HAID atau MENSTRUASI

Pengantar

Allah menciptakan manusia dengan dua jenis laki-laki dan perempuan, walaupun secara prinsip kedua jenis ini sederajat dalam hal beban taklif akan tetapi dari sisi penciptaan keduanya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain, terdapat sisi perbedaan di antara keduanya yang tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah haid pada wanita. Nabi saw bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلىَ بَتَاتِ آدَمَ .

“Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang Allah tulis atas anak perempuan Adam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah).

Karena haid adalah sesuatu yang Allah tulis atas anak perempuan Adam maka mereka tidak bisa menghindar darinya, pada saat yang sama agama Islam mengaitkan haid dengan beberapa hukum ibadah seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain, di sinilah pentingnya wanita muslimah secara khusus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan haid karena dia pasti membutuhkannya setiap bulan, juga seorang muslim secara umum, walaupun dia tidak mengalaminya akan tetapi ilmu tentang haid tetap bermanfaat karena bisa disampaikan kepada wanita-wanita yang ada di sekelilingnya: istri, anak, saudara, bibi dan lain-lain.

Definisi

Haid dari segi bahasa adalah sesuatu yang mengalir, dan dari segi istilah syar’i adalah darah alami yang terjadi pada wanita dengan siklus tertentu.
Darah alami, berarti bukan darah yang terjadi karena sebab tertentu seperti sakit, luka, keguguran dan lain-lain. Di samping itu karena ia alami maka ia berbeda sesuai dengan perbedaan para wanita.

Usia haid

Ibnu Utsaimin dalam Darah kebiasaan wanita berkata, “Usia haid biasanya antara 12 sampai 50 tahun. Dan kemungkinan seorang wanita mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun atau sesudah usia 50 tahun, tergantung pada kondisi, lingkungan dan iklim yang mempengaruhi.”

Kemudian Ibnu Utsaimin menukil ucapan ad-Darimi yang disebutkan oleh an-Nawawi al-Majmu’, dia berkata, “Hal ini semua menurut saya keliru, sebab yang menjadi acuannya adalah keberadaan darah, seberapa pun, dalam kodisi bagaimanapun dan usia berapa pun darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Wallahu a’lam.”

Kemudian Ibnu Utsamin menyatakan bahwa pendapat tersebut merupakan pendapat yang shahih, ia dipilih oleh Ibnu Taimiyah. Ibnu Utsamin berkata, “Jadi kapanpun seorang wanita mendapatkan darah haid berarti ia haid, meski belum usia 9 tahun atau di atas 50 tahun, sebab Allah dan rasulNya mengaitkan hukum-hukum haid kepada keberadaan darah, dan tidak meletakkan batasan usia tertentu. Maka dalam masalah ini wajib mengacu kepada keberadaan darah yang telah dijadikan sandaran hukum. Adapun pembatasan maka tidak ada satupun dalil yang menunjukkan hal tersebut.”

Masa haid

Para ulama berbeda pendapt tentang masa haid minimal dan maksimalnya, ada beberapa pendapat dalam hal ini, salah satunya adalah pendapat yang tidak membatasi minimal dan maksimalnya, ia dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing wanita.

Ibnu Utsamin menyatakan bahwa pendapat inilah yang shahih, ia merupakan pendapat ad-Darimi dan pilihan Ibnu Taimiyah, lalu Ibnu Utsaimin memaparkan dalil-dalil yang menguatkan pendapat ini, di antaranya:

A. Firman Allah, “Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.”(Al-Baqarah: 222).

Dalam ayat ini Allah melatakkan batas akhir dibolehkannya mendekati adalah kesucian bukan sekian hari atau sekian malam. Ini berarti titik pijakan hukumnya adalah haid, ada tidaknya.

B. Sabda Nabi saw kepada Aisyah.

اَفْعَلِي مَايَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَتَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي .

“Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan tawaf di Ka’bah sebelum suci.”.

Dalam hadits ini Nabi saw meletakkan batas akhir larangan thawaf adalah kesucian dan kesucian antara satu wanita dengan yang lain bisa jadi tidak sama.

C. Tidak terdapat dalil dalam al-Qur`an dan sunnah yang membatasi minimal dan maksimalnya masa haid, padahal masalah ini termasuk masalah yang mendesak untuk dijelaskan karena ia terjadi pada separuh lebih kaum muslimin di dunia. Tidak adanya pembatasan membuktikan bahwa sebenarnya yang harus dipegang adalah haid itu sendiri, ada dan tidaknya.

Ibnu Utsaimin berkata, “Pendapat ini sebagaimana merupakan pendapat yang kuat berdasarkan dalil juga merupakan pendapat yang paling dapat dipahami dan dimengerti serta lebih mudah diamalkan dan diterapkan daripada pendapat mereka yang memberi batasan. Dengan demikian pendapat inilah yang lebih patut diterima karena sesuai dengan semangat dan kaidah agama Islam yaitu mudah dan gampang. Firman Allah Taala, ‘Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.’ (Al-Hajjj: 78).”

Hukum-hukum haid

1. Shalat
Diharamkan bagi wanita haid mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunnat, dan jika dia mengerjakannya maka shalatnya tidak sah. Tidak wajib pula atasnya mengqadha shalat yang ditiggalkan selama masa haid. Nabi saw bersabda,

إِذَا أَقْبَلَتْ الحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ .

“Jika haid tiba maka tinggalkanlah shalat.” (Muttafaq alaihi dari Aisyah).

Aisyah berkata, “Kami haid pada masa Rasulullah maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.” (Muttafaq alaihi)

Hukum-hukum haid

1. Shalat
Diharamkan bagi wanita haid mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunnat, dan jika dia mengerjakannya maka shalatnya tidak sah. Tidak wajib pula atasnya mengqadha shalat yang ditiggalkan selama masa haid. Nabi saw bersabda,

إِذَا أَقْبَلَتْ الحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ .

“Jika haid tiba maka tinggalkanlah shalat.” (Muttafaq alaihi dari Aisyah).

Aisyah berkata, “Kami haid pada masa Rasulullah maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.” (Muttafaq alaihi)

Apabila seorang wanita mendapatkan sebagian waktu shalat yang cukup untuk melakukan satu rakaat sempurna, misalnya seorang wanita haid setelah matahari terbenam, berarti waktu Maghrib telah masuk, ada waktu yang cukup untuk melakukan satu rakaat dan yang bersangkutan belum melaksanakan shalat tersebut lalu dia haid maka shalat tersebut terhutang wajib diqadha setelah suci. Sama halnya apabila seorang wanita suci dari haid sesaat sebelum matahari terbit, berarti waktu Subuh masih tersisa dan itu cukup untuk melakukan satu rakaat, maka dia tetap wajib melaksanakan shalat Subuh tersebut setelah bersuci.

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَة .

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu.” (Muttafaq alaihi).

Ini berarti siapa yang mendapatkan kurang dari satu rakaat berarti tidak mendapatkan shalat tersebut.

2. Puasa

Haram wanita haid berpuasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah, puasanya –jika dia melakukannya- tidak sah, hanya saja puasa berbeda dengan shalat, puasa wajib diqadha sementara shalat tidak. Dalil adalah hadits Aisyah di atas.

Hadirnya haid merusak puasa walaupun hanya sesaat sebelum terbenam matahari dan puasa tersebut terhutang wajib diganti di lain hari. Akan tetapi jika yang dirasakan hanya tanda-tanda haid dan darah belum keluar maka ia tidak merusak puasa sehingga darah benar-benar keluar, karena hukum haid terkait dengan darah ada tidaknya bukan dengan tanda-tandanya.

