kegembiraan pemuda tadi. Kemudian temannya bertanya: “Hai, hendak kemana kau?”, “Aku akan menuju jannatil firdaus yang seluas langit dan bumi”, Jawab pemuda itu singkat, mantap penuh keyakinan.</p>
<p>www.dakwatuna.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=109&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/15/aku-akan-menuju-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid (Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi)</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/04/tauhid-kitab-tauhid-syaikh-muhammad-at-tamimi/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/04/tauhid-kitab-tauhid-syaikh-muhammad-at-tamimi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 13:48:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
Tauhid [Hakekat dan Kedudukannya]
Keistimewaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Diampuni karenanya
Mengamalkan Tauhid dengan Semurni-murninya Bisa Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab
Takut Kepada Syirik
Dakwah Kepada Syahadat �La Ilaha IllAlloh�
Penjelasan Tentang Makna Tauhid dan Syahadat �La Ilaha IllAlloh�
Memakai Gelang dan Sejenisnya untuk Menangkal Bahaya adalah Perbuatan Syirik 
Ruqyah dan Tamimah 
Minta Berkah Kepada Pepohonan, Bebatuan atau yang Sejenisnya
Menyembelih binatang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=19&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><ol>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/">Tauhid [Hakekat dan Kedudukannya]</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/keistimewaan-tauhid-dan-dosa-dosa-yang-diampuni-karenanya/">Keistimewaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Diampuni karenanya</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/mengamalkan-tauhid-dengan-semurni-murninya-bisa-menyebabkan-masuk-surga-tanpa-hisab/">Mengamalkan Tauhid dengan Semurni-murninya Bisa Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/takut-kepada-syirik/">Takut Kepada Syirik</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/dakwah-kepada-syahadat-%e2%80%9cla-ilaha-illalloh%e2%80%9d/">Dakwah Kepada Syahadat �La Ilaha IllAlloh�</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/penjelasan-tentang-makna-tauhid-dan-syahadat-%e2%80%9cla-ilaha-illalloh%e2%80%9d/">Penjelasan Tentang Makna Tauhid dan Syahadat �La Ilaha IllAlloh�</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/memakai-gelang-dan-sejenisnya-untuk-menangkal/">Memakai Gelang dan Sejenisnya untuk Menangkal Bahaya adalah Perbuatan Syirik</a></span></span></span></strong><strong> </strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/ruqyah-dan-tamimah/">Ruqyah dan Tamimah</a></span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/minta-berkah-kepada-pepohonan-bebatuan-atau-yang-sejenisnya/">Minta Berkah Kepada Pepohonan, Bebatuan atau yang Sejenisnya</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/menyembelih-binatang-bukan-karena-alloh-subhanahu-wa-subhanahu-wa-ta%e2%80%99ala/">Menyembelih binatang bukan karena Alloh <em>Subhanahu wa <em>Subhanahu wa Ta�ala</em></em></a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/menyembelih-binatang-karena-alloh-dilarang-dilakukan-di-tempat-penyembelihan-yang-bukan-karena-alloh/">Menyembelih binatang karena Alloh, dilarang dilakukan di tempat penyembelihan yang bukan karena Alloh</a> </span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/bernadzar-untuk-selain-alloh-adalah-syirik/">Bernadzar untuk selain Alloh adalah syirik</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/meminta-perlindungan-kepada-selain-alloh-adalah-syirik/">Meminta perlindungan kepada selain Alloh adalah syirik</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/berdo%e2%80%99a-kepada-selain-alloh-adalah-syirik/">Berdo�a kepada selain Alloh adalah syirik</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/ibadah-itu-hak-milik-alloh/">Ibadah itu hak milik Alloh</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/malaikat-makhluk-yang-perkasa-bersujud-kepada-alloh/">Malaikat makhluk yang perkasa bersujud kepada Alloh</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/syafa%e2%80%99at/">Syafa�at</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/nabi-tidak-dapat-memberi-hidayah-kecuali-dengan-kehendak-alloh/">Nabi tidak dapat memberi hidayah kecuali dengan kehendak Alloh</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/penyebab-utama-kekafiran-adalah-berlebih-lebihan-dalam-mengagungkan-orang-orang-sholeh/">Penyebab utama kekafiran adalah berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang sholeh</a></span></span></span></strong></li>
<li><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-family:verdana;font-size:x-small;"><span style="text-decoration:none;"><a href="http://kitabtauhid.wordpress.com/2007/07/07/larangan-beribadah-kepada-alloh-di-sisi-kuburan/">Larangan beribadah kepada Alloh di sisi kuburan</a> </span></span></span></strong></li>
</ol>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=19&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/04/tauhid-kitab-tauhid-syaikh-muhammad-at-tamimi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuhan Tidak Ada?</title>
		<link>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/04/tuhan-tidak-ada/</link>
		<comments>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/04/tuhan-tidak-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 07:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evisyari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evisyari.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=16&subd=evisyari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.</p>
<p>Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.</p>
<p>Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.</p>
<p>Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.</p>
<p>“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.</p>
<p>“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.<br />
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”</p>
<p>Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.</p>
<p>Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.</p>
<p>Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.” Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.<br />
“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”.</p>
<p>“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana “, si konsumen menambahkan.</p>
<p>“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur. ” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri,<br />
kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.</p>
<p>“Cocok!” kata si konsumen menyetujui. “Itulah point utama-nya!.<br />
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG<br />
kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpakesusahan di dunia ini.”</p>
<p>Si tukang cukur terbengong !!!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/evisyari.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/evisyari.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evisyari.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evisyari.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evisyari.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evisyari.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evisyari.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evisyari.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evisyari.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evisyari.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evisyari.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evisyari.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evisyari.wordpress.com&blog=4130951&post=16&subd=evisyari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evisyari.wordpress.com/2008/07/04/tuhan-tidak-ada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">evisyari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>