Gempa Sumbar: Allah Menanyai Nurani Kita (2.6)

Rumah Rusak Akibat Gempa di Padang Pariaman 5
TETEGUN. Selepas magrib, Selasa, 30 September 2009, stasiun TV Swasta yang menayangkan kekacauan, pakai letupan pistol segala, di Bandara Soekarno-Hatta, tiba-tiba menghentikan siaran karena ada berita lebih penting. Apa itu? Telah terjadi gempa dahsyat berskala 7,3 sr berpusat sekitar Pariman, kota wisata di Sumatera Barat. 7,3 sr? Yes. Dahsyat. Pasti itu.

Bulan July 2009, saya dua kali ke Padang, dan beberapa kali sebelumnya. Di pesawat, sempat berdiskusi tentang banyak hal dengan teman sebangku. Ada hal yang langsung menyergap otak. “Pak, Sumatera Barat berada di jalur gempa. Itu tidak terhindarkan. Pada hitungan paling buruk, bisa-bisa pulau Sumatera patah jadi dua. Sumbar terbelah”. Pikiran ‘bergerak’ tidak karuan. Teringat Apak jo Amak, adik-adik, dan keluarga, orang kampung. Semuanya.

Egois, Maaf

Telepon ke Muaralabuh nyambung, Alhamdulillah Amak jo Apak, baik-baik saja. Amak terjatuh ketika merespon gempa. Yul, adik saya, ke Bengkulu, dan dengan ponakan menuju Padang. Tanpa kabar berita. Dari Padang komunikasi nol, telepon tidak nyambung. Untung Eka, adik saya sempat berkhabar melalui internet. Keluarga di Padang selamat. Alhamdulillah.

Silih berganti TV menyiarkan peristiwa dengan segala akibatnya. Sembari menonton TV memonitor melalui internet. Semakin malam semakin perih. Korban malam itu mencapai angka 200 orang tewas, dan yang terperangkap di hotel Ambacang saja, ratusan orang. Kepala serasa oleng. Pikiran kacau, perasaan diaduk-aduk. Doa pinta dipanjatkan. Tetapi, itu tidak cukup.

Ketika ada yang berkhabar, enam kelas anak-anak kecil terjebak reruntuhan saat mereka belajar, 12 orang menjadi mayat, sementara puluhan masih belum dapat dikeluarkan, ketangguhan perantau bobol. Air mata tidak tertahan. Ada api yang menjilat-jilat bangunan sampai luluh lantak, hujan tercurah tanpa ampun, listrik padam, kepanikan memuncak. Duh, mereka berlarian, berteriak, menangis, dan entah apa lagi. Ya, Allah.

Sementara saya hanya bisa berdoa. Sementara, saya hanya memikirkan keluarga. Ah … kemanusiaan dipertanyakan. Hindari ya Allah, hati terobat ketika hanya keluarga selamat. Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana kalau menimpa diri sendiri. Ampun Gusti Allah.

Renung Empati

Satu-satunya hal yang menyenangkan, simpati datang dari berbagai kalangan dari banyak tempat. Tidak saja buat keluarga, tetapi buat semua, buat kemanusiaan. Kontak-kontak dijalin, saatnya ‘berbuat’ aplikasi ‘terjemahan’ doa. Semoga niat baik terealisasikan.

Ketika pagi ini dikhabari ada gempa susulan berskala 3,0 sr, berpusat di Jambi, duh semakin mencekam. Komunikasi ke Muarlabuh terputus total. Kelam informasi. Hanya, sekali lagi, hanya kekuatan doa yang mengobati diri, dan semoga juga buat yang merasakan langsung.

Bukan apa-apa, bukan mewakili siapa-siapa, menyimak tekat Wapres, mencermati langkah Menko Kesra, ada harapan terbetik. Mana pula mereka yang bergerak di area kemanusiaan langsung bergerak membawa pertolongan. Bangsa ini bangsa besar, petaka itu cobaan bersama.

Sudahlah. Simpanlah dulu amarah untuk sekadar memuaskan nafsu berkelahi melali tawuran di jalanan, anggota DPR yang ‘gagah-gagah’ itu mengumbar simpati. Ya, pertanda, bangsa ini bangsa besar. Kita bisa ‘mengatasi’ (dalam tanda kutip) Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Tasik, dan banyak lagi. Kelambatan anggaplah pengalaman. Kita belajar dari apa yang kita lakukan. Semoga dengan aneka cobaan titik sadar kita semakin menyala. Ada langit di atas langit. Kita hanya bak debu di lautan Padang Gurun dan tanpa daya. Dialah segalanya.

Komunikasi, saat tulisan ini ditulis, 12.50 masih ngadat. Doa-doa menawar batin, gaung kebersamaan menenangkan pikiran dalam muatan harap, empati menbanjir. Bahwa realitas adalah kenyataan, bahwa niat adalah tekad, bahwa aksi adalah kekuatan, semua berpadu menuju aplikasi, berbuat dalam aksi.

Ya Allah Yang Mahatahu. Cobaan ini terlalu dalam. Berilah kami kekuatan, terangi lebih terang nurani kami. Cobaan ini menggempakan nurani. Selamatkanlah kami ya Allah, dari ‘kiamat kecil’ ini. Keluarga kami, saudara-saudar kami, semua kami. Amin ya Rabbal Alamin. Ya Allah, Yang Mahapenyayang.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 1 Oktober 2009.

Ditulis oleh: ewa

Sumber: http://webersis.com

~ by evisyari on October 1, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: