Lowongan CPNS/BUMN Juli-Agustus 2009 di berbagai Departemen

•July 21, 2009 • 5 Comments
  • Lowongan CPNS Departemen Luar Negeri (Deplu) 2009 untuk lulusan D3/S1/S2/S3
  • Lowongan CPNS Departemen Keuangan (SMK/D3, 18 Juli – 7 Agustus 2009)
  • Lowongan Kerja BUMN PT PNM (Wanita, S1 Ekonomi; 15 Agustus 2009)
  • Lowongan Kerja BUMN PT PLN (D3/S1, 31 Juli 2009)
  • Lowongan Senior Manager BUMN Bank Mandiri (S1 semua jurusan, 26 Juli 2009)
  • Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430 H

    •July 13, 2009 • 9 Comments

    Berikut Jadwal Imsakiyah yang siap didownload: (Klik Kanan kemudian Save Target As)

    SUMATERA

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_NAD

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Medan

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Padang

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Jambi

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Pekanbaru

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Bengkulu

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Palembang

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Bandar_Lampung

    Jadwal_Imsakiyah Ramadhan_1430_pakarfisika_Bangka_Tengah

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Pangkal_Pinang

    JAWA BARAT / DKI

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Jakarta

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Bogor

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Cirebon

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Banten

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Tangerang

    JAWA TENGAH

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Salatiga

    Jadwal_Imsakiyah Ramadhan_1430_pakarfisika_Surakarta

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Semarang

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Rembang

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Kebumen

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Demak

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Kudus

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Jepara

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Blora

    JAWA TIMUR

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Surabaya

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Pasuruan

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Malang

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Madiun

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Lamongan

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Kediri

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Gresik

    MADURA

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Sumenep

    BALI

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Denpasar

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Singaraja

    NTB

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Mataram

    NTT

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Kupang

    KALIMANTAN

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Pontianak

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Palangkaraya

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Banjarmasin

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Balikpapan

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Bontang

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Samarinda

    SULAWESI

    Jadwal_Imsakiyah_1430_pakarfisika_Makassar

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Mamuju

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Manado

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Palu

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Palopo

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Poso

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Kendari

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Gorontalo

    MALUKU

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Ternate

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Ambon

    PAPUA

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Sorong

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Manokwari

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Jayapura

    Jadwal_Imsakiyah_Ramadhan_1430_pakarfisika_Merauke

    Sumber : http://pakarfisika.wordpress.com

    FREE-Download File Video DVD Majelis Dhuhaa Nasional

    •June 30, 2009 • 1 Comment

    Yuk Sedekah

    •June 26, 2009 • 2 Comments

    Ada sepasang suami istri yang mendapatkan berkah memiliki anak-anak yang menghafalkan al Qur’an. Dua dari anak-anaknya, disekolahkan di Daarul Qur’an. Kembar. Sebelum masuk di SLTP Daarul Qur’an udah hafal 20-an juz duluan. Di Daarul Qur’an tinggal penyempurnaan saja. Ketika kisah ini saya angkat di DhuhaaCoffee, si kembar ini, dua-duanya sudah berhasil merampungkan hafalan al Qur’an.


    Ibu dan ayahnya si kembar ini kemudian berkenalan lebih dalam dengan sedekah. Keajaiban-keajaiban kecil terjadi ketika sepasang suami nan berkah ini menjalankan sedekah. Hingga kemudian keduanya memutuskan sedekah besar. Mobilnya dia jual, dan beliau berdua sedekahkan. Beliau punya doa kepada Allah. Yakni agar rumah dan tanah yang sedang dijual di dekat kediaman mereka bisa mereka beli.


    Dengan yakinnya mereka bilang, “Kami sedekahkan mobil kami agar Allah berikan kepada kami rizki agar rumah dan tanah tersebut bisa kami bayarkan. Tepat pada waktunya”.


    Saat itu, saya mengiyakan juga. Sebagai doa juga buat beliau berdua. Padahal mah, hati ini membatin, bahwa keduanya berhak mendapatkan yang lebih besar dari sekedar rumah dan tanah tersebut. Tapi saya juga meyakini, bahwa insya Allah mungkin saja terjadi. Wong testimoni begini udah sering juga terjadi.


    Hingga saatnya pemilik rumah ini memberi tenggat waktu, keduanya belom mendapat jawaban. Tapi emang husnudzdzannya sama Allah minta ampun besarnya. Beliau banting kepada “bahwa belomlah cukup berterima kasih diberi anak-anak yang semuanya menghafal al Qur’an”. Beliau juga biarkan semua terjadi dan terjadilah. Bahwa dia berdua sudah menyedekahkan kijangnya, ya sudah. Tidak semua orang juga kan bisa menyedekahkan mobil satu-satunya. Sedangkan dia bisa. Artinya, dari sisi ini saja, sudah bersyukur banget. Luar biasa. Apalagi katanya, dia berdua kini pake mobil kijang baru. Innova. Sewaan sih, tapi kan ga ada yang tahu juga bahwa ini sewaannya. Mereka berdua masih menyimpan keyakinan, bahwa sedekahnya biar bagaimana, mestilah diganti sama Allah. Hanya emang Allah lah yang tahu kapan-kapannya penggantian itu dan pegimana bentuknya. Bisa jadi, belum seukuran rumah dan tanah yang diincar. Melainkan mobil pengganti dulu, sehingga begitu sewaan selesai, mobil baru sudah diberi Allah.


    Saya terus memompa beliau supaya makin kuat husnudzdzannya sama Allah. Saat tulisan ini diturunkan, tanah yang diincar tersebut, sudah dibeli kawannya. Sudah di-DP-in 100jt. Totalnya 300jt. Tapi kemudian beliau ngabarin bahwa tanah tersebut ditawarkan ulang. Katanya, lunasin saja 2 bulan lagi. Yang 100jt nya yang sudah dia dp-kan, entar-entar aja bayarnya.


    Saya kemudian bilang ke mereka, tetap saja ga usah maksain. Biar saja. Terus saja meminta kepada Allah. Belum diberi tapi jangan sampe kemudian kita ini berhenti meminta. Meminta mah meminta aja terus. Siapa tahu ada Rencana Allah yang begitu indah. Ada hamba-Nya Allah yang Allah gerakkan untuk beli itu rumah. Dan ada yang lain yang digerakkan untuk membeli tanahnya. Oleh si pembeli rumah, rumah itu dibagusin, direnovasi. Dan oleh si pembeli tanah, tanah itu dibangunkan kontrakan-kontrakan. Kemudian, bisa jadi juga dua-duanya ada kesulitan, lalu dijuallah keduanya. Rumah yang sudah bagus itu dijual, dan tanah yang sudah dibangun kontrakan, juga dijual. Dijualnya sama satu orang. Lalu, orang ini kemudian menghibahkan kepada si suami istri ini untuk dijadikan pesantren! Bisa saja. Wong Allah koq yang punya kuasa. Insya Allah semuanya mungkin. Yang penting, husnudzdzan teruuuus dan jangan pernah mempertanyakan keadilan dan jawaban janji Allah. Kita-kitanya saja yang harus sering-sering mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang diri kita. Oceh?


    Nah, kasus demi kasus sedekah, kisah demi kisah sedekah, disajikan untuk diri saya dan saudara-saudara semua. Semoga bermanfaat.


    Sumber : www.wisatahati.com

    Gifts From The Heart for Women

    •June 21, 2009 • 2 Comments

    Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku “Gifts From The Heart for Women” karangan Karen Kingsbury.  Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku Gramedia, maupun toko buku lainnya. Kisahnya sbb :

    Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik Untuk …….

    Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

    Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.

    “Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya.”

    Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.

    Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. “Pelatih”, panggilnya. “Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?”

    Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.

    “Tentu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. “Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu.” Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.

    Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. “Pertandingan yang sangat mengagumkan,” katanya kepada Luke. “Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?”

    Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata “Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,……Ibuku meninggal.” Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata “Hari ini,…….hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka…….”. Luke kembali menangis terisak-isak.

    Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak…..

    Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya…………Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya……..

    Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya……………

    Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN :

    Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ?

    Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya………?

    Qana’ah Sifat Mulia yang Harus di Miliki Para Istri

    •June 17, 2009 • 2 Comments

    Sikap qana’ah atau menerima apa adanya (nrimo) pada masalah kebendaan (duniawi) dalam kehidupan suami istri sangat dibutuhkan.Terutama bagi seorang istri tanpa adanya sifat qana’ah maka bisa dibayangkan bagaimana susahnya seorang suami.Setiap tiba dirumah maka yang terdengar adalah keluhan-keluhan, belum punya ini belum punya itu, ingin beli perhiasan, pakaian baru, sepatu baru, jilbab baru,perkakas rumah tangga, furniture, dan lain-lainnya.

    Alhamdulillah bila sang suami memiliki banyak harta apabila tidak maka yang terjadi adalah pertengkaran dan perselisihan melihat kedudukan suami dengan sebelah mata karena gaji yang kecil .Terkadang keluar keluhan bila si Fulan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar mengapa engkau tidak???sehingga impian membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah warrahmah semakin jauh.Hati menjadi resah dan gundah lalu hilanglah rasa syukur, baik kepada suami maupun kepada Allah.Bila hal ini sudah menimpa pada seorang istri maka waspadalah ya ukhti,….sesungguhnya engkau telah membebani suamimu diluar kemampuannya.

    Engkau telah membuatnya terlalu sibuk dengan dunia untuk memenuhi segala keinginanmu. Berapa banyak kaum suami yang meninggalkan majelis ilmu syar’i demi mengejar uang lemburan? sebelum menikah rajin datang ke tempat majelis ilmu setelah menikah jarang terlihat lagi, mungkin tadinya datang setiap minggu sekarang frekuensinya menjadi sebulan dua kali atau sekali bahkan mungkin tidak datang lagi!!! Atau berapa banyak kaum suami yang rela menempuh jalan yang diharamkan Allah Ta’ala demi membahagiakan sang istri tercinta.Yang terakhir ini banyak ditempuh oleh para suami yang minim sekali ilmu agamanya sehingga demi ‘’senyuman sang istri” rela ia menempuh jalan yang dimurkai-Nya.Wal’iyyadzu billah.

    Duhai, para istri…engkau adalah sebaik-baik perhiasan diatas muka bumi ini bila engkau memahami dienmu. Maka jadilah wanita dan istri yang shalihah,itu semua bisa dicapai bila engkau mampu mengendalikan hawa nafsumu, bergaul hanya dengan kawan-kawan yang shalihah dan berilmu,dan tutuplah matamu bila engkau melihat sesuatu yang tidak mungkin bisa engkau raih, lihatlah kebawah masih banyak yang lebih menderita dan lebih miskin hidupnya dibandingkan engkau. Maka akan kau temui dirimu menjadi orang yang mudah mensyukuri nikmat-Nya.

    Sifat qana’ah ibarat mutiara yang terpendam di bawah laut, barangsiapa yang bisa mengambilnya dan memilikinya maka beruntunglah ia.Seorang istri yang memiliki sifat qana’ah ini maka dapat membawa ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangganya. Suami merasa sejuk berdampingan denganmu, rasanya akan enggan ia menjauh darimu.

    Betapa bahagianya para suami yang memiliki istri yang qana’ah, para istri bisa memiliki sifat ini bila ia mau berusaha sekuat tenaga dan berdo’a kepada Allah semata. Ya, Allah janganlah kau jadikan dunia satu-satunya keinginan utama kami, amin.Wallahu’alam bishawwab.

    Bumi Allah, Sydney.

    by Ummu Raihanah

    Karena Taman Itu Disirami

    •June 17, 2009 • Leave a Comment

    Karya: Abu Ammar al-Ghoyami

    Indahnya pergaulan pasutri dalam membina rumah tangganya sarat dengan keharmonisan. Keharmonisan merupakan sebutan yang sering dan selalu didamba keberadaannya oleh setiap pasutri. Hal ini wajar, mengingat begitu pentingnya peranannya dalam kehidupan setiap pasutri. Bisa jadi dan sangat mungkin sebab keharmonisan itu merupakan pokok keberhasilan dalam usaha mereka berdua mendayung sampan mengarungi samudera kehidupan rumah tangganya.

    Termasuk unsur pokok keharmonisan setiap pasutri adalah akhlaq yang terpuji dari tiap-tiap individu. Dan termasuk pokok akhlaq terpuji adalah berbuat adil dan tidak menzholimi. Seorang suami harus mempergauli isterinya dengan penuh keadilan dan tidak ada kezholiman. Begitu pula seorang isteri harus mengimbangi keadilan suami dengan keadilan serupa. Bersihnya suami dari kezholiman ialah dengan menahan dari melakukan kezholiman kepada isterinya. Bukankah itu adalah keharmonisan?

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kedudukan yang berbeda antara suami dan istri dalam rumah tangganya, hal ini menuntut keadilan dan dibuangnya jauh-jauh kezholinman dari setiap pasutri terhadap pasangannya. Sebab dibalik perbedaan itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan keharmonisan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

    Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para suami sebagai orang yang memiliki kuasa dalam membina para isterinya, mendidik mereka, serta memerintah mereka untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada suaminya, serta memberikan pelajaran kepada mereka bila mereka tidak menunaikannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sebaliknya.

    Mengapa ditetapkan demikian? Padahal yang demikian ini benar-benar sebuah perbedaan? Memang benar, itu adalah perbedaan, sedangkan keharmonisan tidak selamanya harus sepadan, harus sama, dan harus selaras. Dalam perbedaan pun Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keharmonisan, bahkan merupakan keharmonisan yang sesungguhnya.

    Mengapa hanya suami? Sebab Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan para suami atas para isteri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan, dengan harta yang mereka nafkahkan untuk isteri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada para isteri mereka. Benar-benar sebuah keharmonisan! Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami.

    Bukankah tidak harmonis bila yang selalu disirami tidak ’mengerti’ tuannya? Seperti juga bukan keharmonisan bila si tuan tidak menyirami tamannya? Karena taman itu disirami, maka selayaknya mawar-mawar itu memahami perbedaan ini. Hanya karena taman itu disirami maka bunga-bunga keharmonisan pun harum semerbak mewangi.

    Ditulis ulang dari Majalah al-Mawaddah, Edisi 2 Tahun ke-1 1428/2007

    Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan Penyucian Jiwa

    •June 16, 2009 • Leave a Comment

    Penyucian jiwa adalah masalah yang sangat penting dalam Islam, bahkan merupakan salah satu tujuan utama diutusnya Nabi kita Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam(Lihat kitab Manhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufuus, hal. 21)

    Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam banyak ayat Al Qur-an, di antaranya firman Allah Ta’ala,

    كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

    “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, dan menyucikan(diri)mu, dan mengajarkan kepadamu Al kitab (Al Qur-an) dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (Qs Al Baqarah: 151)

    Juga firman-Nya,

    لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

    “Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur-an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qs Ali ‘Imraan: 164)

    Makna firman-Nya “menyucikan (jiwa) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Ta’ala). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/267)

    Pentingnya Tazkiyatun Nufus Dalam Islam

    Pentingnya tazkiyatun nufus ini akan semakin jelas kalau kita memahami bahwa makna takwa yang hakiki adalah pensucian jiwa itu sendiri (Lihat kitab Manhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufuus, hal. 19-20). Artinya ketakwaan kepada Allah Ta’ala yang sebenarnya tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan berusaha menyucikan dan membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang menghalangi seorang hamba untuk dekat kepada Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam firman-Nya,

    وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

    “Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (dengan ketakwaan) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan).” (Qs Asy Syams: 7-10)

    Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa beliau:

    اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

    “Allahumma aati nafsii taqwaaha wa zakkihaa, anta khoiru man zakkaahaa, anta waliyyuhaa wa mawlahaa” [Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya]” (HSR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2722)

    Imam Maimun bin Mihran (seorang ulama tabi’in) berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai takwa sehingga dia melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi terhadap keinginan jiwa untuk mencapai kesucian jiwa) yang lebih ketat daripada seorang pedagang yang selalu mengawasi sekutu dagangnya (dalam masalah keuntungan dagang). Oleh karena itu, ada yang mengatakan: Jiwa manusia itu ibarat sekutu dagang yang suka berkhianat. Kalau Anda tidak selalu mengawasinya, dia akan pergi membawa hartamu (sebagaimana jiwa akan pergi membawa agamamu)” (Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan, hal. 147 – Mawaaridul Amaan)

    Ketika menerangkan pentingnya tazkiyatun nufus, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, “Orang-orang yang menempuh jalan (untuk mencari keridhaan) Allah Ta’ala, meskipun jalan dan metode yang mereka tempuh berbeda-beda, akan tetapi mereka sepakat mengatakan bahwa nafsu (jiwa) manusia adalah penghalang utama bagi hatinya untuk sampai kepada ridha Allah Ta’ala. Sehingga seorang hamba tidak akan mencapai kedekatan kepada Allah Ta’ala melainkan setelah dia berusaha menentang dan menguasai nafsunya (dengan melakukan tazkiyatun nufus)” (KitabIghaatsatul Lahfaan, hal. 132 – Mawaaridul Amaan))

    Manhaj Ahlul Bid’ah Dalam Penyucian Jiwa

    Karena pentingnya kedudukan tazkiyatun nufus dalam agama Islam inilah, tidak heran kalau kita mendapati orang-orang ahlul bid’ah berlomba-lomba mengatakan bahwa merekalah yang paling perhatian terhadap masalah ini, bahkan sebagian mereka berani mengklaim bahwa hanya dengan mengamalkan metode merekalah seorang hamba bisa mencapai kesucian jiwa yang utuh dan sempurna.

    Akan tetapi, kalau kita mengamati dengan seksama metode-metode mereka, kita akan dapati bahwa semua metode tersebut tidak bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Akan tetapi sumbernya adalah pertimbangan akal dan perasaan, atau ciptaan pimpinan-pimpinan kelompok mereka, bahkan berdasarkan khayalan atau mimpi yang kemudian mereka namakan mukasyafah (tersingkapnya tabir) [1]. Inilah sebab utama yang menjadikan setan mampu menyesatkan mereka sejauh-jauhnya dari jalan yang benar, karena berpalingnya mereka dari petunjuk Allah dalam Al Qur-an dan Sunnah. Sehingga dengan manerapkan metode-metode mereka tersebut seseorang tidak akan mencapai kesucian jiwa dan kebersihan hati yang sebenarnya, bahkan justru hatinya akan semakin jauh dari Allah karena mereka mengikuti jalan-jalan setan, “Barangsiapa yang berpaling dari dalil (Al Qur-an dan Sunnah) maka jalannya akan tersesat” (Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu Daaris Sa’aadah, 1/83)

    [1] Maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.

    Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk tipu daya setan adalah apa yang dilontarkannya kepada orang-orang ahli tasawuf yang bodoh, berupa asy syathahaat(ucapan-ucapan tanpa sadar/igauan) dan penyimpangan besar, yang ditampakkannya kepada mereka sebagai bentuk mukasyafah (tersingkapnya tabir hakikat) dari khayalan-khayalan. Maka setan pun menjerumuskan mereka dalam berbagai macam kerusakan dan kebohongan, serta membukakan bagi mereka pintu pengakuan-pengakuan dusta yang sangat besar. Setan membisikan kepada mereka bahwa sesungguhnya di luar ilmu (syariat yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah) ada jalan lain yang jika mereka menempuhnya maka jalan itu akan membawa mereka kepada tersingkapnya (hakikat dari segala sesuatu) secara jelas dan membuat mereka tidak butuh lagi untuk terikat dengan (hukum dalam) Al Qur’an dan As Sunnah [?!] …maka ketika mereka menempuh jalan yang jauh dari bimbingan ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, setan pun menampakkan kepada mereka berbagai macam kesesatan sesuai dengan keadaan mereka, dan membisikkan khayalan-khayalan ke dalam jiwa mereka, kemudian menjadikan khayalan-khayalan tersebut seperti benar-benar nyata sebagai penyingkapan hakikat dari segala sesuatu secara jelas…[?!]” (Kitab Ighaatsatul Lahfaan, hal. 193 – Mawaaridul Amaan)

    Senada dengan ucapan di atas, Imam Ibnul Jauzi ketika menjelaskan perangkap setan dalam menjerumuskan orang-orang tasawuf, beliau berkata, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya awal mula talbis (pengkaburan/perangkap) Iblis untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan adalah dengan menghalangi (memalingkan) mereka dari ilmu agama yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah, karena ilmu agama itu adalah cahaya yang menerangi hati, maka jika Iblis telah berhasil memadamkan lampu-lampu cahaya mereka, dia akan mampu mengombang-ambingkan dan menyesatkan mereka dalam kegelapan (kesesatan) sesuai dengan keinginannya.” (Kitab Talbiisu Ibliis, hal. 389)

    Adapun manhaj Ahlus Sunnah dalam hal ini adalah metode yang paling selamat dan terjamin kebenarannya, karena benar-benar bersumber dari wahyu Allah Yang Maha Menguasai hati manusia dan Maha Mampu Membersihkan jiwa mereka. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim (no. 2654), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya hati manusia semuanya (berada) di antara dua jari dari jari-jari Ar Rahman (Allah Ta’ala), seperti hati yang satu, yang Dia akan memalingkan (membolak-balikkan) hati tersebut sesuai dengan kehendak-Nya”, kemudian Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa:

    اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

    “Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana ‘ala tho’atik.” [Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu]

    Juga dalam doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kami sebutkan di atas:“Allahumma aati nafsii taqwaaha wa zakkihaa, anta khoiru man zakkaahaa, anta waliyyuhaa wa mawlahaa.” [Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya]” (HSR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2722)

    Allah Ta’ala menjelaskan salah satu fungsi utama diturunkannya Al Qur-an yaitu membersihkan hati dan menyucikan jiwa manusia dari noda dosa dan maksiat yang mengotorinya, dalam firman-Nya,

    أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

    “Allah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka aliran air itu itu membawa buih yang mengambang (di permukaan air). Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs Ar Ra’d: 17)

    Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Ibnul Qayyim berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala mengumpamakan ilmu yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan air (hujan), karena keduanya membawa kehidupan dan manfaat bagi manusia dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Kemudian Allah mengumpamakan hati manusia dengan lembah (sungai, danau dan lain-lain), hati yang lapang (karena bersih dari kotoran) akan mampu menampung ilmu yang banyak sebagaimana lembah yang luas mampu menampung air yang banyak, dan hati yang sempit (karena dipenuhi kotoran) hanya mampu menampung ilmu yang sedikit sebagaimana lembah yang sempit hanya mampu menampung air yang sedikit, Allah berfirman (yang artinya), “…Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya (daya tampungnya)” Kemudian Allah berfirman (yang artinya), “…Maka aliran air itu itu membawa buih yang mengambang (di permukaan air)” Ini adalah perumpamaan yang Allah sebutkan bagi ilmu (wahyu dari-Nya) ketika kemanisan ilmu tersebut masuk dan meresap ke dalam hati manusia, maka ilmu tersebut akan mengeluarkan membersihkan dari hati manusia buih (kotoran) syubhat (kerancuan dalam memahami dan mengamalkan agama) yang merusak sehingga kotoran tersebut akan mengambang (tidak menetap) di permukaan hati, sebagaimana aliran air akan mengeluarkan kotoran dari lembah sehingga kotoran tersebut akan mengambang di permukaan air. Allah Ta’ala mengabarkan bahwa kotoran tersebut mengambang dan mengapung di atas permukaan air, tidak menetap (dengan kuat) di atas tanah. Demikian pula (keadaan kotoran) syubhat yang rusak ketika ilmu mengeluarkan (membersihkan)nya (dari hati), syubhat tersebut akan mengambang dan mengapung di atas permukaan hati, tidak menetap dalam hati, bahkan kemudian akan dibuang dan disingkirkan dari hati, sehingga pada akhirnya yang menetap pada hati tersebut adalah petunjuk (ilmu) dan agama yang benar (amal shaleh) yang bermanfaat bagi orang tersebut dan orang lain, sebagaimana yang akan menetap pada lembah adalah air yang jernih dan buih (kotoran) akan tersingkirkan sebagai sesuatu yang tidak berguna. Tidaklah mampu (memahami) perumpaan-perumpaan dari Allah kecuali orang-orang yang berilmu.” (Kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah, 1/61)

    Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mempertegas perumpaan di atas dalam sabda beliau, “Sesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…” (HSR Al Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2282)

    Imam Ibnu Hajar dalam kitab beliau Fathul Baari membawakan ucapan para ulama dalam menerangkan makna hadits ini: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan bagi agama yang beliau bawa (dari Allah Ta’ala) seperti air hujan (yang baik) yang merata dan turun ketika manusia (sangat) membutuhkannya, seperti itu jugalah keadaan manusia sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana air hujan tersebut memberi kehidupan (baru) bagi negeri yang mati (kering dan tandus), demikian pula ilmu agama akan memberi kehidupan bagi hati yang mati…”(Fathul Baari, 1/177)

    Adapun dalil-dalil dari Al Qur-an dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa masing-masing dari ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan kepada hamba-hamba-Nya bertujuan untuk menyucikan dan membersihkan jiwa-jiwa mereka, maka terlalu banyak untuk disebutkan semua. Misalnya adalah shalat. Allah Ta’ala menjelaskan salah satu tujuan utama disyariatkannya ibadah ini, yaitu untuk membersihkan jiwa manusia dari perbuatan keji dan mungkar yang termasuk kotoran dan penyakit hati yang paling merusak, dalam firman-Nya,

    وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

    “…Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Qs Al ‘Ankabuut: 45)

    Demikian pula zakat, Allah Ta’ala berfirman,

    خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan (jiwa dan hati) mereka…” (Qs At Taubah: 103)

    Demikian pula puasa, karena tujuan utama puasa adalah untuk mencapai takwa, yang hakikat dari takwa itu adalah penyucian jiwa, sebagaimana penjelasan di atas. Allah Ta’ala berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Qs Al Baqarah: 183)

    Demikian juga syariat hijab (tabir) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, Allah berfirman,

    ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

    “Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Qs Al Ahzaab: 53)

    Dan masih banyak contoh lainnya, bahkan secara umum pengagungan terhadap semua perintah Allah dalam syariat-Nya adalah bukti ketakwaan hati dan kesucian jiwa. Allah Ta’ala berfirman,

    ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

    “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah-perintah/syariat) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”(Qs Al Hajj: 32)

    Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa penyucian jiwa yang sebenarnya hanyalah dapat dicapai dengan memahami dan mengamalkan wahyu Allah Ta’ala yang terjamin kebenarannya, yaitu Al Qur’an dan sunnah yang shahih (benar). Oleh karena itulah, menurut manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, untuk mencapai kebersihan hati dan kesucian jiwa tidak ada metode atau cara-cara khusus selain dari mempelajari dan mengamalkan syariat Islam secara keseluruhan. (Lihat kitabManhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufuus, hal. 59). Karena kalau masalah ini merupakan hal yang sangat penting dalam Islam, bahkan merupakan salah satu tujuan utama diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan di awal tulisan ini, maka apakah mungkin syariat Islam yang lengkap dan sempurna ini luput dari menjelaskan masalah yang sangat dibutuhkan manusia ini? Padahal Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun (dari perkataan atau perbuatan) yang (bisa) mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan (semuanya) telah dijelaskan bagimu (dalam agama Islam ini)” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647 dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1803). Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Dzar Al Gifaari radhiyallahu ‘anhu setelah sebelumnya beliau berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara (tidak ada satu masalahpun yang kami butuhkan dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala) melainkan beliau telah menjelaskan ilmu (petunjuk Allah) dalam semua masalah tersebut.” (Ibid)

    Oleh karena itulah, maka orang yang paling bersih hatinya dan paling suci jiwanya adalah orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan membaca dan memahami kitab-kitab para ulama yang berisi ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah adalah satu-satunya obat untuk membersihkan kotoran hati dan jiwa manusia. Imam Ibnul Jauzi mengatakan di sela-sela sanggahan beliau terhadap sebagian ahli tasawuf yang mengatakan bahwa ilmu tentang syariat Islam tidak diperlukan untuk mencapai kebersihan hati dan kesucian jiwa, “Ketahuilah bahwa hati manusia tidak mungkin terus dalam keadaan bersih, akan tetapi suatu saat mesti akan bernoda karena dosa dan maksiat, maka pada waktu itu dibutuhkan pembersih hati dan pembersih hati itu adalah menelaah kitab-kitab ilmu agama untuk memahami dan mengamalkannya.” (KitabTalbisu Ibliis, hal.398)

    Epilog

    Setelah membaca tulisan di atas jelaslah bagi kita bagaimana pentingnya mengkaji dan memahami ilmu agama, karena inilah satu-satunya cara untuk meraih kemuliaan tingi dalam agama, yaitu ketakwaan hati dan kesucian jiwa. Oleh karena itu, sangat wajar kalau kita dapati para ulama Ahlus Sunnah menggambarkan kebutuhan manusia terhadap ilmu agama melebihi besarnya kebutuhan mereka terhadap semua kebutuan pokok dalam kehidupan mereka.

    Alangkah indahnya ucapan Imam Ahmad bin Hambal, Imam ahlus Sunnah di jamannya, ketika menggambarkan kebutuhan manusia terhadap ilmu agama ini dalam ucapan beliau yang terkenal, “Kebutuhan manusia terhadap ilmu  agama melebihi besarnya kebutuhan mereka terhadap makan dan minum, karena makan dan minum dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari. Adapun ilmu agama dibutuhkan sesuai dengan hitungan nafas manusia  setiap waktu.” (Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Miftaahu Daaris Sa’aadah, 1/61 dan 1/81)
    Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa:

    Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa-jiwa kami semua ketakwaannya,
    dan sucikanlah jiwa kami (dengan ketakwaan itu),
    Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya,
    (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.

    وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

    Kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Shafar 1430 H

    ***

    Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al-Buthoni, Lc.
    Artikel
    www.muslim.or.id

    Lowongan Penerjemahan Tafsir Ibnu Katsir

    •June 16, 2009 • Leave a Comment

    Muslim.or.id bekerjasama dengan LC MEDIU Yogyakarta akan menggulirkan program translasi Tafsir Ibnu Katsir. Sebegaimana diketahui bahwa Tafsir Ibnu Katsir merupakan salah satu tafsir yang menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia dan bahkan di seluruh belahan dunia. Tujuan penerjemahan tafsir Ibnu Katsir ini adalah untuk disebarluaskan kepada masyarakat secara cuma-cuma (GRATIS!!!) sehingga masyarakat khususnya kaum muslimin akan dapat menikmati manfaat yang luar biasa dari tafsir tersebut.

    Untuk menyukseskan program ini, kami membuka kesempatan kepada para pembaca yang memiliki kemampuan dalam penerjemahan bahasa untuk berpartisipasi dalam program ini dengan honor per-halaman yang kompetitif. Adapun posisi yang diperlukan:

    1. Penerjemah

    • Pria muslim
    • Diutamakan tinggal Yogyakarta dan sekitarnya
    • Bisa menggunakan MS Word
    • Sanggup bekerja sesuai target (3 halaman per hari)
    • Bisa bekerjasama dengan tim
    • Menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia

    2. Editor

    • Muslim/muslimah
    • Berpengalaman sebagai editor
    • Diutamakan tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya
    • Bisa menggunakan MS Word
    • Sanggup bekerja sesuai target (3 halaman per hari)
    • Bisa bekerjasama dengan tim
    • Menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia

    Para pembaca yang tertarik dapat menyerahkan jatidiri berupa: Nama, No telp yang bisa dihubungi (hp atau rumah), alamat email, alamat YM, Domisili dan posisi yang dikehendaki. Data dapat dikirimkan ke alamat email:amrullah[dot]akadhinta[at]gmail[dot]com.

    Bawang Dayak

    •May 22, 2009 • 2 Comments

    Bawang Dayak

    Bawang Dayak(Eleutherina americana
    Obat Alami untuk mengatasi Berbagai penyakit Degeneratif.
    Bawang dayak adalah salah satu spesies tumbuhan berbunga dan berumbi di hutan Kalimantan yang biasa digunakan oleh masyarakat pedalaman menjadi obat/ramuan tradisional.

    Kandungannya terdiri dari senyawa-senyawa Alkaloid, Saponin, Triterfenoid, Steroid, Glikosida, Tanin, Fenolik dan Flavonoid.

    Bawang Dayak secara empiris banyak digunakan dalam pengobatan herbal dan terbukti berhasil dengan baik dalam proses penyembuhan. Pengalaman menunjukan tanaman ini dapat meningkatkan efek farmakologi khasiat tanaman herbal lain.
    Dalam buku Berjudul TUMBUHAN BERGUNA INDONESIA, Penulis K.Heyne mengungkapkan banyak manfaat dari Bawang Dayak ini.

    Bawang Dayak di kota Tanah Grogot, Ibukota Kabupaten Paser Propinsi Kalimantan Timur, bersama tanaman herbal lain diproduksi dalam bentuk kapsul tanpa pengawet dan bahan kimia menjadi obat alami untuk mengatasi berbagai penyakit.

    Bawang Dayak dikombinasi dengan tanaman herbal lain terbukti mampu mengatasi berbagai penyakit antara lain keluhan prostat, kanker kista, payudara/rahim, gangguan haid, asam urat, nyeri otot & sendi (arthritis), nyeri pinggang, dispepsia (nyeri, mual,kembung), radang usus, maag, gastritis, gangguan lever dan hepatitis , gangguan kemih (tidak lancar, nyeri/anyang-anyang, berdarah), diabetes, hipertensi, obesitas (kegemukan), gangguan seksual (lemah syahwat, ejakulasi dini, kurang gairah), ashma/bronkhitis, sinusitis, tonsilitis, gondok, pengapuran, menghambat proses penuaan dan peremajaan sel-sel dan metabolisme dalam tubuh, meningkatkan stamina dan vitalitas (olah raga/bekerja), daya tahan tubuh, serta berkhasiat sebagai anti infeksi, anti bakteri, anti bakteri, anti radang serta membersihkan darah.