Jika seorang wanita telah suci dalam arti telah melihat tanda suci sesaat sebelum terbit fajar maka dia wajib berpuasa di hari itu walaupun dia mandi setelah fajar, karena mendapatkan fajar dalam keadaan belum bersuci dari haid dan junub bukan penghalang untuk berpuasa. Dasarnya hadits Aisyah berkata,

“Pernah suatu pagi pada bulan Ramadhan Nabi saw berada dalam keadaan junub karena jima’ bukan karena mimpi lalu beliau berpuasa.” (Muttafaq alaihi).

3. Thawaf

Haid menghalangi thawaf, baik yang wajib maupun yang sunnah berdasarkan sabda Nabi saw kepada Aisyah.

“Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci.”

Haid tidak menghalangi manasik haji lainnya seperti sa’i, wukuf, bermalam di Mina di Muzdalifah, melempar jumrah dan lain-lain, khusus untuk thawaf wada’, jika seorang wanita telah mengerjakan seluruh manasik haji dan umrah, lalu dia mendapatkan haid sebelum meninggalkan tanah suci untuk pulang ke negaranya dan haidnya tersebut terus berlangsung sampai tiba saatnya dia pulang maka dia boleh tidak melakukan thawaf wada’. Ibnu Abbas berkata,

“Diperintahkan kepada jamaah haji agar saat-saat terakhir bagi mereka berada di baitullah (melakukan thawaf wada’), hanya saja hal itu tidak dibebankan kepada wanita haid.” (Muttafaq alaihi).

4. Masjid

Haid menghalangi seorang wanita berdiam diri di masjid termasuk tempat-tempat shalat Id pada saat ia dipakai shalat Id.
Nabi saw bersabda,

لاَ أُحِلُّ المَسْجِدَ لِحَائِضٍ .

“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita haid.” (HR. Abu Dawud dari Aisyah. Dihasankan oleh Muhaqiq al-Uddah).

Ummu Athiyah mendengar Nabi saw bersabda,

يَخْرُجُ العَوَاتِقُ وَذَوَاتُ الخُدُوْرِ. وفيه : يَعْتَزِلُ الحُيَّضُ المُصَلَّى .

“Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haid… tetapi wanita haid menjauhi tempat shalat.” (Muttafaq alaihi).

5. Hubungan suami istri

Haid menghalangi hubungan suami istri.

Firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (Al-Baqarah: 222).

Yang dihalangi oleh haid adalah hubungannya, adapun selain hubungan: mencium, memeluk dan sebagainya maka ia tidak dihalangi oleh haid. Nabi saw bersabda,

اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْئٍ إِلاَّ النِّكَاحَ .

“Lakukan apa saja, kecuali nikah (yakni bersenggama).” (HR. Muslim).

Nabi saw mencontohkan apa yang dilakukan suami istri kepada saat haid. Aisyah berkata, “Pernah Nabi saw menyuruhku berkain, lalu beliau menggauliku sedang aku dalam keadaan haid.” (HR. Muttafaq alaihi).

6. Talak

Haid menghalangi talak artinya suami dilarang menjatuhkan talak pada waktu istri haid.

Firman Allah, “Hai nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (Ath-Thalaq: 1).

Talak dalam keadaan haid membuat istri tidak menghadapi iddah dengan wajar. Jadi ia bertentangan dengan ayat ini. Ayat ini sejalan dengan hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, di mana dia mentalak istrinya dalam keadaan haid, Umar menyampaikannya kepada Nabi saw dan beliau marah, Nabi saw bersabda,

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ، ثَمَّ تَحِيْضَ، ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ العِدَّةُ الَّتِى أَمَرَ اللهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ.

“Suruh ia merujuk istrinya, kemudian ia mempertahankannya sampai ia suci, lalu haid, lalu suci lagi. Setelah itu, jika ia mau, dapat mempetahankannya atau mentalaknya sebelumdigauli. Karena itulah iddah yang diperintahkan Allah dalam mentalak istri.”

Dalam hal diharamkannya mentalak istri yang haid ada tiga masalah yang dikecualikan:
1. Jika talak terjadi sebelum terjadinya hubungan suami istri, sebab dalam kasus ini istri tidak terkena wajib iddah, maka talak boleh dijatuhkan walaupun istri dalam keadaan haid.
2. Jika haid terjadi dalam keadaan hamil.
3. Jika talak terjadi atas permintaan istri (khuluk).

7. Iddah dengan bulan

Haid menghalangi iddah dengan hitungan bulan artinya jika wanita telah digauli maka yang bersangkutan tidak beriddah dengan hitungan bulan akan tetapi dengan hitungan haid, jika dia masih aktif haid dan iddahnya adalah tiga kali haid.

Firman Allah, “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (Al-Baqarah: 228).

Masalah-masalah seputar haid

1. Bertambah dan berkurangnya masa haid

Secara umum wanita memiliki masa haid yang rutin, namun demikian terkadang kebiasaan tersebut melenceng, haid yang biasanya berlangsung selama –misalnya- enam hari ternyata dalam bulan ini kurang dari itu, misalnya menjadi lima hari atau bertambah dari itu misalnya menjadi tujuh hari atau delapan hari.

2. Maju mundurnya waktu hadirnya haid

Terkadang haid hadir mendahului jadwal kebiasaannya, terkadang pula ia hadir melebihi waktu yang diperkirakan. Di bulan lalu ia hadir di akhir bulan tetapi di bulan ini ia hadir di awal atau di pertengahan bulan.

Pendapat yang benar dalam dua masalah di atas adalah bahwa bertambah dan berkurangnya masa haid atau maju-mundurnya waktu haid tidak memberi pengaruh hukum apapun, artinya walaupun masa haid bertambah maka ia tetap dianggap haid atau berkurang dan sudah nampak tanda-tanda suci maka selesailah masa haid. Begitu pula dengan maju-mundurnya waktu hadirnya haid bila ia datang maka haid bila belum maka belum haid.

Argumentasinya:
Karena Allah mengaitkan hukum haid dengan darah, ada tidaknya. Ada darah berarti haid tidak ada berarti tidak ada haid.

3. Darah keruh atau kuning

Jika ia terjadi pada masa haid sebelum tanda suci terlihat maka ia haid, sebaliknya jika terjadi setelah tanda suci terlihat maka ia bukan apa-apa. Ummu Athiyah berkata, “Kami tidak menganggap apa-apa darah yang berwarna kuning atau keruh sesudah masa suci.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa para wanita mengirimkan kepadanya sepotong kain berisi kapas dengan noda darah berwarna kuning. Aisyah berkata, “Jangan tergesa-gesa sebelum kamu melihat cairan putih.”

4. Terjadinya pengeringan darah

Dalam masa haid terkadang darah berhenti sama sekali, yang bersangkutan hanya merasakan lembab tanpa terlihat adanya darah atau kering sama sekali. Dalam kondisi ini, karena ia terjadi dalam masa haid dan yang bersangkutan belum melihat tanda suci maka dia dihukumi dalam keadaan haid.

5. Bolehkah menunda mandi haid?

Selesai haid dengan hadirnya tanda suci mewajibkan yang bersangkutan wajib mandi. Mandi ini hendaknya dilakukan dengan segera agar dia bisa melaksanakan kewajiban yang terhalang oleh haid.
Apabila wanita haid mengalami suci di tengah-tengah waktu shalat, dia harus segera mandi agar dapat melakukan shalat pada waktunya. Jika ia sedang dalam perjalanan dan tidak ada air, atau ada air tetapi takut membahayakan dirinya dengan menggunakan air, maka ia boleh bertayamum sebagia ganti dari mandi sampai hal yang menghalanginya itu tidak ada lagi, kemudian mandi.

Ada di antara kaum wanita yang suci di tengah-tengah waktu shalat tetapi emnunda mandi ke waktu lain, dalihnya:, “Tidak mungkin dapat mandi sempurna pada waktu sekarang ini.” Akan tetapi ini bukan alasan ataupun halangan, karena boleh baginya mandi sekedar untuk memenuhi yang wajib dan melaksanakan shalat pada waktunya. Apabila kemudian ada kesempatan lapang, barulah ia dapat mandi dengan sempurna.

6. Bolehkah wanita haid minum pil pencegah haid?
Boleh dengan syarat:
1) Dipastikan aman dan tidak dikhawatirkan membahayakan dirinya. jika membahayakan maka tidak boleh, karena hal itu berarti menjerumuskan diri ke dalam bahaya dan itu dilarang.
2) Izin suami yang berkaitan hukum dengannya, misalnya istri ditalak suami, dia beriddah dengan tiga kali haid selama iddah nafkah istri ditanggung suami, lalu istri minum pil pencegah haid agar iddahnya lebih panjang yang secara otomatis bertambah nafkahnya dari suaminya. Dalam kondisi ini maka harus ada izin dari suami karena suami dirugikan.

7. Bolehkah wanita minum perangsang haid?
Boleh dengan syarat:
1) Tidak bermaksud lari dari kewajiban, misalnya menjelang Ramadhan wanita minum perangsang haid dengan maksud supaya bisa tidak berpuasa, atau supaya bisa tidak shalat dan sebagainya.
2) Izin suami, karena hadirnya haid menghalangi hak suami.

8. Apakah wanita haid harus mengganti pakaiannya setelah suci/

Kalau pakaian tersebut tidak terkena darah haid maka hal itu tidak harus, sebab darah haid tidak menjadikan badan najis, ia hanya menajiskan bagian dari badan dan pakaian yang terkena najis saja, oleh karena itu Nabi saw hanya menyuruh mencuci pakaian yang terkena darah haid saja dan setelah itu ia bisa dipakai untukshalat.

9. Wanit ahaid membaca dzikir dan lain-lain

Adapun membaca dzikir, takbir, tasbih, tahmid dan bismilah ketika hendak makan atau pekerjaan lainnya, membaca hadits, fikih, doa dan aminnya, serta mendengarkan al-Qur`an, maka tidak diharamkan bagi wanita haid. Hal ini berdasarkan hadits dalam Shahih al-Bukhari, Muslim dan kitab lainnya bahwa Nabi saw pernah bersandar di kamar Aisyah yang ketika itu sedang haid, lalu beliau membaca al-Qur`an.

Diriwayatkan pula dalam Shahih al-Bukhari, Muslim dari Ummu Athiyah bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda,

يَخْرِجُ العَوَاتِقُ وَذَوَاتُ الخُدُوْرِ وَالخُيَّضُ – يَعْنِي إِلَى صَلاَةِ العِيْدَيْنِ – وَاليَشْهَدْنَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ المُسْلِمِيْنَ وَيَعْتَزِلُ الحُيَّضُ المُصَلَّى .

“Agar keluar para gadis, perawan dan wanita haid – yakni ke shalat Idul Fitri dan Adha- supaya mereka ikut menyaksikan kebaikan doa orang-orang yang beriman. Tetapi wanita haid menjauhi tempat shalat.”

Sedangkan membaca al-Qur`an bagi wanita haid itu sendiri, jika dengan mata atau dalam hati tanpa diucapkan dengan lisan maka tidak apa-apa hukumnya, misalnya mushaf diletakkan di depannya, lalu dia membaca dengan hatinya, menurut Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ hal tersebut boleh tanpa ada perbedaan pendapat.

(Rujukan: Darah kebiasaan wanita, 52 Persoalan sekitar hukum haid Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin).

~ by evisyari on July 15, 2008.

One Response to “HAID atau MENSTRUASI”

  1. Syukron atas artikelnya, telah banyak membantu.Tapi apa yg dimaksud tanda suci itu,?Kalau minsalnya tidak keluar lagi darah sama sekali selama 12 jam, kemudian ada lg darah keruh itu gimana ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: