Hasan al Banna, Mujaddid yang Syahid

Oleh: Abu Huzaifi

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini setiap permulaan seratus tahun, orang yang memperbarui agamanya”.(1)

Hadits yang mulia ini, memberikan –paling tidak- dua pelajaran kepada kita.

Pertama. Rasulullah ‘Alaihi Shallatu was Salam hendak membangkitkan optimisme pada jiwa kaum muslimin, bahwa islam tidak akan mati; dalam setiap masa tertentu Allah ‘Azza wa Jalla mengutus orang yang mentajdid (memperbarui) agamaNya dan menghidupkan syariatNya.

Makna ‘ala ra’si kulli mi-ah sanah (pada setiap permulaan seratus tahun) artinya bukan di tahun 100 atau 101, tetapi pada penghujung akhir abad dan awal dari abad selanjutnya. Tidak ada riwayat yang menerangkan apakah yang dimaksud adalah tahun hijriyah, atau dari tahun wafatnya Rasulullah, atau tahun diutusnya beliau sebagai Rasul (masa bi’tsah). Yang pasti, Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan membiarkan terombang ambing tidak menentu, tanpa orang atau sekelompok orang yang membimbing (mursyid), agar mereka bangkit dari keterpurukan, terjaga dari tidur panjangnya. Tidak sedikit dari umat ini yang pesimis melihat keadaan zaman dan kerusakan manusia. Mereka berdalil dengan zhahir hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: “Tidak datang kepadamu masa melainkan masa sesudahnya lebih buruk darinya.”(2) Alangkah baiknya hadits ini tidak difahami secara tekstual dan umum. Imam Ibnu Hajar telah memberikan ta’wil yang benar ketika ia berkata: “Hadits ini maksudnya khusus bagi para sahabat yang mendengarnya, walaupun Anas bin Malik memahaminya untuk umum.”(3) Padahal telah banyak hadits-hadits kabar gembira yang melahirkan optimisme kita. Lalu, kemanakah hadits-hadits tersebut?

“Umatku laksana hujan, tidak diketahui apakah yang baik itu awalnya atau akhirnya.”(4) Dari Ubai bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu: “Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kedudukan yang tinggi, derajat yang mulia, agama dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka ia tidak mendapat bagaian di akhirat.”(5)

Kedua. Dari hadits mulia tersebut, bisa kita fahami bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menghadirkan untuk umat ini di awal setiap abad seorang tokoh (atau sekelompok orang) yang mengembalikan Islam seperti keadaan masa awalnya (tajdid). Mayoritas ulama memaknai kalimat man yujaddidu (orang yang mentajdid) adalah bentuk mufrad (singular/tunggal), maka dalam pandangan mereka mujaddid hanyalah satu orang untuk setiap abad. Imam as Suyuthi telah membuat syair panjang yang merekam nama-nama mujaddid dari abad pertama hingga zamannya (abad 9), bahkan ia mengklaim dirinya adalah pembaharu zamannya, namun ditolak oleh manusia sezamannya. Ringkasnya dari syair itu, mujaddid abad pertama adalah Umar bin Abdul Aziz (w. 101H), Abad kedua adalah Imam asy Syafi’i (w. 204H). Setelah dua abad ini, para ulama tidak ada kata sepakat siapa para mujaddid sebenarnya. Abad ketiga adalah Imam Abu Hasan al Asy’ary (w. 324H), Imam Ibnu Suraij (w. 306H), dan Imam an Nasa’i (W. 303H). Abad keempat adalah Imam al Baqilani (w. 403H) dan Imam Abu Hamid al Isfirayini (w. 406H). Abad kelima ditempati oleh Imam al Ghazaly (w. 505H). Abad keenam Imam Fakhrurrazi (w. 606H), ada pula yang menyebutkan Imam ar Rafi’i (w. 623H). Abad ketujuh diisi oleh Imam Ibnu Daqiq al ‘Ied (w. 703H). Abad kedelapan ditempati oleh Imam Zainuddin al Iraqy (w. 808H) atau Imam al Bulqiny (w. 805H). Imam as Suyuthi (w. 911H) menyebut dirinya sebagai mujaddid abad kesembilan. Demikian. Ada pula ulama yang memaknai man yujaddidu adalah bentuk jamak (plural), sebab pada asalnya kata man memang bisa untuk tunggal dan jamak. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam adz Dzahabi, Imam Ibnul Atsir, Syaikh al Qaradhawy, dan lain-lain. Oleh karena itu sebagian ulama menyatakan bahwa pembaharu bisa terjadi pada banyak bidang, baik waktu bersamaan atau tidak. Ada mujaddid dari kalangan pemimpin, fuqaha, mutakallimin (teolog), ahli hadits, qurra (pembaca qur’an), mufassir, ahli zuhud, juru da’wah, gerakan da’wah, dan lain-lain. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ini pendapat yang benar, karena terhimpunnya beberapa kriteria yang perlu diperbarui tidak terbatas pada satu jenis saja, dan tidak harus semua sifat kebaikan terkumpul pada satu orang belaka (kecuali Umar bin Abdul Aziz). Dia menjadi mujaddid abad pertama karena memiliki semua sifat kebaikan, sampai-sampai Imam Ahmad mengatakan bahwa para ulama mengarahkan hadits tentang tajdid kepadanya. Setelahnya adalah Imam asy Syafi’i karena beliau memiliki sifat-sifat keutamaan, walau ia tidak tampil dalam arena jihad dan tidak menjadi penguasa yang dengannya bisa menegakkan keadilan.” Atas dasar ini, Ibnu Hajar berpendapat bahwa setiap orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut di awal abad adalah mujaddid, baik perorangan atau bukan.

(6) Apa itu Tajdid ? Imam al Azizi –mengutip ucapan Alqami- bahwa tajdid adalah menghidupkan semangat pengamalan Al Qur’an dan As Sunnah, serta menunaikan segalan tuntutan keduanya.(7) Imam al Manawy berkata tajdid adalah menjelaskan perbedaan antara sunah dan bid’ah, memperbanyak ilmu, menolong ahlus sunnah, dan menghancurkan ahli bid’ah.(8) Ia juga berkata tajdid agama adalah mereaktualisasikan hukum syara’ yang telah terpendam, menghidupkan kembali petunjuk-petunjuk sunah yang telah lenyap, serta ilmu-ilmu lahir dan batin yang tersembunyi(9) Ada juga yang mengatakan, tajdid adalah mengembalikan agama ini sebagaimana awalnya ia ada, membuatnya seperti yang dibawa oleh generasi pertama umat ini. Bukan menggantinya dengan ajaran baru yang tidak dikenal syara’ dan sejarah umatnya. Ibarat bangunan, tajdid adalah menjaga esensi bentuknya dengan menambal yang bocor, menutup yang retak, mengokohkan yang rapuh, membersihkan yang kotor, dan merenovasi yang usang. Sehingga menjadi seperti bentuk dan kondisi awal ia ada. Bukan merubuhkan gedung tersebut, lalu dibuat gedung baru. Itulah tajdid a la JIL, yang tebih layak disebut tabdid (merusak). Begitu pula tajdid dalam agama. Bukan merubahnya menjadi wajah baru, tetapi mengembalikannya seperti era tiga zaman terbaik, era Rasulullah dan sahabatnya, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Hasan al Banna dan Tajdid

Tokoh sentral dalam tema ini, apakah dalam dirinya terhimpun kepribadian seorang mujaddid? Wallahu A’lam (inilah jawaban yang lebih selamat). Banyak tokoh yang menyatakan demikian, khususnya mereka yang pernah berinteraksi langsung dengannya, atau yang menelaah sepak terjang da’wahnya. Saya tidak mengatakan bahwa umat telah aklamasi tentang ini, paling tidak, kebanyakan mereka meyakini bahwa Imam Hasan al Banna – rahimahullah– sebagai lokomotif utama dan pemilik saham terbesar bagi kebangkitan islam abad 14 Hijriyah hingga sekarang. Syaikh Muhammad al Ghazaly –rahimahullah– dalam pengantar bukunya Dustur al Wihdah ats Tsaqafiyah berkata: “Inspirator buku ini dan pemilik tema-tema bahasannya adalah al ustadz Hasan al Banna yang saya lukiskan, juga oleh orang banyak bahwa ia adalah seorang mujaddid abad 14 hijriyah. Ia telah meletakkan dasar-dasar yang merangkum kekuatan yang terpisah-pisah, menjelaskan tujuan yang hendak dicapai, membumikan kitab Allah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di kalangan kaum muslimin di samping menjelaskan faktor-faktor naik turunnya umat …”. Upaya pembaruannya yang amat mudah terbaca adalah wacana yang beliau gulirkan tentang konsep Syumuliyatul Islam (integralitas Islam) yang tertera dalam poin pertama ushulul ‘isyrin (dua puluh prinsip). Pemikiran ini bukanlah ajaran baru, melainkan upaya reaktualisasi pemahaman dan pengamalan berislam yang telah lama terpendam. Pada masanya, banyak ulama, da’i, dan organisasi da’wah dan kebajikan yang memahami dan menampilkan Islam secara juz’iyah (parsial). Hanya terkonsentrasi pada sudut tertentu, melupakan yang lain. Masing-masing mereka asyik dengan agenda perjuangannya sendiri. Ada yang titik berat kepada da’wah pembinaan pemuda saja, yang lain memberantas kemungkaran. Ada yang memerangi bid’ah dan khurafat saja, yang lain sibuk dengan amal shalih dan wirid-wiridnya, dan seterusnya. Mereka seperti orang buta yang sedang mendeskripsikan gajah. Ada yang mengatakan gajah itu tinggi seperti pohon kelapa, sebab yang ia pegang adalah kakinya. Yang lain membantah, gajah itu seperti ular, sebab ia mememgang belalainya. Yang lain juga membantah, gajah itu seperti gentong besar, sebab ia memegang perutnya. Yang lain ikut membantah, gajah itu seperti kipas, tipis dan lebar, sebab ia memegang telinganya. Hasan al Banna tidak mau Islam difahami secara serpihan seperti itu, sebab tidak demikian Islam yang difahami dan diamalkan oleh generasi awal umat ini. Bila kita mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah secara utuh, maka akan kita jumpai luas dan sempurnanya ajaran Islam. Kita dituntut untuk memahami serta memperhatikan itu semua secara menyeluruh dan seimbang. Sebab ketika kita menitikberatkan pada satu hal, saat yang bersamaan biasanya akan melalaikan hal lain. Namun, demikian Hasan al Banna tidaklah menyalahkan manusia-manusia zamannya, ia hanya menengahkan apa yang seharusnya difahami dan diamalkan. Demikianlah seharusnya seorang da’i, tidak mudah menyalahkan, tetapi memberikan solusi.

“Islam adalah agama yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.” (Hasan al Banna, Risalatut Ta’alim wal Usar, h. 7. Dar an Nashr lithiba’ah al Islamiyah, Mesir) Tidak ada pakar yang mengingkari, demikianlah memang Islam seharusnya. Akhirnya, pemikian ini menjadi trend bagi penggiat kebangkitan Islam baik dinegeri-negeri muslim atau bukan, baik dibawah asuhan Ikhwanul Muslimin atau tidak.

Nampaknya, butuh banyak halaman bahkan satu buku untuk mengeksposisikan peran tajdid Imam Hasan al Banna –rahimahullah. Buku yang sedang Anda baca ini, adalah salah satu referensi untuk memperoleh gambaran tentang peran tajdid dan jihad beliau dalam da’wah Islam dan kehidupan secara umum. Ia tidak hanya mereformasi pemikiran, tetapi juga menerapkannya. Tidak hanya menggagaskan bangunan pergerakan, tetapi juga mendirikannya bahkan menjadi pimpinannya. Tidak hanya mengajak, tetapi juga menjadi penggerak utamanya. Ia adalah model bagi para pemimpin amal Islami. Yang jelas, sebagaimana yang digambarkan oleh Syaikh al Ghazaly, Syahidul Islam Sayyid Quthb, Abul Hasan al hasani an Nadwi, Abdus Salam Yasin, Ia adalah seorang yang jenius yang berhasil memformulasikan metode pendidikan, pendirian dan pengorganisasian bangunan pergerakan, pemurnian pemikiran, reaktualisasi ajaran, serta pembentukan pribadi-pribadi unggulan, di tambah dengan amal jihad yang kongkrit di berbagai medan jihad sesungguhnya. Tidak ada maksud saya menyejajarkannya dengan Umar bin Abdul Aziz atau Imam asy Syafi’i, dan itu tidak mungkin. Sebab mereka memiliki permasalahannya masing-masing.

Syaikh al Qaradhawy menyatakan, bahwa pada diri Hasan al Banna terhimpun metode al Afghani, kecerdasan Abduh, serta keilmuan Rasyid Ridha, bahkan Al Banna lebih. Sebab tokoh-tokoh tersebut hanya meninggalkan karya pemikiran, tanpa mewariskan generasi binaan. Sedangkan Hasan al Banna memiliki itu semua. Tidak dipungkiri, ada segelintir pihak yang mengkritik Hasan al Banna dengan tujuan merendahkannya sebagai seorang yang tidak pantas dissbut ‘alim apalagi disejajarkan dengan ulama-ulama sebelumnya. Lantaran ia belum pernah membuat kitab-kitab ilmiah sebagaimana ulama sebelumnya. Pernyataan mereka itu, seakan mengajak umat untuk meragukan keilmuannya. Sungguh jika ukuran kemuliaan seseorang dilihat dari berapa banyak kita yang dihasilkan, tentulah para sahabat nabi menjadi kelompok pertama yang ‘tidak mulia’, sebab mereka tidak pernah menghasilkan karya-karya ilmiah yang bisa dinikmati generasi sekarang. Tentu ini pandangan sinisme yang naif. Hendaknya mereka paham, bahwa setiap zaman memiliki peristiwa yang khas, setiap peristiwa selalu menghasilkan tokoh utama (atau tokoh itu yang menciptakan peristiwa), dan setiap tokoh utama selalu dihadapkan kondisi yang spesifik dengan penanganan yang spesifik pula. Umar bin Abdul Aziz adalah mujaddid, tetapi adakah karya ilmiah yang ia wariskan? Yang ada hanyalah bulir-bulir pemikiran dan fatwanya yang berserakan dalam berbagai kitab ulama yang mencatatnya, bukan kitab karyanya sendiri. Kenapa? Sebab memang bukan itu tuntutan yang dihadapinya. Hasan al Banna pernah ditanya, kenapa ia tidak menyusun kitab. Ia menjawab bahwa dirinya lebih suka menghasilkan dan mencetak rijal dibanding buku, sebab buku akan tersimpan dan usang di raknya, hanya segelintir yang mau menikmati manfaatnya. Sedangkan rijal akan menjadi buku berjalan yang memberikan manfaat bagi siapa saja yang bersentuhan dengannya. Faktanya, itulah yang terjadi. Dari tempaannya, lahirlah rijalud da’wah yang tersebar seantero bumi. Mereka ada yang menjadi ahli fiqih seperti Abdul Qadir Audah, Abdul Halim Abu Syuqqah dan Yusuf al Qaradhawy, muhaddits seperti Muhibbudin al Khathib dan Abdul Fattah Abu Ghudah, pemikir dan penulis handal seperti Sayyid Quthb, Muhammad Quth, Muhammad al Ghazaly, Taufiq Yusuf al Wa’iy, Fathi Yakan dan lain-lain.

Hasan al Banna, seorang yang Syahid

Ia syahid, Insya Allah. Itulah model kematian yang paling dicari para pejuang. Ia dibunuh oleh kaki tangan penguasa ketika sedang memperjuangkan syariat Islam di negerinya, amar ma’ruf nahi mungkar kepada penguasa tiran. Umat menyebutnya Asy Syahid, tanpa ada yang mempermasalahkannya, kecuali segelinter saja dari para perajin kedengkian. Syaikh Abdurrahman al Jibrin mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Taufiq al Wa’iy dalam Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubuhat wa Rudud Cet. 1, 1421H-2001M. Maktabah Al Manar Al Islamiyah,“Hasan al Banna dan Sayyid Quthb telah lama disebut Asy Syahid oleh manusia lantaran kezaliman yang menimpa mereka berdua hingga akhir hayatnya.” Mengapa ia disebut syahid? Ada beberapa alasan.

Pertama. Rasulullah bersabda dalam hadits shahih riwayat Abu Daud, “Jihad paling utama (afdhalul jihad) adalah mengutarakan kebenaran (Al Haq) kepada penguasa yang zalim.” Tidak dipungkiri Hasan al Banna wafat ditangan penguasa yang zalim lantaran perjuangannya, sebagaimana dahulu Imam Ahmad dan Imam Ibnu Taimiyah. Saya tidak akan mengulang kisah perjuangan Al Banna, yang pasti ia dibunuh karena itu. Nah, disebut apa orang yang mempersembahkan jiwanya, dibunuh karena perjuangannya? Itulah afdhalul jihad sebab ia dibunuh oleh penguasa tiranik pada masanya.

Kedua. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.” (HR. Al Hakim, ia nyatakan shahih. Adz Dzahabi menyepakatinya) Dari hadits ini dapat kita ketahui. Penghulu para syuhada ada dua orang. Pertama Rasulullah menyebut langsung secara definit yaitu pamannya sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib. Kedua Rasulullah hanya memberikan kriterianya, yaitu mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim ketika beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka. Hasan al Banna karena menda’wahi penguasa zalim, mereka takut dengan da’wahnya kekuasaannya terancam, lalu mereka membunuhnya. Menurut hadits ini, ia syahid, bahkan penghulu para syuhada. Wallahu a’lam.

Ketiga. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Terbunuh karena membela agamanya, ma ia syahid. Terbunuh membela dirinya, ia syahid. Dan terbunuh karena membela keluarganya, ia syahid.” (HR. Ahmad (1565), Tirmidzi (1341), dari Said bin Zaid, ia menshahihkannya, An Nasa’I (4026), Abu Daud (4142) ) Rasulullah menyatakan syahid orang ‘sekadar’ membela diri dan keluarga, lalu bagaimana dengan membela agama dan kehormatan syariat Allah? Bukankah itu syahid? Dan Al Banna sebagaimana yang dikatakan banyak manusia, afna hayatahu fid da’wah (telah habis masa hidupnya untuk da’wah). Lebih penting ditekankan di sini adalah, apa yang kita lakukan untuk meneruskan perjuangan para pejuang Islam, agar gelar kemormatan syahid bukan hanya milik mereka. Yaa Ikhwan, aina nahnu min ha’ula? (di mana posisi kita di antara mereka?)

Al Faqir ila Rabbihi

Farid Nu’man

12 Muharram 1427 H/ 11 Februari 2006

——————————————————————–

(1)Hadits ini dishahihkan banyak ulama, seperti Imam Mundziri, Imam as Suyuthi, Imam al manawi, Imam Hakim, Imam Zainuddin al Iraqi, Syaikh al Albany, dan Syaikh al Qaradhawy. Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany –rahimahullah: Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud (no. 4291), Abu Amr ad Dani dalam Al Fitan (1/45), Al Hakim (4/522), Al baihaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar (h. 52), Al Khathib dalam At Tarikh (2/61), Al Harawi dalam Dammul Kalam (2/111) dari beberapa sanad dari Ibnu Wahb: Said bin Ayyub telah memberitakan kepadaku dari Syarahil bin Yazid al Mu’afiri dari Abu al Qamah dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: (lalu disebutkan hadits di atas)Saya (Syaikh al Albany) berpendapat: Al Hakim dan Adz Dzahabi tidak berkomentar. Sedangkan Al Manawi telah mengutip bahwa Ibnu Wahb telah menyatakan keshahihan-nya. Namun barangkali dalam naskah cetak kitab Al Mustadrak keterangan ini hilang. Sedang sanadnya adalah shahih, rijalnya tsiqah serta dipakai oleh Imam Muslim. Dalam sanad yang ada pada Al Hakim dan Al Harawi, Syarahil tertulis Syurahbil. Saya tidak yakin ia adalah perawi yang terjaga. Hal ini diisyaratkan oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar al Asqalany) dalam biograpi Syrahbil bin Syuraik dalam kitab At Tahzib. Wallahu A’lamNamun komentar Abu Daud tidak menjelaskan cacat hadits tersebut: “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Syuraih al Iskandarani. Sementara Syarahil tidak memenuhi syarat.” Hal tersebut disebabkan karena Said bin Ayyub adalah tsiqah. Demikian dalam At Taqrib. Ia telah menyambungkan sanadnya. Jadi tambahan tersebut dari perawi yang tsiqah, maka harus diterima. (Silsilah al Ahadits as Shahihah, Juz. II, h. 151, hadits no. 599. Al Maktab Al Islami, Beirut)

[2] HR. Bukhari, bab Al Fitan. no. 7068

[3] Fat-hul Bari, Imam Ibnu Hajar, 13/21

[4] HR. At Tirmidzi no. 2873 dari Anas radhiallahu, ia berkata hasan gharib. Al Manawi berkata: Ibnu Hibban menshahihkannya dari jalur Ammar, Faidhul Qadir 5/507. Ibnu Hajar dalam Fat-hul Bari berkata bahwa hadits ini hasan namun punya banyak jalur sehingga naik menjadi shahih.

[5] HR. Ahmad. Nuruddin al Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaid, 10/220: para perawinya adalah para perawi shahih. Al Mawarid no. 2501. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqy. Al Hakim berkata: Shahih sanadnya. Begitu pula menurut Syaikh al Albany, Shahih Targhib wa Tarhib, 1/87-88

[6] Fat-hul Bari, 12/295 [7] Sirajul Munir, 1/411

[8] Faidhul Qadir, 2/281-282

[9] Ibid, 1/10

~ by evisyari on August 20, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: