Berkaca Bijak dari Tsunami Jepang

•March 13, 2011 • 3 Comments

Mata hati Indonesia pernah terhenyak. Manakala ratusan ribu manusia tergulung Tsunami ganas di Aceh, 2004 lalu. Lalu rangkaian kisah-kisah tragis bermunculan. Di saat yang tak terlalu lama, juga hadir kisah-kisah menggetarkan kalbu.

Per individu, bukan satu dua manusia yang bisa selamat, dengan cara yang bisa disebut sebagai mukzijat. Mereka adalah orang-orang yang selamat, meski Gulungan Ombak Besar (atau Tsunami) menghumbalang ke seluruh garis pantai. Ada yang selamat karena naik pohon kelapa. Terapung (tetapi tetap hidup) berhari-hari di tengah lautan. Atau juga bayi yang tetap hidup meski sempat terseret arus.

Senyatanya, kisah-kisah ajaib seperti itu tak benar-benar baru. Selalu hadir cerita menakjubkan, dari rupa-rupa epik bencana besar yang ada di dunia.

Lain perkara, bila aksi-aksi “penyelamatkan diri” dari bencana itu hadir karena upaya bersama. Atau, paling tidak, ikhtiar penyelamatan yang dilakukan karena gerak kesadaran yang sungguh-sungguh. Inilah sebenarnya yang jauh lebih menggetarkan. Publik Indonesia pun, sejatinya, mampu melakukan itu. Manakala ribuan atau jutaan orang ikut membantu para korban Tsunami Aceh. Mulai dari menjadi relawan, pendonor, hingga sekedar member dana (di jalanan, atau transfer ke Bank).

Akan sangat berbeda, jika cerita orang yang selamat dari bencana karena faktor kebetulan atau luck semata-mata. Mungkin mata sembab karena haru. Tetapi semuanya akan segera berlalu. Beda bila konteks “orang selamat” karena daya juang dan mentalitas setegar karang. Inilah yang terjadi, misalnya, ketika 33 orang penambang Cile terkubur di dalam lubang tambang (berkedalaman hampir 700 meter). Mereka terjebak di dasar perut bumi. Daya juang, disiplin, kepemimpinan, dan keyakinan untuk selamat, menjadi faktor penolong. Selain, tentu saja konsentrasi dan totalitas pertolongan yang diberikan kepada mereka.

Mentalitas

Di mana pun, tragedi bencana alam (natural disaster) punya daya rusak hebat. Seringkali manusia tak siap. Pun ketika kecanggihan teknologi, metode deteksi dini (early warning system) terpasang canggih, atau sudah mampu merekayasa mitigasi bencana dengan baik. Tetap saja, korban berjatuhan. Barangkali ini juga bagian dari petunjuk agar manusia tidak sombong dengan kedigdayaan dalam teknolog. Karena toh, misalnya, hewan ternak, unggas, dan beberapa mamalia, jauh lebih mampu mendeteksi potensi Tsunami (seperti cerita Gajah Thailand, burung-burung, dan ayam, yang berhamburan gelisah, ketika Tsunami akan meledak).

Jadi, petikan hikmah dari segala bencana tak lain adalah membangun mentalitas tegar, agar skala kerusakan tak mengalami eskalasi (pembesaran). Bukankah kerapkali korban berjatuhan justru karena panik luar biasa, tak tahu harus berbuat, dan kalang kabut tak tentu arah. Bukankah pula, karena mental mistis-takhayul juga menambah para manusia yang celaka (bukan menghindar, malah mendekati wilayah yang berbahaya).

Inilah yang agaknya, menjadi rangkaian kesigapan warga Jepang. Benar korban telah berjatuhan. Prahara hebat juga menghancurkan banyak fasilitas dan bangunan di sana. Tetapi ada perilaku dan cara yang menggetarkan kalbu. Betapa di tengah kepungan bahaya, mereka masih memperlihatkan sikap tenang, disiplin, dan saling mengingatkan untuk tidak panik. Berita di media memperlihatkan, bagaimana ribuan orang tetap tertib untuk antri (dalam melakukan evakuasi). Kalaupun ada warga Jepang yang kelimpungan, itu tak berlangsung lama. Karena kolega atau manusia di sekitarnya saling mengingatkan. “Daijobu!” Demikianlah kata-kata pengingat sesama mereka, yang artinya: tidak ada apa-apa.

Fenomena ini tentu tak hadir tiba-tiba. Mental disiplin, percaya pada nalar, dan berbuat secara sadar dan sistematis, dalam banyak hal membantu dalam menekan besaran kerusakan akibat bencana. Di Jepang, tradisi ini sudah mengakar. Maklumlah, negeri Sakura ini masuk dalam ring of fire, lingkaran bencana alam yang sering terjadi (terutama gempa). Tetapi mereka tidak meratap dan frustasi. Kecuali malah berbuat bijak. Bersiap dengan segala hal. Satu contoh yang gampang dipetik adalah menciptakan struktur bangunan yang tahan gempa. Begitulah…

Bagaimana Kita?

Berbalik punggung dengan pengalaman kita. Kita bukannya tak menerapkan metode kendali bencana atau apapun yang disebut sebagai mitigasi bencana. Tetapi selalu saja persoalan menjadi tambah rumit. Kepanikan massal, seperti yang terjadi di Manado, Maluku, dan Papua, menyusul Tsunami Jepang kemarin adalah bagian dari ketidaksiapan mental itu. Mulai dari mental pihak yang memiliki otoritas, untuk memberikan informasi yang akurat, mental dari pejabat yang abai melakukan perbuatan standar untuk mengendalikan situasi, hingga mentalitas warga itu sendiri. Akibatnya, seperti kabar yang beredar, Kota Manado mengalami macet di mana-mana.

Saripati pelajaran dari Tsunami Jepang yang lainnya terletak pada mental untuk berbuat paska bencana. Terdengar sepi di negeri ini, tentang penemuan, inovasi, atau metode untuk menghindar, mengurangi, dan penyelamatan sistematis dari bencana. Mentalitas kita adalah Gone With The Wind (semuanya lalu bersama angin).

Endi Biaro
Balaraja, Tangerang, Banten
rendi_biaro@yahoo.co.id

Bacaan Muratal anak ahmad saud

•February 7, 2011 • Leave a Comment

Berikut ini adalah beberapa bacaan Al-Quran (murotal) dari seorang qari’ yang masih anak-anak bernama Ahmad Saud. Mengingat banyak yang meminta insya Allah kami bagi lik downloadnya. Semoga bermanfaat. Barokallohu fiikum.

Surat Adh Dhuhaa [Download MP3]

Surat Al Furqan [Download MP3]

Surat Asy Syams [Download MP3]

Surat Yaasin 1-12 [Download MP3]

Surat Ar Rahman 1-15 [Download MP3]

Surat Al Ahzab [Download MP3]

Surat An Naba’ dan An Nazi’at [Download MP3]

Surat Al Muzzamil [Download MP3]

Surat At Tiin dan Al ‘Alaq [Download MP3]

Surat Qaaf [Download MP3]

Surat Ath Thuur [Download MP3]

 

رقم السورة

السورة

Link Download MP3

85

البروج

اضغط هنا للتحميل

86

الطارق

اضغط هنا للتحميل

87

الأعلى

اضغط هنا للتحميل

88

الغاشية

اضغط هنا للتحميل

89

الفجر

اضغط هنا للتحميل

90

البلد

اضغط هنا للتحميل

91

الشمس

اضغط هنا للتحميل

92

الليل

اضغط هنا للتحميل

93

الضحى

اضغط هنا للتحميل

94

الشرح

اضغط هنا للتحميل

95

التين

اضغط هنا للتحميل

96

العلق

اضغط هنا للتحميل

97

القدر

اضغط هنا للتحميل

98

البينة

اضغط هنا للتحميل

99

الزلزلة

اضغط هنا للتحميل

100

العاديات

اضغط هنا للتحميل

101

القارعة

اضغط هنا للتحميل

102

التكاثر

اضغط هنا للتحميل

103

العصر

اضغط هنا للتحميل

104

الهمزة

اضغط هنا للتحميل

105

الفيل

اضغط هنا للتحميل

106

قريش

اضغط هنا للتحميل

107

الماعون

اضغط هنا للتحميل

108

الكوثر

اضغط هنا للتحميل

109

الكافرون

اضغط هنا للتحميل

110

النصر

اضغط هنا للتحميل

111

المسد

اضغط هنا للتحميل

112

الإخلاص

اضغط هنا للتحميل

113

الفلق

اضغط هنا للتحميل

114

النّاس

اضغط هنا للتحميل

 

Surah Al Falaq

•November 26, 2010 • 2 Comments

1.    Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,

2.   Dari kejahatan makhluk-Nya,

“yaitu dari kejahatan makhluk hidup yang berakal dan yang tidak berakal; serta dari kejahatan benda mati seperti racun dan lain sebagainya.”

3.   Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,

“Diwaktu subuh, yang sinarnya menghapus kegelapan malam, seringkali muncul berbagai keburukan atau kejahatan yang mewujud dalam beragam bentuk, bisa berupa kuman, serangga, binatang, atau manusia. Ungkapan “malam telah gelap gulita” artinya malam telah sangat gelap yang biasanya mengundang banyak pencuri, penjahat, dan sebagainya.”

4.  Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

“Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.”

5.  Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

“Kita juga harus meminta perlindungan kepadaNya dari “Tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”. Sebuah rujukan tentang dunia sihir menyebutkan bahwa yang biasa dipanggil oleh para tukang sihir adalah roh-roh jahat, yang berasal dari dari setan maupun manusia. Kita harus memohon perlindungan dari kejahatan mereka. Sebagian ulama, seperti Ibn hazm dari spanyol dan para penganut mahzab Zahiriah menolak keberadaan sering yang sering dibumbui dengan mitos dan legenda rakyat. Kemudian, kita pun harus meminta perlindungan kepada Allah dari sifat hasud, yang pada gilirannya mendorong kita untuk memusuhi orang lain dan ingin melihat mereka ditimpa keburukan.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah sakit yang agak parah, sehingga datanglah kepadanya dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepalanya dan yang satu lagi duduk di sebelah kakinya. Berkatalah malaikat yang berada di sebelah kakinya kepada malaikat yang berada di sebelah kepalanya: “Apa yang engkau lihat?” Ia berkata: “Dia kena guna-guna.” “Apa guna-guna itu?” “Guna-guna itu sihir.” “Siapa yang membuat sihirnya?” Ia menjawab: “Labid bin al-A’syam Alyahudi yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di sumur keluarga Si Anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah.” Pada pagi hari Rasulullah saw. Mengutus Ammar bin Yasir dengan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu tampaklah airnya yang merah seperti pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Kedua surat ini (S.113 dan 114) turun berkenaan dengan peristiwa itu. Setiap kali Rasulullah saw. mengucapkan satu ayat terbukalah simpulnya.
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Halaílun Nubuwah dari al-Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Keterangan:
Dalam kitab Bukhari terdapat syahid (penguat hadits) yang ceritanya seperti itu, tapi tidak menyebutkan sebab turunnya dua surat itu. Dalam riwayat lain ada syahid yang ceritanya seperti itu dan menyebutkan sebab turunnya kedua surat itu.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi membuatkan makanan bagi Rasulullah saw. Setelah makan makanan itu tiba-tiba Rasulullah sakit keras sehingga shahabat-shahabatnya mengira bahwa penyakit itu timbul dari perbuatan yahudi itu. Maka turunlah Jibril membawa surat ini (S. 113 dan 114) dan membacakan ta’udz. Seketika itu juga Rasulullah keluar menemui shahabat-shahabatnya dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
(Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab al-Dalaildari Abu Jafar ar-Razi dari ar-Rabi bin Anas yang bersumber dari Anas bin Malik.)

Sumber:

  1. Tafsir Jalalain
  2. Terjemahan Depag
  3. Nahw Tafsir Mawdhu`I Li Suwar Al-Qur`an Al-Karim, Muhammad Al-Ghazali



Jadwal Imsakiyah 1431 H

•July 19, 2010 • 2 Comments

Download jadwal imsakiyah 2010 ramadhan 1431 H :
Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H – Untuk wilayah Jakarta Disini

Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H – untuk wilayah Surabaya disini

Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H – Untuk wilayah Surakarta disini
Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H – Untuk wilayah Makassar disini
Jadwal Puasa Ramadan 1431 H – Untuk wilayah Yogyakarta disini
Jadwal Puasa Imsakiyah Ramadan 1431 H – untuk wilayah Semarang disini
Jadwal Imsak Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Pekanbaru disini
Jadwal Imsak Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Palu disini
Jadwal Puasa Imsakiyah Ramadan 1431 H – untuk wilayah Malang disini
Jadwal Puasa Imsakiyah Ramadan 1431 H – untuk wilayah Bandung disini
Jadwal Imsak Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Batam disini
Jadwal Puasa Imsakiyah Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Jambi disini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 H – Untuk wilayah Palembang disini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 H – Untuk wilayah Bandar Lampung disini
Jadwal Imsakiyah Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Medan disini
Jadwal Imsak Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Purwakarta Jawa Barat disini
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1431 H – Untuk wilayah Cirebon disini
Jadwal Imsakiyah Romadlon 1431 H – Untuk wilayah Samarinda disini

Mencintai Sejantan Ali

•May 15, 2010 • 5 Comments

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,
dalam suatu riwayat dikisahkan
bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini,
bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis- an
Kisah ini disampaikan
agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah
bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi
dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba

Bagaimana keadaan iman hari ini ?

•May 11, 2010 • Leave a Comment

Hudzaifah.org – Apa kabar saudaraku? Bagaimana keadaan imanmu hari ini? Bagaimana pula kabar imanmu hari ini? Karena engkau pasti tahu bahwa yang menjadi ukuran kita selamat di Yaumil Akhir nanti adalah tingkat amal kita di dunia.

Pernahkah engkau mengingat kematian wahai saudaraku? Karena kematian menjadi kepastian; tanah menjadi tempat pembaringan; munkar dan nankir menjadi tamu; kuburan menjadi tempat tinggal; perut bumi menjadi tempat menetap; kiamat menjadi janji yang pasti; surga dan neraka menjadi tempat kembali.

Pernahkah terbersit dipikiranmu? Tatkala manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar? Pernahkah terbersit dipikiranmu wahai saudaraku, tatkala disana matahari sangat dekat di ujung kepala? Rasulullah SAW bersabda : Di hari kiamat nanti matahari akan mendekati manusia, sehingga jaraknya hanya satu mil. Manusia akan berada dalam keringatnya masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai setengah badan dan ada yang tenggelam sampai mulutnya.

Saudaraku�
Pernahkah engkau membayangkan tentang neraka? Tentang kegelapan neraka yang sangat pekat? Rasulullah bersabda : Api neraka dinyalakan seribu tahun hingga memerah, kemudian dinyalakan lagi seribu tahun hingga memutih dan dinyalakan lagi seribu tahun hingga menghitam. Dan jadilah neraka itu gelap pekat.

Saudaraku
Pernahkah engkau membayangkan tentang minuman akhli neraka? Allah berfirman dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumkannya air nanah tersebut (Q.S Ibrahim : 16). Rasulullah bersabda : Ketika didekatkan kemulutnya maka mulutnya terpanggang dan kulit kepalanya terkelupas. Dan ketika dia meminumnya, maka terputuslah ususnya sehingga minumannya keluar dari duburnya.

Saudaraku
Cukuplah cerita tadi bagi kita, karena keadaan sesungguhnya pastilah lebih mengerikan!

Maafkan aku saudaraku, karena membuat hatimu gelisah oleh cerita itu. Tapi karena kecintaanku padamu karena ALLAH SWT, maka aku ceritakan pula. Aku hanya ingin kita menjadi orang-orang yang selamat dari keburukan-keburukan itu.

Saudaraku
Yang aku harapkan hanyalah agar kita selalu waspada terhadap kematian dengan jalan perbaiki diri tentunya. Dan pada saatnya nanti, kita menjadi orang yang siap mengahadap-Nya.

Rabbana atina fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhiratihasanataw waqinaa adzaabannar (Q.S Al-Baqarah : 210)

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat; dan periharalah kami dari siksa neraka. AMIN. (Tim.Jurnalis.SKIFE-bob)

Amalan yang dianggap dosa kecil namun sangat berbahaya

•March 21, 2010 • 4 Comments

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“ (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nuur:15)

Dari Umar bin Alkhaththab رضي الله عنه, katanya: “Ketika terjadi perang Khaibar, ada sekelompok dari sahabat-sahabat Nabi صلی الله عليه وسلم datang menghadap padanya, kemudian mereka mengatakan: “Fulan itu mati syahid dan Fulan itu juga mati syahid,” sehingga akhirnya mereka menyebutkan nama seseorang lalu mereka berkata: “Fulan itupun mati syahid pula.” Lalu Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda: “Tidak sama sekali, Fulan itu saya lihat masuk dalam neraka karena sebuah baju burdah atau baju kurung yang dikhianatkannya – yakni disembunyikan dari hasil rampasan peperangan.” (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya صلی الله عليه وسلم bersabda: “Adakah engkau semua tahu, siapakah orang yang pailit – bangkrut – itu?” Para sahabat menjawab: “Orang pailit di kalangan ‘ kita ialah orang yang sudah tidak memiliki lagi sedirhampun atau sesuatu benda apapun.” Beliau صلی الله عليه وسلم lalu bersabda: “Orang pailit dari kalangan ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi kedatangannya itu dahulunya – ketika di dunia – pernah mencaci maki si Anu, mendakwa serong kepada si Anu, makan harta si Anu, mengalirkan darah si Anu – tanpa dasar kebenaran, pernah memukul si Anu. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lainpun diberi kebaikannya pula, Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan penganiayaannya,maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka.” (Riwayat Muslim)