17-8-1945 “It’s 1776 in Indonesia”

RUMAH Ir Soekarno pada zaman Jepang di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, kini sudah dibongkar. Sebagai gantinya didirikan patung Soekarno-Hatta. Di sana dulu diumumkan Proklamasi Kemerdekaan.

Tidak banyak orang menyaksikan peristiwa bersejarah itu, hari Jumat, pukul 10.00 pagi, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan hari 17 bulan Ramadan. Soekarno (44) tampak bagai orang demam. Tegang. Mohammad Hatta (43) sebaliknya tenang. Acara dimulai. Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan yang hanya terdiri dari dua kalimat. Terpendek di dunia, tetapi lahirnya juga dalam keadaan luar biasa. Kemudian Sang Merah Putih yang dijahit Ny Fatmawati Soekarno dikibarkan oleh Latif, perwira tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untung ada Mandur dari kantor berita Domei seksi Indonesia yang punya kamera Leica mengabadikan kejadian itu.

Keesokannya, Badan Persiapan Kemerdekaan mengadakan rapat di Pejambon (kini Gedung Departemen Luar Negeri) memilih Presiden dan Wakil Presiden RI, yaitu Soekarno dan Hatta. Tanggal 19 Agustus 1945 ditetapkan para gubernur yang memimpin delapan provinsi. Sebagai wartawan Asia Raja, berjam-jam lamanya saya menunggu hasil rapat. Setelah mendapat berita hasilnya nol, sebab tak boleh disiarkan. Sensor tentara Nippon (Gun Kenetsu Han) melarang pemberitaan tentang Proklamasi. Kaisar Jepang Tenno Heika memang menyerah kalah kepada Sekutu, tetapi di Jawa, Tentara Ke-16 masih amat berkuasa.

Sebulan setelah Proklamasi belum juga banyak terjadi dalam “pemindahan kekuasaan” seperti disebut dalam teks Proklamasi. Betul, pada akhir Agustus, di Gedung Kesenian berlangsung sidang Komite Nasional Indonesia Pusat dan di Hotel des Indes, Presiden dan Wakil Presiden bertemu para wakil Pamongpraja seluruh Jawa-Madura yang menyatakan berdiri di belakang Republik, tetapi tentara Jepang yang kini bertindak sebagai “Polisi Sekutu” masih pegang kendali.

Para pemuda menjadi tak sabar. Mereka mengambil alih Jawatan Kereta Api, Radio, Telepon, dan lain-lain. Mereka mengadakan rapat raksasa di Lapangan Ikada, 19 September, untuk menyatakan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak sudi lagi dijajah. Tentara Inggris di bawah komando Letjen Sir Philip Christiansen mendarat di Tanjung Priok 29 September. Para pemuda bersiap.

WARTAWAN luar negeri mulai datang meliput Indonesia. Mereka adalah War Correspondent. Mereka lihat tembok gedung, kereta api, dan trem dicorat-coret dengan kutipan dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) tahun 1776 seperti: All people are created equal; Life, Liberty and the Pursuit of Happiness. Jelas terbaca: Indonesia never again the Life-blood of any Nation. Tanggal 10 Oktober wartawan dari AS, Inggris, Australia, Belanda, India, dan Cina diterima Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur 56. Anggota kabinet hadir. Pemerintah Soekarno untuk pertama kali mengadakan konferensi pers dengan wartawan luar negeri. Saya lihat Menteri Penerangan Mr Amir Syarifuddin, yang baru keluar dari penjara Jepang, memakai celana pendek dan kaos kaki panjang, menurut gaya Marsekal Inggris Wavell.

Pada akhir Oktober, Presiden Soekarno meminta kepada pemerintah Presiden Truman “agar bertindak sebagai perantara dalam konflik di bagian Pasifik ini”. AS tidak menggubrisnya.

Awal Desember 1945 Perdana Menteri (PM) Sjahrir kembali mengimbau Truman dengan permintaan “dalam kedudukan Anda sebagai Presiden suatu negara netral dan tak memihak, kami berharap Amerika akan mengulurkan tangan bantuan yang kami butuhkan”. Amerika Serikat tetap tidak memberikan reaksi.

Dalam masalah Indonesia waktu itu AS pro Belanda. Memang, Presiden Wilson menjunjung asas hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa, dan Presiden Roosevelt ingin mengakhiri kolonialisme, namun kepentingan ekonomi AS menjadi dominan. Indonesia perlu dijamin sebagai pengekspor karet, tembakau, kopi, kelapa sawit, minyak, dan mineral ke pasar AS, dan untuk itu kerja sama Indonesia dengan Belanda tetap dibutuhkan. Golongan “Eropanianis” di Kementerian Luar Negeri AS beranggapan Negeri Belanda sebagai sekutu terpercaya AS harus memperoleh prioritas untuk dipulihkan ekonominya yang telah dirusak Nazi Jerman. Sedangkan golongan “Asianis” menganggap penting mendukung rakyat di Asia Selatan dan Tenggara yang membebaskan diri dari kolonialisme Inggris, Perancis, dan Belanda. Karena kubu “Eropanianis” lebih kuat posisinya, politik pemerintah Truman tahun 1945-1948 berpihak kepada Belanda. Karena itu, militer Belanda sampai dua kali menggebuk Republik, 21 Juli 1947 dan 19 Desember 1948.

MEDIA dan publik AS tidak tahu banyak tentang Indonesia. Bayangkan, sebelum Sutan Sjahrir menjadi PM RI, harian New York Times, 13 November 1945 menyebutnya sebagai “Sultan Charir”. Bagaimanakah cara menambah pengetahuan rakyat AS tentang Indonesia?

Soedarpo Sastrosatomo Press Officer perwakilan Indonesia di New York pada Maret 1949 menulis sebuah position-paper berjudul It’s 1776 in Indonesia yang dibagi-bagikan kepada wartawan AS, pejabat publik, dan delegasi di PBB. Soedarpo mengemukakan kesejajaran antara Revolusi Indonesia dengan Revolusi AS. Perjuangan Indonesia membebaskan diri dari penjajahan Ratu Belanda Wilhelmina sama dengan perjuangan 13 koloni di AS melepaskan diri dari pemerintahan Raja Inggris George III. Soekarno-Hatta adalah pemimpin yang membawa bangsa Indonesia ke Indonesia Merdeka, begitu juga George Washington dan Thomas Jefferson, merupakan pemimpin kemerdekaan AS, kata Soedarpo yang menurut istilah zaman sekarang tampil sebagai spin-doctor.

Soedjatmoko “Koko” adalah Kepala Bagian Politik Delegasi Indonesia ke sidang PBB. Di musim gugur 1947 saat Koko berusia 25 tahun, dia berupaya meyakinkan orang-orang AS bahwa “bahkan orang-orang Belanda itu sanggup berbuat jahat”. Citra kliss orang Belanda di masyarakat AS ialah sebagai “pekerja keras, administrator cakap, penjajah yang baik”. Anggapan keliru mengenai Belanda ini dibantah Soedjatmoko. (Baca buku American Visions of the Netherlands East Indies/Indonesia oleh Frances Gouda dan Thijs Brocades Zeelberg, Amsterdam University Press, 2002, hal 46).

Perubahan sikap politik AS atas perjuangan RI antara lain akibat laporan diplomatnya Frank Graham, Charles Oburn, Court Du Bois, dan Merle Cochran yang tahun 1948-1949 menjadi wakil AS dalam Committee of Good Offices (COG) atau Komisi Tiga Negara dari Dewan Keamanan PBB guna menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda. Mereka semua polos, malah pro-Belanda, tetapi cepat berbalik menjadi anti-Belanda karena Belanda tetap mau menjajah kembali Indonesia. Menurut laporan intel Belanda NEFIS, Court Du Bois berubah menjadi pro-RI, setelah mengunjungi Yogyakarta selama tiga hari dan “terpesona” ibu mertua Hatta, Ny Rahim.

Setelah RI menumpas pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948 atas kekuatan sendiri, dan karena itu menimbulkan respek AS, sedangkan Belanda masih terus melancarkan aksi militer kedua atas RI, maka AS kesal terhadap Belanda, lalu dengan vokal dan terbuka mendukung RI. Akhirnya terlaksana penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949.

Generasi saya tidak melupakan bantuan AS, juga Australia kepada perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi.

H Rosihan Anwar Wartawan senior

Sumber: Kompas

~ by evisyari on August 12, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: